Politik

'"Sudden Death" Parpol, Pileg atau Pilpres?

5 November 2018   02:22 Diperbarui: 5 November 2018   02:34 540 1 0

Partai politik (parpol) berada di persimpangan jalan yang sangat rumit. Pemilu 2019 menjadi laga hidup mati alias sudden death.

Bertahan berarti hidup. Tak lolos parliamentary treshold atau ambang batas parlemen, berarti mati. Minimal jadi partai gurem selama lima tahun.

Sakitnya, parpol tak bisa fokus kepada pemilu legislatif (pileg) sebagai satu-satunya arena kompetisi penetuan eksistensi. Tak bisa fokus menyelamatkan diri. Karena secara bersamaan, 17 April 2019, juga digelar pemilihan umum Presiden-Wakil Presiden (pilpres) RI.

Praktis tak banyak pilihan tersedia. (1) berbagi konsentrasi antara pilpres dan pileg, atau (2) jadikan pileg sebagai prioritas utama. Pilpres sebagai 'sambilan'.

Berkaca pada banyak hasil survei terkini, hanya dua parpol yang sangat mungkin berbagi konsentrasi secara maksimal antara pilpres dan pileg. Yakni PDI Perjuangan dan Partai Gerindra. Sebagai pengusung utama Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandi, PDI Perjuangan dan Gerindra mendapat bonus elektoral yang signifikan dari dua kontestan pilpres 2019 ini.

Selebihnya tidak. Bahkan nyaris tak mendapat bonus elektoral sama sekali dalam pilpres. So, 'ngapain' ngurus pilpres. Karena pileg adalah pertarungan yang sebenarnya.

Musababnya adalah UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu yang mengatur ambang batas parlemen naik menjadi 4% dari suara sah nasional. Bukan angka yang kecil. Karena sebagian besar parpol lama berpotensi terlempat dari Senayan. Sementara parpol baru lebih berat lagi untuk menebus DPR RI.

Hasil survei LSI Denny JA menarik untuk dipelototi. Pada survei yang dilakukan 12-19 Agustus 2018 dengan menggunakan metode multistage random sampling, melibatkan 1.200 responden dan margin of error 2,9 persen, mungkin bikin banyak parpol kecut jantung. Hasil surveinya, hanya lima parpol yang elektabilitasnya menembus parliamentary treshold.

Lima parpol tersebut yakni PDIP 24,8%, Gerindra 13,1%, Golkar 11,3%, PKB 6,7%, dan Partai Demokrat 5,2%. Selebihnya tak cukup modal elektoral untuk menembus Senayan.

Parpol yang namanya menurut hasil survei LSI Denny JA, tak mencapai parliamentary treshold adalah: PKS) 3,9%, PPP 3,2%, NasDem 2,2%, dan Perindo 1,7%. Lalu PAN 1,4%, Hanura 0,6%, PBB 0,2%, PSI 0,2%, Berkarya 0,1%, Garuda 0,1%, dan PKPI 0,1%. Terakhir undecided voter 25,2%.

Data hasil survei yang juga tak cukup menggembirakan bagi sebagian besar parpol juga dirilis lembaga Alvara Research Centre. Pengambilan data dilakukan 20-28 Juli 2018.

Dirilis Alvara, survei ini dilakukan menggunakan multistage random sampling. Melibatkan 1.142 responden, margin of error survei 2,95%, dengan tingkat kepercayaan 95%.

Merujuk Alvara, juga hanya lima parpol yang lolos ke DPR RI. Yakni PDIP 24,9%, Gerindra 15,6%, Golkar 8,8%, PKB 4,7%, dan Partai Demokrat 4,6%.

Sementara PKS hanya mencapai elektabilitas 3,2%, NasDem 2,8%, Perindo 2,1%, PPP 1,8%, PAN 1,7%, dan Hanura 0,6%. Lalu PSI 0,4%, Garuda 0,1%, dan Berkarya 0,1%.

Politik tentu tidak statis. Melainkan sangat dinamis. Satu-satunya kepastian dalam politik adalah ketidakpastian itu sendiri.

Tapi, angka-angka ilmiah yang dirilis lembaga-lembaga survei tentu juga tak layak diabaikan begitu saja. Parpol diyakini melakukan evaluasi-evaluasi untuk memastikan target di pemilu 17 April 2019 tercapai.

Bagi parpol pengusung, menang pilpres jelas sangat penting. Tapi, apakah kemenangan pilpres masih penting jika gagal di pileg dan tidak lolos ke Senayan?

Laga hidup mati parpol sepertinya adalah pileg. Pilpres jadi second priority. Terlebih bagi parpol yang sudah punya kursi di DPR RI. Jadi penonton selama lima tahun tentu serasa minum kopi campur garam. Pahit plus asin dan bikin mata susah tidur.

Ehm. 17 April 2019 adalah laga hidup mati. Selamat berkompetisi.(Muhlisin)