Mohon tunggu...
Muhimmatul Ulya
Muhimmatul Ulya Mohon Tunggu... Tutor - Ibu guru, ibu 1 anak, dan penikmat puisi

Menulis adalah merenda impian menjadi kenyataan..

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Rahasia Ayah

17 November 2022   13:15 Diperbarui: 17 November 2022   13:26 124
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Namaku Raina. Orang bilang karena kelahiranku diiringi alunan hujan rintik-rintik. Ada juga yang bilang kalau namaku berkaitan dengan banjir yang beberapa tahun lalu menjadi tragedi terbesar di kotaku. Entahlah bagaimana kebenaran asal-usulku. Yang jelas, setiap kali aku tanyakan pada Ayah, dia hanya menjawab aku diberi nama Raina karena ibuku menyukai hujan.

Ayahku sendiri bukanlah orang yang banyak bicara. Dia jarang sekali bercerita tentang ibu. Dimatanya yang mulai layu, samar-samar kulihat senandung kesedihan. Kadang aku merasa bahwa ada duka yang coba ia simpan dalam-dalam. Ayahku memang bukanlah ayah yang sempurna, tapi aku tahu dia selalu berusaha menjadi ayah yang baik. Setiap pagi, di sela-sela kesibukannya mencuci pakaian-menyiapkan sarapan kami berdua-dan seabrek pekerjaan rumah tangga lainnya, dia masih menyempatkan diri untuk mengantarkanku ke sekolah. Memilihkan bangku terdepan agar aku dekat dengan bu guru. Dia selalu memastikan bahwa aku tidak kurang perhatian.

"Bu, saya nitip Raina nggeh", aku masih ingat dengan jelas setiap kata yang ayah ucapkan setiap kali aku berada di tempat yang baru. Pun, ketika hari Minggu tiba. Seperti anak-anak yang lainnya, ayah selalu mengajakku ke taman kota. Untuk sekedar bermain jungkat-jungkit atau ayunan. Aku sangat senang. Tapi bagaimanapun, tetap ada sejengkal bagian dari hatiku yang masih terasa kosong. Yang hanya bisa dilengkapi dengan kehadiran.. ibu...

Kata orang-orang, ibu meninggal karena keegoisan ayah. Cerita yang aku dengar ketika diriku mulai beranjak dewasa adalah ayahku yang tega membiarkan ibu mengorbankan dirinya untuk selamat dari banjir. Entah sejak kapan benih-benih kebencian mulai menjalar memenuhi kalbuku. Cerita orang-orang itu sering membayangi malam-malamku. Kadang berubah menjadi mimpi buruk yang sangat menakutkan.

Aku mulai jarang bertegur sapa dengan ayah. Aku tak mau lagi diajak ke taman atau ke manapun. Perasaan kecewa itu dengan sekejab merubah diriku menjadi orang asing dan mengasingkan ayahku sendiri.

Perjalanan hidup bagaikan bola-bola waktu yang berjalan begitu cepat. 20 tahun telah berlalu. Dan aku kembali lagi ke rumah ini setelah beberapa tahun mengambil kuliah di luar kota. Entah mengapa, lemari usang itu tiba-tiba menyita perhatianku. Lemari itu seperti memiliki magnet tersendiri yang menarikku untuk segera membukanya dan menemukan sesuatu di sana. Kususuri tiap helai pakaian ibu dan kutemukan diary usang milik ayah. Di dalamnya, ada foto kami bertiga. Aku dalam gendongan Ayah-Ibu yang sedang tersenyum menghadap kamera. Di lembar berikutnya...

Arini, bagaimana kabarmu?

Rin... aku sangat merindukanmu. Raina sekarang sudah tumbuh dewasa. Dia menjadi wanita yang cantik sepertimu. Apa kau tahu Rin, waktu berjalan begitu lambat. Setiap detik yang kulalui tanpa dirimu adalah kepedihan tak terelakan. Sampai saat ini masih kuingat dengan jelas ketika banjir bandang itu membawamu pergi jauh dariku. Desa kita tenggelam ketika air setinggi pundak manusia dengan tiba-tiba menerjang kota kita. Dan sampan yang kita tumpangi, yang ku buat dan kurakit dari tanganku sendiri, mengalami ketidakseimbangan fungsi. Hanya salah satu dari kita yang bisa menumpanginya. Aku sudah akan melompat ketika tanganmu tiba-tiba saja menahanku.

"Berjanjilah kau akan menjaga Raina. Mas, kamu bisa hidup lebih lama dariku. Jika kau memngorbankan diri, aku tidak yakin bisa menjaga Raina. Kematian bisa menjemputku kapan saja karena leukimia yang kuderita. Jadi, kaulah yang harus hidup. Sampaikan rasa sayang dan cintaku untuknya." 

Kau mengecup Raina sebelum kau menceburkan diri. Tanpa aba-aba. Tanpa menunggu jawabanku. 

Kini 20 tahun telah berlalu. Zaman telah berubah, tapi kenanganmu masih tetap bersamaku...

Buku diary ayah telah basah dengan air mata. Aku berlari sekencang-kencangnya menuju gundukan tanah yang masih basah... Ayah...

Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun