Muhammad Irwan
Muhammad Irwan

Mengikatlah Diri ke Musafir Ulama dan Ulama Musafir lalu teruslah mengikat Simpulnya dengan kuat, teruslah mengikuti sampai akhirnya kembali kepada Sang Pencipta

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Puncak Tertinggi dan Para Pendaki

13 Agustus 2017   11:22 Diperbarui: 13 Agustus 2017   11:53 88 1 0

Puncak Tertinggi dan Para Pendaki

"Jalan dan cara pendakian (manusia) beragam
Tetapi mereka berjalan ke arah kebenaran
Yang Satu
Dan para pendaki jalan kebenaran itu
Mencari jalan sendiri-sendiri"

"Bahasa kita beragam tetapi Engkaulah
Satu-satunya Yang Maha Indah
Dan masing-masing kita
menuju Sang Maha Indah Yang Satu itu"

Syair diatas adalah karya tokoh sufi kenamaan Abu Bakr Muhammad bin al-Arabi al Hatimi al Tha'i atau yang lebih dikenal dengan panggilan Ibnu Arabi, lahir di Spanyol 560 H/1126 M salah satu ulama produktif manulis Syair pada zamannya.

Syair Ibn Arabi ini menggambarkan seorang manusia yang hatinya berbisik pada dirinya, bisikannya mengajak diri kita untuk berjalan menuju ke satu tujuan yakni kearah Kebenaran Yang Satu

Meski jalan yang dilalui melewati jalan sunyi dan panjang, hati terus berbisik lembut agar tetap meneruskan perjalanan, meski hanya sendirian.

Layaknya para pendaki Gunung, para pendaki mencari jalan sendiri-sendiri untuk sampai ke puncaknya. Jalur setapak pendakian memang bekasnya sudah ada, sudah lebih dari satu jalur jalan pendakian yang sudah pernah dilewati para pendaki sebelumnya

Dikira Itu Puncak

Tidak jarang para pendaki bisa tersesat tanpa dia sadari walau jalannya sudah ada, mereka hanya berputar-putar dilereng gunung hingga perbekalannya habis, ada juga yang mengira bahwa mereka sudah sampai ke puncak, karena mata mereka melihat awan dengan dekat, yang mereka pahami bahwa puncak gunung tandanya kalau sudah bisa melihat awan dengan dekat dan ketinggian awan berada dibawah kakinya.

Masing-masing pendaki mencoba mencari jalan yang paling dianggap tepat menuju ke pucak, banyak yang berhasil dan banyak pula yang tidak. Mereka yang berhasil adalah yang punya tekad dan menyiapkan apa saja yang diperlukan untuk sampai ke puncak

Memiliki alat penunjuk jalan/kompas  atau juga meminta tolong kepada pendamping yang sudah terlebih dulu sampai ke puncak, dan yang tidak kalah penting adalah patuh dengan pembimbing selama proses menuju puncak. Aturan-aturan yang disampaikan pembimbing ditaati dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh

Tiga Sebab

Pembimbing jalan menuju puncak bukanlah penentu para pendaki itu bisa sampai puncak, banyak pendaki tidak sampai ke puncak meski ada yang membimbing. Mereka yang tidak sampai ke puncak ada tiga sebab, pertama karena kurangnya niat, kedua tidak patuh pada pembimbing dan yang ketiga kurang sabar.

Dalam perjalanan ke puncak para pendaki memiliki latar belakang dan karakter yang berbeda-beda, dengan beragam latar belakang ini dinamika perjalanan jadi asyik, menyenangkan dan saling melengkapi

Ada yang suka memasak, suka berburu, ada yang suka menghibur dan ada yang suka meneliti apa saja yang dilewati selama perjalalan dan termasuk ada ada yang suka menulis, apa saja yang ditemui selama di perjalanan akan menjadi sebuah cerita dan rangkaian tulisan yang menarik untuk disuguhkan kepada teman-temannya.

Bahkan ada yang memiliki kebiasaan memijat temannya, berbagai karakter apabila berkumpul dalam satu misi pendakian, maka akan menjadi sebuah kisah yang menarik bagi siapa yang ingin tahu cerita pendakiannya. Hanya tim yang memiliki berbagai latar belakang yang dapat memberikan sebuah kisah menarik dan tidak akan dilupakan orang, kisah itu tergambar dalam lembar daun hijau dan bisa dibaca oleh siapa saja yang melewati jalan pendakian

Beragam Sejatinya Satu

Beragam bahasa dan karakter merupakan sebuah rahmat dan sumber kekuatan yang lengkap sebagai bekal para pendaki menuju ke puncak tertinggi. Ragam karakter berkumpul dalam satu tujuan yang sama yakni menuju ke puncak tertinggi,

Hanya saja ada satu pantangan yang tidak boleh dilanggar para pendaki, semua yang ikut rombongan pendakian ini diwajibkan patuh pada pembimbing jalan.

Meski hanya satu aturan yang diwajibkan oleh para pembimbing jalan, yaitu patuh "Sami'na Waato'na" pada pembimbingnya, namun banyak yang gagal ditengah perjalanan.

Semua para pendaki tujuannya hanya Satu yakni bisa sampai pada puncak terTinggi.  

Syair Ibnu Arabi diatas seakan mengajak hati kita untuk ikut dalam pengembaraanya, diajak menyelami kata hati dan menuruti kata hati, bahwa yang diminta hati hanya Satu yaitu menuju ke tempat asalnya "tempat terTinggi", tempat yang Maha Indah bagi siapa saja yang sampai ke puncakNya, karena hanya ada Satu puncak yang TerTinggi

Yakni puncak Sang Maha Indah... hati tidaklah menyukai dan menuju keindahan melainkan hati yang masih banyak debunya.