Mohon tunggu...
Muhammad Thoha Maruf
Muhammad Thoha Maruf Mohon Tunggu... Mahasiswa

Penulis yang gemar beranjangsana. Kadang juga aktif di sosial media.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Jangan Sampai Perpaduan Kasih Ikut-ikutan Ditunda

19 Maret 2020   10:59 Diperbarui: 19 Maret 2020   11:18 48 1 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jangan Sampai Perpaduan Kasih Ikut-ikutan Ditunda
sumber : unsplash / @drewcoffman

Menilik keadaan saat ini yang sedang terjadi bagaimana seluruh manusia di semua penjuru dunia dilanda kecemasan. Tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh virus covid-19. Seakan-akan pemberitaan mengenai virus tersebut sudah menjadi menu makanan sehari-hari disamping nasi sebagai makanan pokok. Seperti nasi yang dapat dimakan oleh semua kalangan, imbas dari virus covid-19 juga dirasakan oleh semua orang. Tidak memperdulikan usia, jabatan, atau kekayaan. 

Olahragawan berbandrol kelas wahid tak luput dari serangan virus. Sebut saja pemain bola asal klub Chelsea, Hudson Odoi, atau yang masih segar di ingatan Kevin Durant pemain basket asal Negeri Pamansam.

Perhelatan akbar yang mampu menyedot animo banyak penonton di berbagai penjuru dunia juga menerima imbasnya. Contoh saja Moto GP, Copa America, dan Euro 2020 yang terpaksa harus diundur jadwalnya. Yang jelas pikiran mereka akan terkuras habis saat harus menjadwal ulang jadwal pertandingannya. Karena keedaan tersebut.

Di Indonesia sendiri rapat-rapat yang biasanya dilakukan langsung secara tatap muka diubah dengan cara video call. Sekolah-sekolah diliburkan. Orang-orang dibatasi gerak-geriknya, dianjurkan untuk berada di rumah saja. Berbicara masalah yang terakhir memang sedikit menarik. Hal itu mirip ketika zamannya Pak Soeharto, kalau dahulu dilarang berkumpul karena kalau berkumpul dikira mengkritisi pemerintah, sekarang berkumpul dilarang sebab rawan menularkan penyakit.

Jagad sosial media sempat diramaikan dengan hasthag #dirumahsaja yang seketika membanjiri linimasa sosial media.

Dari perspektif saya kronologi kejadiannya berbeda. Acungan jempol patut ditunjukkan kepada mereka yang saling mengingatkan satu sama lain mengenai kejadian ini. Namun kita juga patut memaki mereka yang hanya mencari keuntungan di balik penderitaan orang lain. Kepatuhan yang diperlihatkan masyarakat Indonesia bercampur aduk dengan kekhawatiran yang mereka rasakan. Bahkan, ada yang sampai berprasangka apakah ini azab dari Tuhan atau saatnya akhir zaman ?.

Meskipun sebagian kalangan mengatakan hal itu terlalu prematur. Di sisi lain hal seperti ini seperti mengingatkan kita untuk selalu berbuat baik.

Tetapi dari beberapa kategori warga yang merasa khawatir, adakah yang lebih khawatir dari sepasang calon mempelai yang akan memadu kasih di bangku pelaminan ?.

Siapa yang tak bahagia jika hari yang ditunggu-tunggu itu tiba. Hari dimana mereka sah menjalin hubungan berkasih. Setelah sekian lama mereka menanti hari itu dengan segala perjuangan yang telah dikorbankan. Tapi apa daya jika si biang kerok yang tidak pernah diundang yang bernama covid-19 itu datang menghantui.

Jika Anda sebagai calon mempelai, apakah Anda termasuk orang yang mempunyai kesabaran setinggi langit jika menghadapi masalah seperti ini ?.

Apakah iya calon mempelai harus menunggu hingga benar-benar masalah covid-19 ini selesai ?.

Kalau hanya seminggu dua minggu mungkin masih bisa. Tapi kalau sampai satu tahun (semoga tidak terjadi) apakah Anda tidak kasihan dengan hasrat yang Anda miliki sudah bergelora untuk memadu kasih.

Ibarat sedang memperbaiki atap, posisi Anda sudah sampai di atap lalu palu yang akan digunakan tertinggal di bawah, kebetulan di bawah pas ada orang, lalu ada dua opsi, Anda kembali ke bawah mengambil palu atau meminta bantuan orang yang ada di bawah untuk melemparkan ke atas.

Saya yakin orang yang tidak lulus bangku SMP pun akan memilih opsi yang kedua. Yaitu meminta bantuan orang lain untuk melemparkan palu tersebut ke atas. Meskipun palu yang dilemparkan akan punya peluang jatuh ke bawah, tapi setidaknya hal itu dapat dikurangi kemungkinan resiko buruknya, seperti menyuruh orang yang disekitar untuk menjauh, dan menyingkirkan barang-barang yang rawan pecah ketika palu itu jatuh ke bawah.

Begitu pula saat Anda terapkan terhadap apa yang terjadi pada orang yang akan naik ke bangku pelaminan. Dengan menimbang berbagai kemungkinan yang terjadi. Resiko dapat diminimalisir sekecil mungkin.

Orang paruh baya yang sedikit agamis pasti akan bilang "ijapan disek ae, resepsine sok ben".

Saya sependapat dengan orang semacam itu. Segala persiapan sudah dilakukan, kesepakatan orang tua calon mempelai sudah terjalin. dikala keadaan untuk mengundang orang dengan jumlah banyak mempunyai resiko besar yang besar. Meskipun yang terlibat dalam prosesi ijab kabul yang melibatkan segelintir orang masih saja dihantui resiko. Setidaknya, meminimalisir kemungkinan buruknya lebih mudah.

Jangan sampai nikmat Tuhan yang sudah menanti tertunda seperti perhelatan-perhelatan akbar semacam lomba olahraga di atas.

Ada sedikit harapan terselubung dari kaum-kaum yang akan memadu kasih, kalaupun lockdown benar-benar diberlakukan. Harapan mereka hanya satu, Kantor Urusan Agama tetap buka.

VIDEO PILIHAN