M In am  Esha
M In am Esha

UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Ngopi dan Kontestasi Pilpres 2019

10 Agustus 2018   19:11 Diperbarui: 10 Agustus 2018   19:31 447 1 1
Ngopi dan Kontestasi Pilpres 2019
(nasional.kompas.com)

Sejak kemarin, Kamis 9 Agustus 2018, pasca diumumkan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden dalam kontestasi Pemilian Umum 2019 publik semakin gempita membicarakannya. Saat ini, perbincangan publik terkait pilpres sudah bergesar dari yang semula bersifat spekulatif.

Saat ini publik tidak lagi menebak-nebak siapa yang ada di kantong masing-masing calon presiden baik di Kubu Jokowi maupun Kubu Prabowo, karena masing-masing Partai Koalisi sudah mengumumkan siapa pasangan calon yang diusung.

Kubu Jokowi yang terdiri dari PDIP, Partai Nasdem, PKB, PPP, Partai Hanura, Partai Golkar, Partai Perindo, PKPI, dan PSI telah merilis pasangan capres dan cawapres yaitu  Joko Widodo dan K.H. Makruf Amin. Sedangkan, Kubu Prabowo yang terdiri dari Partai Gerindra, PAN, dan PKS mengusung Probowo Subianto dan Sandiaga Uno sebagai pasangan capres dan cawapresnya.

Jelas sudah siapa capres dan cawapres kita saat ini. Apa trending topik perbincangan publik di media soal akan kita lihat dalam 1-2 hari ke depan pasca pengumuman dan pendaftaran para calon di KPU.

Dalam obrolan ringan dengan beberapa kolega saat ngopi, saya mengajukan pertanyaan pendek, gimana komentar kawan-kawan terkait dengan dua pasangan calon? Kawan-kawanpun mempunyai analisis yang beragam sesuai dengan perspektif mereka. Sesuatu yang lumrah.

Dalam ilmu sosial ada agadium: "satu fakta, banyak makna". Demikianlah.  Tetapi, dari obrolan ringan itu saya bisa analisis bahwa terkait dengan ini setidaknya ada tiga pandangan.

Pertama, kaget. Munculnya nama-nama cawapres yang keluar dari kantong dua kelompok yang berkontestasi bagi kawan-kawan relatif mengejutkan. 

Maklum, dalam pandangan mereka, nama K.H. Ma'ruf Amin yang Kyai, Ketua MUI, Ketua Dewan Ekonomi Syariah Nasional, dan juga BPIP itu relatif "sepi" dari pantauan publik untuk masuk bursa cawapres dibanding nama-nama yang sudah mem-branding diri mereka dengan beragam baliho dan publikasi massif di medsos. Sampai-sampai ada meme terkait 'tagihan pembuatan baliho' yang saat ini banyak beredar di medsos.

Demikian juga dengan nama Sandiaga Uno, Cawapres Prabowo Subianto. Meskipun namanya muncul dalam survei, banyak yang 'kurang yakin' dengan Sandiaga Uno. Bukan meragukan kapabilitasnya, namun lebih karena yang bersangkutan barusan terpilih sebagai Wakil Gubernur Jakarta.  

Bukan politik kalau tidak menimbulkan spekulasi dan kejutan. Tidak heran jika Douglas Alexander dalam tulisannya mengatakan politik sebagai "the art of possible" (2015). Politik adalah seni kemungkinan. Tidak ada yang tidak mungkin dalam politik.

Politik bukan seperti rumus dalam pelajaran eksak yang serba pasti. Tetapi politik adalah sebuah realitas laksana puzzle yang harus menggunakan imajinasi-imajinasi kreatif  kita untuk merangkainya menjadi sebuah mozaik yang bisa dinikmati. Saya mengatakan "politic is the art of puzzle game". Politik adalah seni dari  permainan puzzle.  

Kedua, nothing problem. Mereka berpendapat bahwa siapapun yang mendampingi kandidat presiden tidak menjadi masalah.  Mereka lebih melihat pada sosok Calon Presidennya: Jokowi  dan Prabowo. Jadi gak masalah. Mereka ini adalah para fans Jokowi dan fans Prabowo. Kira-kira dalam bahasa iklan: "Siapapun Wakil Presidennya, Yang Penting Jokowi!"; "Siapapun Wakil Presidennya, Yang Penting Prabowo".  

Politik memang lekat dengan fanatisme. Berapa banyak dalam realitas kehidupan kita ini masyarakat sangat fanatik dengan sosok "pemimpin" tertentu. Soekarno, misalnya. Betapa fans-fans Soekarno sampai saat ini masih kita rasakan.

Demikian juga dengan Gus Dur. Betapa banyak Gus Durian yang bertumbuhan di Indonesia.  Saya kira hal ini bukan sesuatu yang aneh dan khas Indonesia, tetapi semua bangsa-bangsa di dunia juga mengalami hal yang sama. No fans, No Politik. Kira-kira begitu.

Fanatik (fanatic; Inggris) berasal dari bahasa Latin fanaticus, merupakan derivasi dari kata fanum yang artinya tempat persembahan, candi, dan sejenisnya.  Fanatik bisa dikatakan sebagai bentuk sikap manusia yang "rasa" memilikinya sedemikian tinggi atau mendalam.

Fanatik melibatkan perasaan: "keimanan" atau "kepercayaan".  Tidak heran  jika sikap fanatik, seringkali melampaui batas-batas 'pikiran'. Namanya juga "rasa" yang bisa merasakan itu adalah hati. Dan, hati itu itu seringkali ukurannya "melampaui" hal-hal yang sifatnya rasional.

Ketiga,  EGP alias emang gue pikirin. Mereka ini kelompok yang berpendapat bahwa ndak masalah siapapun Capres dan Cawapresnya. "Sing penting bisnisku lancar. Titik!".  Mereka ini bisa dikatakan sebagai kelompok orang yang a-politic.

Artinya, tidak begitu pusing dengan tetek bengek politik. Ia hanya ingin agar siapapun Presiden dan Wakil Presidennya yang menang nanti, apakah dari Kubu Jokowi-K.H. Ma'ruf Amin  atau Kubu Probowo-Sandiaga Uno, Indonesia terus maju menjadi bangsa yang adil dan makmur. Dan, utamanya hidup rakyat dan pebisnis tidak susah!

Orang-orang  semacam ini biasanya akan lebih "rasional" dalam ukuran-ukuran pragmatis. Mereka akan mencermati visi, misi, dan program kerja para kandidat. Meskipun menurut mereka, rasionalitas ketercapaian visi, misi, dan program masih menjadi pertimbangan untuk menentukan pilihan.

Bagi mereka, untuk memilih salah satu calon perlu dicermati dulu visibilitasnya.  Meskipun, akhirnya mereka kadang-kadang memiliki  untuk tidak memilih alias golput.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2