Mohon tunggu...
Muhammad Hopiyudin
Muhammad Hopiyudin Mohon Tunggu... Lainnya - NOW AND SO ON

"biarkan hari ini produktif, hingga sampai merasa pasif"

Selanjutnya

Tutup

Film

Trauma Kekerasan Seksual pada Tokoh May dalam Film "27 Steps of May" Karya Ravi Bharwani

21 Januari 2022   23:41 Diperbarui: 21 Januari 2022   23:58 107 2 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Film. Sumber ilustrasi: PEXELS/Martin Lopez

Trauma Kekerasan Seksual Pada Tokoh May Dalam Film 27 Steps Of May Karya Ravi Bharwani

Oleh: Muhammad Hopiyudin

27 Steps of May yang disutradarai oleh Ravi Bharwani. Ia meramu skenario film bersama Rayya Makarim. Keduanya, plus Wilza Lubis, berstatus sebagai produser. Film ditangani oleh rumah produksi Green Glow Pictures yang bekerja sama dengan Go Studio. 27 Steps of May adalah drama keluarga yang menakjubkan. Raihaanun dan Lukman menyuguhkan salah satu performa terbaik sepanjang karier. Raihaanun beruntung karena dipasangkan dengan aktor metodis yang kenyang mendalami seni peran di dunia layar lebar.

Penggambaran kekerasan terhadap tokoh May dalam film "27 Steps of May" dan melihat ideologi dominan dalam teks tersebut melalui metode analisis yang telah dipilih yaitu analisis semiotika John Fiske meliputi level realitas, level representasi, dan level ideologi. Pada kedua level analisis yaitu level realitas dan level ideologi menunjukkan adegan perkosaan yang mengandung unsur- unsur dibawah ini :

1. Hubungan kelamin yang dilarang dengan seorang wanita tanpa persetujuan wanita tersebut.

2. Perkosaan adalah persetubuhan yang tidak sah oleh seorang pria terhadap seorang wanita yang dilakukan dengan paksaan dan bertentangan dengan kehendak wanita yang bersangkutan.

3. Perkosaan adalah perbuatan hubungan kelamin yang dilakukan oleh seorang pria terhadap seorang wanita bukan istrinya tanpa persetujuannya yang dilakukan ketika wanita tersebut ketakutan atau dibawah kondisi ancaman lainnya.

Unsur perkosaan diwujudkan dalam adegan dengan memperlihatkan bahwa May siswa SMA yang tidak mengenal pelaku, sehingga tidak ada hubungan suami istri dan apabila terjadi persetubuhan bukan merupakan hubungan yang sah. May juga diseret paksa ke dalam gudang oleh pelaku untuk disetubuhi sehingga persetubuhan dilakukan tidak dengan persetujuan dan kehendak pihak wanita. Dengan melihat pada aspek ekspresi dan teknik pengambilan gambar yang digunakan, perkosaan dilakukan ketika korban merasa ketakutan atau merasa berada dibawah ancaman.

Meski adegan kekerasan yang ada merupakan pengalaman sudut pandang perempuan, namun dalam penceritaannya masih menggunakan sudut pandang laki-laki. Bentuk kekerasan yang ditampilkan juga didasarkan pada apa yang mampu laki-laki lakukan, bukan ditampilkan apa adanya berdasar sudut pandang perempuan. Stereotip tentang perempuan yang lemah,dapat dengan mudah diperkosa, masih digunakan dalam film. Potensi-potensi perlawanan yang seharusnya dapat dilakukan oleh perempuan kemudian tersembunyi akibat menampakkan adanya dominasi laki-laki. Perempuan kemudian menerapkan victim blaming, akibat perkosaan tersebut perempuan menyalahkan diri sendiri bahkan melukai diri sendiri karena trauma yang dideritanya.

Film yang bertujuan untuk menunjukkan bagaimana realitas bentuk penindasan terhadap perempuan dan perjuangan perempuan keluar dari kondisi yang mengganggunya kemudian membawa pesan lain. Sudut pandang perempuan belum digunakan untuk menunjukkan bagaimana seharusnya keadaan sosial yang lebih adil. Perempuan korban perkosaan digambarkan sesuai stereotip yang ada di masyarakat yaitu berpenampilan lemah dan tidak punya kekuasaan, cenderung tidak bisa bangkit dan mengisolasi diri dan tidak bisa hidup tanpa peran laki-laki di sekitarnya.

Film ini digunakan sebagai media untuk mengkomunikasikan representasi tokoh May korban kekerasan seksual dengan adanya dominasi dari peran laki-laki. Penggambaran kehidupan perempuan yang menjadi tokoh utama dalam film ini tidak pernah terlepas dari peran laki-laki. Film 27 Steps of May mengkomunikasikan pada khalayak untuk melihat kenyataan yang dianggap tabu, isu kekerasan seksual terutama perkosaan terlalu dianggap sebagai momok sehingga banyak yang tidak dapat melihat kenyataan bentuk kekerasan terhadap perempuan dan akibat yang ditimbulkan. Film ini sayangnya belum mampu menunjukkan karakter perempuan yang dapat melawan bentuk-bentuk dominasi laki-laki dan belum memperlihatkan bentuk pemberdayaan perempuan. Dan film ini juga mengingatkan bahwa proses trauma tidak mudah disembuhkan seperti membalikan telapak tangan

Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan