Mohon tunggu...
Muharningsih
Muharningsih Mohon Tunggu... Guru - Pengurus IGI Kab. Gresik-Pengurus KOMNASDIK KAB. Gresik-Editor Jurnal Pendidikan WAHIDIN

Linguistik-Penelitian-Sastra-Pendidikan

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Analisis Etiket Kesantunan Imperaktif dalam Interaksi Interpersonal Warga Desa Lumpur Kabupaten Gresik

14 Desember 2022   20:35 Diperbarui: 14 Desember 2022   20:50 212
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Assalamualaikum, Wr. Wb. 

Pada kesampatan kali ini, saya akan mendeskripsikan tentang adanya penggunaan etiket kesantunan linguistik tuturan imperatif dalam interaksi interpersonal warga Desa Lumpur Kabupaten Gresik. Pada prinsipnya manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang perlu berinteraksi dengan sesama manusia untuk mencapai komunikasi yang baik. 

Bahasa merupakan salah satu wujud yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Salah satu milik manusia adalah bahasa selalu muncul dari berbagai kegiatan manusia. Tidak ada kegiatan manusia yang tidak disertai dengan bahasa. Menurut Abdul Chair & Leonie Agustina (2004) menyatakan bahwa pada buku "Sosiolinguistik Perkenalan Awal" (hlm. 21) bahwa bahasa adalah alat komunikasi dan alat interaksi yang hanya dimiliki oleh manusia. 

Hal ini tampak dari prilaku verbal maupun prilaku non verbal, prilaku verbal dalam fungsi imperatif misal terlihat pada mitra tutur dalam mengungkapkan etiket perintah, larangan atau keharusan kepada mitra tutur. Sedangkan prilaku non verbal terlihat dari etiket gerak-gerik yang menyertainya. Hal ini sering sekali terlihat dari beberapa warga di Desa Lumpur Kabupaten Gresik yang berkata tidak sopan terhadap sesamanya sehingga terjadi etiket ketidaksantunan dalam berinteraksi. 

Etiket kesantunan berbahasa dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya: adanya suatu perbedaan usia, perbedaan pendidikan, perbedaan ekonomi, perbedaan wawasan ilmu pengetahuan. Berdasarkan perbedaan tersebut maka seseorang haruslah memperhatikan penggunaan bahasa dalam berinteraksi. Dikarenakan setiap masyarakat dalam lingkungannya memiliki berbagai latar belakang kemampuan berbahasa yang berbeda. Hal ini terjadi pada warga Desa Lumpur Kabupaten Gresik. 

Salah satu adanya aspek teori etiket kesantunan berbahasa, Brown mengungkapkan bahwa derajat etiket kesantunan berdasarkan nosi muka. Muka diartikan sebagai keadaan emosional atau citra diri setiap orang yang tidak boleh dipermalukan. Hal ini juga sejalan dengan pemikiran Saragih (dalam Rahardi: 2005) menyatakan bahwa etiket kesantunan adalah situasi dalam interaksi yang di dalamnya pembicara menyadari muka (face) atau mitra bicaranya. 

Tindak Tutur Imperatif: Alisjahbana (dalam buku Kunjana Rahardi, 2005: 19) mengartikan kalimat perintah sebagai ucapan yang isinya yaitu merupakan kalimat memerintah, mengikuti, melaksanakan, memaksa, menyuruh, mengajak, bahkan meminta agar orang yang diperintah itu melakukan apa yang dimaksudkan di dalam perintah. Bedasarkan maknanya sendiri, yang dimaksud dengan memerintah adalah memberitahukan kepada mitra tutur bahwa si penutur menghendaki orang yang diajak bertutur itu melakukan apa yang diberitahukannya. 

Pada pembahasan ini akan dijelaskan permasalahan mengenai penggunaan etiket kesantunan linguistik tuturan imperatif dalam interaksi interpersonal warga Desa Lumpur Kabupaten Gresik mulai dari ungkapan penanda etiket kesantunan dan peringkat suatu penanda etiket kesantunannya. 

a) Panjang pendek etiket tuturan

Konteks panjang pendek tuturan yang digunakan dalam menyampaikan maksud etiket kesantunan penutur itu dapat diidentifikasi dengan sangat jelas. Secara umum, dapat dikatakan bahwa semakin panjang tuturan yang digunakan, akan santunlah etiket tuturan tersebut. Tetapi sebaliknya semakin pendek sabuah etiket tuturan, maka akan cenderung menjadi tidak santunlah etiket tuturan tersebut. Orang yang tidak menggunakan unsur basa-basi dalam etiket bertutur dikatakan sebagai orang yang tidak mengetahui sopan santun. Orang yang banyak menggunakan unsur basa-basi dikatakan sebagai orang santun.

b) Urutan etiket tuturan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun