Mohon tunggu...
Muhammad Yusuf Ansori
Muhammad Yusuf Ansori Mohon Tunggu... Petani - Mari berkontribusi untuk negeri.

Bertani, Beternak, Menulis dan Menggambar Menjadi Keseharian

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Apa Agenda Perubahan Budaya ala Nadiem Makarim?

16 Desember 2019   05:35 Diperbarui: 16 Desember 2019   05:45 91
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Terlihat nyata, perubahan itu ada. Cara kita bertransportasi, memilih acara TV hingga memilih menteri ada pengaruh dari seorang Nadiem Makarim.

Filosofi Perubahan Ala Nadiem Makarim

Ketika dunia hiburan dalam negeri terinspirasi dari ojek online maka ada tokoh yang layak dibicarakan. Mata kita tertuju pada sosok muda bernama Nadiem Makarim.

Sinetron pun setidaknya ada 3 judul yang berlatar ojek online, OK Jek di Net TV dan Gober serta Ojolali di RCTI. Belum lagi komik yang menceritakan keseharian tukang ojek online.

Saya berikan contoh dari dunia hiburan, karena kebiasaan baru orang Indonesia terutama ibu kota memang layak dijadikan bahan pembicaraan dan bahan 'lawakan'. Kita menjadi saksi betapa hal ini baru di negeri ini dan mendapatkan pengaruh baik.

Nah, jika Mas Menteri Nadiem berusaha melakukan perubahan cukup "radikal" dalam sistem pendidikan kita kali ini maka layak mendapat dukungan. Daripada ribut tentang efek negatifnya, mending fokus saja pada efek positifnya. Memang, perubahan itu selalu menuai kritikan dari sana-sini tetapi kita harus menyadari bahwa tidak ada yang abadi. Hal yang abadi ialah perubahan itu sendiri.

Tulisan ini memfokuskan pada bagaimana perubahan yang dibawa Nadiem memang layak diapresiasi dan semoga mendapatkan hasil. Saya tidak sanggup menilai apakah perubahan pola pendidikan itu akan menuai hasil atau malah berantakan di tengah jalan.

Saya tidak bisa terlalu dalam berbicara hal teknis tentang perubahan yang ingin dicapai. Tetapi, saya hanya mengingatkan jika perubahan _apa pun bentuknya_ yang sedang digalakan Mas Menteri punya pijakan pemikiran yang logis. Kalau logika kita belum sanggup memahami, anggaplah jika pijakannya masih bersifat filosofis.

Pijakan yang filosofis bukan untuk terus diperdebatkan. Tapi dilaksanakan.

Seperti membicarakan mana yang baik, komunisme atau kapitalisme. Sangat filosofis. Tetapi, kita sepakat untuk menolak komunisme. Hasilnya? Silakan rasakan sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun