Muhammad Sulthon
Muhammad Sulthon

Muhammmad Sulthon Energy Savvy

Selanjutnya

Tutup

Energi

Energi Hijau, Masa Depan Pulau Flores

24 Desember 2017   20:10 Diperbarui: 24 Desember 2017   20:12 1141 1 2
Energi Hijau, Masa Depan Pulau Flores
Data Grafis

Pulau Flores adalah salah satu pulau dalam gugusan Kepulauan Sunda Kecil dengan luas wilayah sekitar 14.300 km persegi. Pada 2010, jumlah penduduk pulau Flores tercatat lebih dari 1,8 juta jiwa. Dengan potensi sumber daya yang memadai, pulau Flores sedang mempersiapkan diri untuk sebagai salah satu pulau pemekaran di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Untuk itu, kesiapan sistem kelistrikan menjadi salah satu kunci keberhasilan rencana pengembangan tersebut.

Sistem kelistrikan Pulau Flores merupakan sistem kecil dengan pembangkit utamanya saat ini berjenis Pembangkit Listrik Tenaga Diesel, dengan kapasitas 86,4 MW. Potensi energi geotermal dari pulau ini mencapai 800 MW dari 2900 MW potensi energi geothermal keseluruhan di Indonesia. Hal ini menyebabkan Pulau Flores ditetapkan sebagai Pulau Panas Bumi oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan pada (19/7/2017) lalu, dengan harapan potensi panas bumi ini dapat teroptimalkan sebagai sumber energi listrik utama pada tahun 2025 di pulau ini. Berdasarkan RUPTL, pada tahun 2025, direncanakan akan dibangkitkan 90 MW PLTP, 70 MW PLTMG, 16,7 MW PLTA dan 1,4 MW PLTM. 

Setelah diproyeksikan pada tahun 2025, biaya emisi CO2 yang harus dibayarkan diperkirakan mencapai 15,1 milyar, annual costmencapai 8,9 Triliun. Biaya ini tentunya menjadi masalah yang harus diselesaikan. Sebenarnya, Pulau Flores juga memiliki potensi energi terbarukan lain yang menjanjikan seperti energi angina dan tenaga surya. Pulau Flores memiliki kecepatan angin di atas 5 meter per detik pada ketinggian 50 meter. Kemudian, kawasan timur Indonesia juga berpotensi dalam penyinaran matahari untuk PLTS sebesar 5,1 kWh/m2/hari. 

Pulau Flores juga sangat dekat dengan Kupang, dimana terdapat PLTS terbesar se-Indonesia. Untuk mengurangi biaya emisi CO2, maka potensi angin dan tenaga surya ini dapat menggantikan pembangkit yang berkontribusi pada emisi CO2. Dengan membangkitkan PLTB 10 MW dan PLTS 3 MW untuk menggantikan beberapa pembangkit yang berkontribusi pada CO2, biaya emisi CO2 dapat berkurang dari 15,1 milyar menjadi 12,9 milyar, dengan annual costyang naik menjadi 0,4 milyar. Hal ini dapat menjadi solusi untuk mereduksi biaya pemenuhan kebutuhan listrik di Pulau Flores.