Mohon tunggu...
Muh Haris
Muh Haris Mohon Tunggu... Profilku

Hobi membaca, suka mengkhayal, dan penikmat sastra. Bercita-cita menjadi guru, karena ingin berbagi ilmu. Blog pribadi: siswaloka.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

"Tidak Usah Sekolah, toh Akhirnya Jadi Petani Juga" serta Sederet Masalah Krusial Lainnya

19 Juli 2019   12:33 Diperbarui: 19 Juli 2019   12:45 0 3 0 Mohon Tunggu...
"Tidak Usah Sekolah, toh Akhirnya Jadi Petani Juga" serta Sederet Masalah Krusial Lainnya
Ilustrasi anak petani (gambar dari duniabelajaranak.id)

Di sebuah tempat yang entah di mana, dan entah siapa (identitas spesifik) yang melakukannya, terjadilah sebuah perbincangan. Perbincangan hangat mengenai pandangan mereka tentang pendidikan, mungkin tak semuanya relevan dengan masa sekarang, namun di masa lalu mungkin saja terjadi. Mungkin tak bersesuaian dengan mereka yang hidup di kota, tetapi mungkin saja terjadi di desa terpencil 'kan? Penasaran dengan pandangan mereka? Yuk simak dengan seksama!

Siang itu, terik matahari rasanya membakar sekujur tubuh, seorang petani yang setiap hari bekerja di sawah itu menepi ke pematang sambil menggerutu. "Malangnya nasibku, tiap hari bersimbah keringat cuma secuil yang kudapat."

Petani yang tampak sangat lelah itu segera merebahkan badannya. Terucaplah sebuah kata-kata yang bahkan membuat jangkrik-jangkrik berhenti untuk berbunyi dan rumput berhenti bergoyang. "Kagak ada gunanya pendidikan, sekolahin anak tinggi-tinggi itu buang-buang biaya, toh nanti mereka akan jadi petani kayak bapaknya. Mau diapakan ini sawah kalau kagak diolah, memangnya mau makan buku dan pulpen. Kalau orang-orang pada sekolah, yang jadi petani itu siapa? Memangnya negara ini akan tetap ada kalau tak ada petani."

Sementara di lautan yang biru, tampak seorang nelayan mengangguk-angguk, kelihatannya dia setuju perkataan dari sang petani. Sambil menebar jala, di pun mulai menimpali. "Betul Pet (panggilan untuk petani), tak ada lah gunanya sekolah. Kalau semua orang sekolah, tak ada lah yang mau jadi nelayan, kalau tak ada yang mau jadi nelayan, bisa-bisa negara ini kurang gizi. Orang harus sadar, ketahanan pangan ada pada kita Pet, percuma saja pemerintah ngomong soal ketahanan pangan kalau ujung-ujungnya tak ada yang jadi petani dan nelayan."

"Yoii Bro, benar apa yang lu katakan," sambung penenun yang sedari tadi dengan seksama mendengarkan celotehan nelayan. Penenun yang gatal ingin mengeluarkan unek-uneknya pun segera meluapkannya. "Sama Bro, gue juga begitu. Gue sedih banget, enggak ada lagi yang mau jadi penenun, orang-orang pada anggap kalau pekerjaan penenun itu murahan, dan enggak bisa bikin kaya. Lah memang pekerjaan jadi penenun itu enggak bikin kaya, tetapi melihat orang-orang pakai kain tenun hasil jerih payah kita bikin kaya hati, serius ini mah, kagak bercanda. Sekarang mah hanya generasi tua saja yang mau beginian, generasi muda pada enggak mau."

"lu sih mendingan cuma menenun, lah gue harus sekop pasir, mengaduk semen, angkat batu bata, sampai naik ke bangunan lantai tertinggi hanya berlandaskan bambu, ngeri 'kan? Di saat orang-orang pada meributkan perkara ibu kota, gue tuh ada di baris terdepan, lah kan gue yang bangun. Pasti lu sudah tahulah gue siapa, iya gue tukang bangunan. Masalah kalau gue tukang bangunan? Ingat, yang bangun gedung yang menjulang tinggi itu siapa? Yang jadi buruh kasar di proyek-proyek pembangunan itu siapa? Yang bangun itu perumahan di kota-kota siapa? Pasti salah satunya adalah tukang bangunan atau buruh bangunan. Bayangin saja kalau orang-orang pada sekolah, terus siapa yang nanti akan jadi tukang bangunan atau buruh bangunan? Memangnya kayak film sinetron yang cuma bilang "Abrakadabra" maka jadilah, mikir dong?

Perbincangan itu pun semakin meluas, menjalar ke tukang ojek pengkolan sampai ke tukang bakso keliling (waduh, enaknya lagi baksonya, bikin ngiler).

Di tengah perbincangan hangat dan bikin gaduh itu, terdengarlah sebuah suara yang entah dari mana asalnya. "Tenang semuanya! Jangan gaduh, jangan resah, jangan khawatir semuanya akan ada solusinya, oiii Jengkol (Ojek Pengkolan) perhatiin apa yang saya bicarakan, jangan kamu sibuk saja sama Sokel (Bakso Keliling)"

"Maaf kali, pakai urat amat" ucap Jengkol dengan Sokel barengan.

"Saya lanjut ya, tidak usah gaduh apalagi ribut perkara pendidikan. Kalian bicara seperti itu karena belum tahu saja dampak dari pendidikan yang luar biasa hebatnya. Kalian belum memahami secara benar makna di balik pendidikan dan dampaknya dalam kehidupan. Makanya sesekali keluarlah jalan-jalan, supaya pandangan kalian bisa bertambah luas."

"Bagaimana kami bisa jalan-jalan, untuk makan saja kami susah" kata Pet yang tampak berkaca-kaca.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3