Mohon tunggu...
M Yusrizal
M Yusrizal Mohon Tunggu... Guru - Baguskan niat, kita akan selamat

M Yusrizal, ia lelaki yang dilahirkan di tepian rimba Sumatra, pedalaman Aceh. 'Abuzal' merupakan nama sapaan yang melekat untuknya. Masa kecil hingga remaja Abuzal habiskan dengan petualangan pedesaan, maklum ia dilahirkan dari keluarga petani. Tumbuh di kawasan dingin dan teduh telah melatih kepekaan Abuzal dalam berbagai bidang. Maka tak heran jiwa sastranya tumbuh 'lumayan' subur dibarengi dengan kegemarannya dalam berseni. Tak hanya itu, Abuzal juga peka terhadap pelestarian alam. Ia pernah bekerja sebagai jurnalis pada salah satu media lokal di Aceh, dan wara-wiri masuk-keluar hutan-kota melakukan liputan pers. Kini ia memilih jalan menjadi seorang pendidik di salah satu SMAN Kota Banda Aceh.

Selanjutnya

Tutup

Indonesia Lestari Pilihan

Mangrove, Solusi Menyelamatkan Bumi

31 Juli 2022   13:09 Diperbarui: 31 Juli 2022   13:10 200 6 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Mangrove Forest Park Langsa di Kota Langsa, Aceh. (Dok. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif)

Semakin hari bumi tidak semakin baik-baik saja. Suhu rata-rata global permukaan bumi meningkat 1,2 derajat celsius sejak revolusi industri. Studi terbaru menyebut suhu bumi tahunan diperkirakan naik 1,5 derajat celsius selama 5 tahun ke depan. Merujuk pada analisis Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyebut, suhu permukaan global akan meningkat 1,1 hingga 6,4 derajat celsius antara tahun 1990 hingga 2100.

Tragisnya, pada tahun 2050 diperkirakan permukaan laut akan naik drastis yang menyebabkan terjadinya badai ekstrim, banjir dan gelombang pasang akan memporak-porandakan kota-kota pesisir. Kairo, Alexandria, Shanghai, Mumbai, Bangkok, juga Jakarta sebagai kota pesisir padat penduduk diprediksi akan tenggelam.

Populasi dunia diperkirakan meningkat 9 miliar jiwa—2017 sebanyak 7,6 miliar jiwa, 2030 sebanyak 8,3 miliar jiwa, dan 2050 sebanyak 9,8 miliar jiwa. Nahasnya, miliaran manusia tersebut harus berhadapan dengan suhu bumi yang bisa mencapai 60 derajat celsius, pada suhu tersebut tubuh manusia bisa bertahan tak lebih dari 6 jam.

Pandemic dengan berbagai varian bergentayangan mengancam nyawa, hal ini dipicu oleh perubahan suhu, banjir, urbanisasi, serta pergerakan manusia ke berbagai wilayah dunia. World Health Organization (WHO) juga telah menyebut perubahan iklim merupakan ancaman terbesar kesehatan di abad ke 21.

Menyikapi hal tersebut, Presidensi Group of 20 (G20) Indonesia 2022 di Bali menawarkan tiga langkah konkrit untuk bersama-sama menyelamatkan bumi. Pertama, Energy Accessibility, akses energi yang terjangkau, berkelanjutan, dapat dijangkau, dan dapat diandalkan untuk semua. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kerjasama internasional dalam memfasilitasi akses ke penelitian dan teknologi energi bersih termasuk energi terbarukan, efisiensi energi dan teknologi bahan bakar fosil yang maju serta lebih bersih.

Kedua, Smart and Clean Energy Technology, yaitu untuk mendorong implementasi energi pintar dan bersih, baik dalam konteks efisiensi energi, pengurangan emisi, maupun pengembangan energi terbarukan.

Ketiga, Advancing Energy Financing, adalah pembiayaan yang perlu dilakukan untuk terwujudnya poin pertama dan kedua. Skema serta mekanisme pembiayaan perlu dikembangkan melalui kolaborasi semua pihak, baik itu pemerintah, dan swasta. Dalam hal ini filantropi juga bisa berperan banyak lewat model bisnis atau Public Private Partnership (PPP) yang inovatif.

Isu-isu penyelamatan bumi yang diangkat dalam G20 Indonesia 2022 memiliki tingkat urgensi yang tinggi, sehingga diperlukan tindakan segera dengan semangat kolaborasi dalam upaya transisi energi mulai dari sekarang. Bukankah heatwave (gelombang panas) yang kini sedang melanda Eropa dan telah merenggut 1.700-an nyawa adalah pertanda petaka yang diprediksi sesuai kajian ilmiah akan segera tiba jika tanpa sama-sama bumi kita jaga? Tercatat, heatwave yang terjadi tahun ini adalah suhu terpanas dalam sejarah, lantas bagaimana dengan suhu bumi 10, 20, 30 bahkan 100 tahun kedepan?

Mangrove dan sejuta penawar untuk bumi

Gudang penyimpanan karbon terbesar di muka bumi berada pada kawasan ekosistem karbon biru pesisir. Jika dibandingkan dengan ekosistem daratan manapun—termasuk hutan boreal dan tropis—ekosistem karbon biru pesisir disinyalir mampu menangkap serta menyimpan kelebihan karbon di atmosfer dengan serapan 20 kali lebih besar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Indonesia Lestari Selengkapnya
Lihat Indonesia Lestari Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan