Mohon tunggu...
Muhammad Yusuf Ansori
Muhammad Yusuf Ansori Mohon Tunggu... Petani - Mari berkontribusi untuk negeri.

Bertani, Beternak, Menulis dan Menggambar Menjadi Keseharian

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Berdialog dengan Lingkungan sebagai Cara Belajar Termurah

28 Juni 2022   06:55 Diperbarui: 28 Juni 2022   07:10 248
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Seekor burung Cekakak Jawa yang hinggap di pohon jambu dekat rumah (Dokpri)


Saya baru "menemukan" cara belajar yang sesuai dengan kebutuhan. Sebagai orang desa yang memiliki kebutuhan berbeda dengan orang kota, saya harus mencari cara bagaimana menemukan pengetahuan yang cocok.

Mungkin Anda sepakat dengan saya jika pengetahuan yang kita peroleh sering sekedar "bahan impor" yang diterima tanpa proses penyaringan. Tanpa pernah terpikirkan jika kita pun sanggup "mengekspor" pengetahuan. Hanya saja, kebiasaan terima jadi tanpa proses memilah sudah menjadi kebiasaan yang "dibiasakan".

Kata orang, internet menyediakan segalanya. Apa yang ingin diketahui, maka tinggal menekan tombol "cari" di Google. Padahal, mesin pencari pun memiliki keterbatasan dalam hal apa yang tidak "terindera" olehnya. Justru internet masih "belajar" dari manusia yang terus mengunggah data secara gratis ke penyimpanan awan.

Menilik hal demikian, ternyata seharusnya kita pun meniru cara internet belajar yakni mengumpulkan data dari sekitar kita. Indera manusia digunakan untuk mengumpulkan data. Dan, otak berfungsi mengolah data itu.

Pasalnya, otak kita tidak dibiasakan untuk mengolah data. Kita lebih suka menghafal data tanpa tahu untuk apa data itu dan dimana digunakannya.

***

Berdasarkan pengalaman, kegiatan mengolah data itu mesti didasari dengan sebuah pertanyaan "untuk apa?" Dan, sedikit mengabaikan "kenapa?"

Dari sekian banyak yang kita perhatikan, angin berhembus, awan berarak, burung bernyanyi dan sebagainya; semuanya hanya fenomena biasa. Rasa ingin tahu manusia yang sedikit tidak mendorong untuk mengetahui lebih lanjut "kenapa" itu terjadi.

Jadi, abaikan saja pertanyaan "kenapa" itu. Biarkan ilmuwan yang menjawabnya lebih rinci. Fokus pada pertanyaan "untuk apa"  fenomena itu ada di hadapan kita.

Setiap individu memiliki kepentingan berbeda. Jika petani pasti ingin tahu untuk apa ada burung beterbangan di areal pesawahan. Sedangkan seorang fotografer sudah tahu jika burung hanya menjadi objek foto. Bagi petani, apakah sekedar untuk dipotret?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun