Mohon tunggu...
muhammad sadji
muhammad sadji Mohon Tunggu... Lainnya - pensiunan yang selalu ingin aktif berliterasi

menulis untuk tetap mengasah otak

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

RW (Rukun Warga) sebagai Miniatur Wajah NKRI

1 September 2022   22:27 Diperbarui: 1 September 2022   22:29 137 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Murid Paud Mawar Melati Jatikramat Indah I foto bersama Lurah Jatikramat, Camat Jatiasih & Ketua RW (Dok. Pengurus RW 03B Jatikramat) 

Rukun Warga atau RW, tidak asing lagi bagi telinga setiap WNI terutama bagi yang sudah dewasa. Semakin banyak penduduk dan banyaknya komplek perumahan yang tidak tertata dengan baik, maka data RT/RW menjadi sangat penting manakala seseorang mencari suatu alamat rumah. RW adalah organisasi pemerintahan terkecil di NKRI yang merupakan himpunan dari beberapa Rukun Tetangga (RT). Oleh karena itu setiap RW juga bisa merupakan miniatur wajah dari NKRI dengan kondisi lingkungan dan kependudukan yang berbeda-beda. Kalau suatu negara-bangsa diukur wajahnya dengan perangkat antaralain Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Indeks Pemberantasan Korupsi (IPK), pertumbuhan ekonominya, tingkat kejahatan dan kriminalitas dan sebagainya, maka setiap RW juga bisa diukur bak suatu negara. Bahkan, bagaimana suatu RW merayakan HUT Kemerdekaan NKRI, juga bisa menjadi bahan untuk mengukur sejauh mana keindonesiaannya. Sebagai contoh, RW 03B Jatikramat Indah I Bekasi. Sejak beberapa tahun ini, RW 03B mengadakan upacara HUT Kemerdekaan NKRI yang diikuti oleh warganya. Setelah absen selama dua tahun karena pandemi Covid-19, pada tanggal 21 Agustus 2022 yang lalu, upacara itu dilaksanakan kembali. Bertempat di Lapangan Basket yang merupakan asset RW 03B sejak pagi dipenuhi para warga yang antusias ingin memeriahkan hari kemerdekaan. Disamping beratribut serba merah putih, ada juga yang mengenakan pakaian adat mengikuti tradisi Presiden Jokowi yang selalu bergonti-ganti pakaian adat. Pembina atau Pemimpin Upacara oleh Ketua RW yang juga memimpin pembacaan Pancasila dan mengheningkan cipta. Upacara diawali dengan pengibaran Sang Saka Merah Putih dan pembacaan naskah Pembukaan UUD 1945. Acara dilanjutkan dengan pawai keliling komplek perumahan yang diikuti oleh seluruh peserta upacara. Setelah kembali ke lapangan upacara, para warga disuguhi dengan sajian musik dan berjoget ria serta bazar. Semua itu berlangsung dengan seru yang mengindikasikan bahwa masyarakat butuh saling bertemu, silaturahim, bersuka-ria dan merayakan semangat kemerdekaan. Agaknya semua peserta rindu menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu-lagu perjuangan. Juga mungkin rindu suasana upacara seperti masa sekolah atau sewaktu bekerja di masa lalu, khususnya bagi para manula yang semuanya ceria sepanjang acara. Pawai gerak jalan pun merupakan sarana olahraga yang menyehatkan. Bazar yang umumnya menyuguhkan kuliner yang beragam, kabarnya hampir semuanya ludes terjual. Mungkinkah ini juga merupakan indikasi telah pulihnya kehidupan ekonomi walau pun diterpa Covid-19 dan sebagai dampak konflik global akibat invasi Rusia ke Ukraina? Yang jelas, warga berupacara-ria dengan suasana hiruk-pikuk seolah sudah terbebas dari ancaman pandemi Covid-19. Dan alhamdulillah, sampai tulisan ini dibuat, tidak ada berita mengenai warga yang sakit atau terpapar Covid-19. Pada hal selama dua tahun sebelumnya, untuk saling silaturahim dan mengunjungi tetangga yang sakit atau melayat tetangga yang meninggal saja agak enggan karena takut. Dan agaknya, upacara 17-an dapat menambah imunitas individu, sehingga tepatlah semboyan HUT ke-77 NKRI yang berbunyi : "Pulih Lebih Cepat -- Bangkit Lebih Kuat".

Dari momentum peringatan HUT ke-77 NKRI ini juga bisa untuk mengevaluasi perilaku warga sejauh mana rukun, kompak dan guyub, serta mengukur tingkat kesadaran berbangsa dan bernegara. Perilaku kebersamaan dan menjunjung tinggi sikap gotong-royong adalah gambaran terjalinnya persatuan dan kesatuan bangsa di tingkat akar rumput. Beruntung bahwa RW 03B Jatikramat Indah I mempunyai asset yang dikelola Pemerintah maupun warga yang berupa TK/TPA/PAUD, SD Negeri, Masjid Jami', dan fasilitas olahraga. Keberadaan kesemuanya itu di kawasan komplek perumahan adalah merupakan sarana membangun masyarakat yang sangat penting. Masalahnya adalah, sejauh mana organisasi RW mampu memahami   pentingnya asset yang ada di wilayahnya. Sebagai contoh, bagaimana menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, pelaksanaan program KB, membangun mutu SDM (Sumber Daya Manusia) serta menjaga kehidupan yang sehat dan aman. Suatu RW juga diharapkan mampu menciptakan kerapian kawasan, membina persatuan dan kesatuan warga, menanggulangi banjir di musim hujan, serta bersama seluruh RT di wilayahnya mampu dan aktif menjalin sinergisitas dengan kelurahan, kecamatan dan walikota/kabupaten. Hal ini penting karena RW sebagaimana desa adalah gambaran wajah terkecil dari NKRI yang mestinya mendapat kucuran dana desa yang harus dimanfaatkan semaksimal dan sebaik mungkin serta transparan. Di RW 03B Jatikramat Indah I juga terdapat fasilitas Posyandu dan Bank Sampah yang punya potensi untuk dikembangkan dalam rangka membangun kesadaran warga terhadap kesehatan dan lindungan lingkungan.

Walhasil, sebagai bentuk pemerintahan terkecil dan terendah dalam bingkai NKRI, setiap RW perlu ditopang dengan tabulasi data kependudukan yang rinci dan lengkap, serta dilengkapi asset dan infrastruktur yang seragam, lengkap dan memadai dalam rangka mencapai kesejahteraan dan keadilan sosial yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia. Nah...,sudahkah semua RW berkemampuan demikian? Inilah tantangan kita bersama!*****

Bekasi, akhir Agustus 2022

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan