Analisis Pilihan

Pilpres 2019, "Maksa Milenial dan Ngotot Nyantri"

11 September 2018   00:19 Diperbarui: 11 September 2018   00:29 492 3 0

Erick Thohir telah resmi ditunjuk sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo - Ma'ruf Amin. Pengusaha muda nan tajir melintir ini menjadi 'kartu sakti' sang petahana.

Sukses sebagai komandan penyelenggara Asian Games 2018, dinilai sebagai bukti leadership Erick. Pemilik tim sepakbola Italia, Inter Milan, pun diyakini sebagai pintu masuk Jokowi-Ma'ruf ke kalangan pemilih millenial.

Dirujuk dari berbagai sumber, millenial atau Generasi Y, adalah kelompok demografis (cohort) setelah Generasi X. Yakni generasi yang lahir dalam rentang 1980an sampai 2.000an.

Dari sisi usia, Jokowi-Ma'ruf terlalu jauh dari kelompok generasi millenial. Jokowi lahir 21 Juni 1961. Sementara KH Ma'ruf tercatat lahir per 11 Maret 1943.

Faktanya, jumlah generasi millenial sebagai calon pemilih di Pilpres 2019 begitu besar. Puluhan juta orang. Tentu, sangat menentukan dalam kontestasi nasional bertajuk Pilpres 2019.

Maka, selain faktor-faktor lain, Erick Thohir pun ditunjuk menjadi Ketua TKN Jokowi-Ma'ruf. Kelahiran 30 Mei 1970, 48 tahun, dari sisi usia, Erick belum begitu jauh dari generasi millenial. Berjarak 10 tahun.

Cuma, Erick dengan segudang prestasinya, punya jurus ampuh masuk ke kalangan pemilih millenial. Sukses sebagai penyelenggara Asian Games 2019, punya banyak klub olahraga profesional, dan penampilan sahabat Sandiaga Uno yang 'cukup millenial'.

Meski demikian, karena bicara millenial adalah cerita tentang periode kelahiran. Maka, Jokowi-Ma'ruf tetap saja oleh banyak pihak terkesan 'maksa millenial'.

Sementara di kubu seberang, Prabowo Subianto - Sandiaga Salahuddin Uno, menunjuk Djoko Santoso sebagai komandan tempur. Mantan Kepala Staf Angkatan Darat dan Panglima TNI yang pasti sarat pengalaman.

Kepemimpinan pensiunan jenderal bintang empat ini jelas tak diragukan. Tapi kenapa Prabowo-Sandi tak mencari type serupa dengan Erick Thohir untuk memesona kalangan pemilih millenial?

Jawabannya ada pada diri Sandi. Lahir pada 28 Juni 1969, tak jauh beda dari Erick Thohir, Sandi diklaim sebagai representasi dari pemilih millenial.

Terlebih, Sandi juga kerap terekspose (diekspose?) sebagai sosok muda modern dan suka olahraga. Selalu tampil trendy dan 'anak muda banget'.

Ia menutupi 'kelemahan' Prabowo yang juga terlalu jauh (rentang usianya) dari kelompok millenial. Dimana mantan Danjen Kopassus ini lahir pada 17 Oktober 1951.

So, kalau Jokowi-Ma'ruf 'maksa millenial', Prabowo-Sandi sebaliknya. Tetapi pasangan ini terkesan 'ngotot nyantri'.

Kalangan santri jelas tak bisa terabaikan. Berbagai keunggulan komparatif ada di kelompok anak muda yang lekat dengan citra pondok pesantren, anak muda agamis, dan anak muda harapan bangsa.

Dalam banyak indikator, kesan santri sudah sangat kentara lekat dan dekat ke Jokowi-Ma'ruf. Bukan faktor Jokowi, melainkan faktor Ma'ruf Amin.

Beliau dikenal sebagai ulama kharismatik. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rois 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), dan lekat dengan citra masyarakat sarungan.

Ini yang tak dimiliki Prabowo-Sandi. Tapi, bukan politik namanya kalau tidak ngotot. Maka Sandi pun jadi 'dipaksa ngotot nyantri'.

"Saya kira beliau (Sandiaga) memang hidup di alam modern, tetapi beliau melewati proses spiritualisasi dan islamisasi. Sehingga saya bisa katakan saudara Sandiaga Uno sebagai sosok santri di era post-islamisme," kata Presiden PKS Sohibul Iman, Kamis (9/8/2018) di Jakarta

Sementara dari rekam pendidikannya, Sandi sama sekali tak pernah jadi santri. SD PSKD Bulungan, SMPN 12 Wijaya, SMA Pangudi Luhur, Bachelor of Business Administration, The Wichita State University, Kansas, AS. Terakhir Master of Business Administration, The George Washington Univ. Washington, AS.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2