Mohon tunggu...
Muh Haris
Muh Haris Mohon Tunggu... Profilku

Hobi membaca, suka mengkhayal, dan penikmat sastra. Bercita-cita menjadi guru, karena ingin berbagi ilmu. Blog pribadi: siswaloka.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ketika Nusantara Menjadi Negara Pemuja Stadium 4

17 September 2019   07:34 Diperbarui: 17 September 2019   07:51 0 8 2 Mohon Tunggu...
Ketika Nusantara Menjadi Negara Pemuja Stadium 4
ilustrasi (gambar dari boombastis.com)

Sejak persentuhan budaya dengan India dan Cina, Nusantara akhirnya memasuki masa aksara. Berbagai kerajaan bermunculan di pelosok negeri, agama Hindu-Buddha menyebar, dan budaya menulis berkembang secara pesat.

Kala itu, budaya dari India maupun Cina telah mewarnai setiap sendi kehidupan. Akulturasi kebudayaan yang begitu indah, apik, dan menawan. Melahirkan karya fenomenal yang membanggakan dan mengundang decak kagum.

Sebut saja Candi Borobudur yang merupakan candi Buddha terbesar, bahkan pernah menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia, bersanding dengan Tembok Besar Cina, Taj Mahal India, serta karya peradaban lainnya yang sering kali kita "sanjung-sanjung."

Selain candi, kita juga punya berbagai aksara yang tersebar di berbagai penjuru. Di pulau emas & perak, ada aksara Batak dan aksara Rencong. Menyeberang ke pulau padi, ada aksara Sunda, Jawa, dan Bali. Tiba di pulau besi, ada aksara lontara, serta aksara-aksara lainnya yang belum disebutkan. Dengan kekhasan masing-masing, aksara-aksara tersebut tak kalah indah dengan aksara bangsa lain yang acap kali kita "istimewakan."

Di masa tersebut, meski banyak kebudayaan India maupun Cina yang diserap. Namun, bangsa ini masih bertumpu pada identitas masing-masing. Rasa kebanggan masih kuat menyala, sampai-sampai banyaknya kerajaan yang runtuh akibat perasaan ingin menguasai dengan berkedok "penyebaran agama."

Memasuki masa Islamilasi, giliran budaya bercorak Islam memainkan pengaruhnya dalam ranah kehidupan. Agama Hindu-Buddha yang tadinya dianut, perlahan tapi pasti dilepaskan. Satu persatu kesultanan berdiri dengan kokoh. Tak ketinggalan aksara Arab (hijaiah) menjadi aksara yang cukup penting untuk dipelajari, mengingat Al-Qur'an beraksara demikian.

Meski telah memeluk agama Islam, identitas tak pudar, tak pernah sekalipun bangsa ini mengaku menjadi "Arab." Sekali lahir di Nusantara, tetap menjadi penduduk Nusantara yang unik dan berbudaya.

Begitu pula di masa penjajahan, sekeras apapun kebijakan penjajah Jepang yang berusaha "menjepangkan" jajahannya, tetap saja tak akan bisa. Sebab bangsa ini bukanlah bangsa Jepang dengan budayanya membungkukkan badan ataukah melakukan seikerei. Tidak juga menggunakan tahun jepang (showa), apalagi sampai merayakan hari lahirnya kaisar (tencosestu).

Ketika berita kekalahan Negeri Matahari Terbit terdengar, para pendiri bangsa tak membuang kesempatan, mereka golongan muda ingin segera memproklamasikan kemerdekaan dengan impian membangun "Bangsa Besar yang Beradab & Merdeka." Tak peduli golongan tua beda pendapat, jelasnya kemerdekaan mesti berkumandang. Sampai pada akhirnya, dari segala penjuru, mulai dari Sumatra sampai ujung timur Papua, menyatakan bergabung ke dalam NKRI.

Namun jika melihat kondisi yang ada sekarang, tetasan darah & air mata para pendahulu bangsa, para pejuang yang lahir dari keragaman seakan tak lagi berarti. Pengorbanan tak ternilai, jiwa raga yang dikorbankan seakan sirna tatkala menyaksikan generasi mudanya tak lagi mengenal negerinya, tak lagi paham susahnya menegakkan kalimat "Merdeka," dan yang paling memilukan adalah menjadi "pemuja" disebabkan "kehilangan identitas."

Kita lihat, para pelajar dengan antusiasnya menyanyikan lagu-lagu asing, bahkan mereka tak segan untuk berteriak. Namun, ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya, suaranya bak ditelan bumi, bahkan mungkin lebih kecil ketimbang suara kentut. Gayanya kebarat-baratan, rambutnya dipirangkan, sambil berdansa tidak karuan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2