Mohon tunggu...
Muhammad Risal
Muhammad Risal Mohon Tunggu...

Tertarik dengan ilmu politik, kebijakan pemerintah,kebudayaan,dan isu isu global. Mahasiswa Magister Administrasi Publik FISIP Universitas Mulawarman.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Arogansi yang Tak Perlu dari Seorang Fahri Hamzah

25 Mei 2013   19:38 Diperbarui: 24 Juni 2015   13:02 1311 1 10 Mohon Tunggu...

Lama tak menulis di kompasiana akibat banyaknya aktivitas kuliah ini membuat saya rindu menulis. Untunglah malam ini ada sedikit waktu luang untuk sejenak menumpahkan sedikit ganjalan di kepala mengenai sosok kontroversial belakangan ini sering muncul di TV dan media sosial, Fahri Hamzah.

Arogan. Kesan pertama melihat statement - statement yang selalu dikeluarkan oleh wasekjen PKS, Fahri Hamzah. Ia selalu mengeluarkan kritik - kritik tajam mengenai kinerja KPK, bahkan sangat setuju jika KPK dibubarkan. Di sinilah letak arogansinya, secara logika awam saja, adanya KPK saja seakan korupsi tak berkurang , bagaimana jika KPK tak ada. Mau mengharapkan Kepolisian ataupun Kejaksaan, di dua lembaga tersebut malah menjadi ladang korupsi dan suap. Susah memahami apa yang ada di pikiran seorang Fahri Hamzah. Mari kita mencoba menganalisa mengapa seorang Fahri Hamzah seakan kebakaran jenggot dengan keberadaan KPK.

Fahri Hamzah ini dikenal sebagai salah satu anggota DPR yang dikenal cukup vokal dalam mengkritisi kebijakan - kebijakan pemerintahan SBY dan kinerja dari KPK. Bahkan beliau sampai menulis buku mengenai kasus Century. Saya pikir seharusnya memang sebagai anggota DPR, harus bersikap vokal, ketika itu saya sangat terkesan dengan sepak terjang dari Fahri Hamzah walaupun ketika itu, PKS, partai yang menaunginya berada di dalam koalisi pemerintahan.

Namun anggapan dan pandangan saya seketika berubah ketika kasus impor daging sapi yang menyeret Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaq dijadikan tersangka oleh KPK. Apalagi dengan kemunculan Ahmad Fathanah yang turut serta dijadikan tersangka oleh KPK. Fahri Hamzah bersikap seperti kebakaran jenggot. Menuding KPK tidak profesional dan tidak berimbang dalam penanganan kasus yg menyangkut PKS. Belum lagi perseteruannya dengan juru bicara KPK, Johan Budi. Saya berfikir, jika memang PKS sebagai partai tidak terlibat dalam kasus impor daging sapi, biarkanlah pengadilan yang menjadi tempat pembuktiannya. Jika beliau tidak terima dengan pemberitaan media mengenai pencitraan bahwa elit - elit PKS terindikasi memiliki hubungan erat dengan beberapa wanita, itu sudah menjadi konsekuensi dari politik kotor menjelang pemilu di 2014. Jadi seorang Fahri Hamzah tidak perlu panik selama pemberitaan itu tidak benar. Bukankah dalam ajaran islam selalu mengatakan, kebohongan sebaik apapun ditutupi pasti akan terbuka juga. Tidak perlulah berpikir sampai harus membubarkan KPK. Ingatlah, anda berpolitik di Indonesia, dimana antara kejujuran dan kebohongan menjadi suatu hal yang sulit untuk di bedakan dan politik kotor telah menjadi hal yang biasa terjadi menjelang pemilu. Yang anda harus lakukan adalah melakukan konsolidasi dan perbaikan kondisi internal partai anda. Jangan pernah membuang energi untuk hal - hal yang akan merugikan citra partai anda sendiri.

Jadi.. Bersikap bijaklah dalam menghadapi masalah yang menerpa partai anda bung Fahri. Ingatlah lagu Chryse " Badai Pasti Berlalu"

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x