Mohon tunggu...
Muhammad Fakhrizal Fahmi
Muhammad Fakhrizal Fahmi Mohon Tunggu... Mahasiswa

-

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Intuisi dan Masalah Relativitas Akhlak dalam Bingkai Pancasila

3 Maret 2021   01:02 Diperbarui: 3 Maret 2021   03:02 96 1 0 Mohon Tunggu...

Pada materi ketiga Intermediete Training (LK 2) HMI Korkom Sunan Ampel Cabang Surabaya (03/02) menghadirkan Dr. Taufiqqurahman sebagai pemateri.

Dalam materi ini, pancasila ini layaknya sebuah rumah yang memiliki banyak peralatan yang mengisi, yaitu ada intuisi dan akhlak. Ketika terjadi ketidakselarasan apakah yang akan diselaraskan rumahnya atau perabotannya? Disinilah permasalahan yang akan dihadapi. Intuisi adalah kemampuan untuk memahami sesuatu tanpa melalui penalaran rasional dan intelektual. Ide yang muncul dari pertimbangan tanpa didahului dengan analisis yang disengaja. 

Dilakukan pengambilan keputusan dengan cepat. Fungsi intuisi antara lain dapat menjadi jawaban yang terbaik dan benar jika diasah dan intuisi ini dapat berubah secara fleksibel. Kemudian, akhlak sebagai orientasi pendidikan bertujuan untuk mengembangkan siswa menjadi beriman dan bertaqwa cakap dan kreatif, menjadi warga negara yang demokratif (character building). 

Apa gunanya jika memiliki intelektualitas yang tinggi tetapi akhlaknya yang sangat kurang. Relativitas akhlak merupakan sikap jiwa ke dalam yang menuntut pernyataan diluar bagi yang tidak meyakininya. Pengakuan kebenaran terhadap sesuatu sangat bergantung pada situasi dan kondisi yang mengitarinya. 

Menurut Barnett dalam Siswanto (1992), bahwa jika kita meninjau arti relativitas maka kita akan merujuk pada teori relativitas yang dikemukakan oleh Einstein, pada dasarnya setiap material yang dapat bergerak dengan kecepatan tinggi dan berjarak yang jauh dengan pengamat maka akan terlihat material tersebut bergerak lebih lambat padahal material tersebut bergerak sangat cepat. 

Artinya adalah relativitas ini merupakan sesuatu kebenaran yang dapat diterima sesuai dengan cara pandang seseorang. Terutama dalam hal ini yaitu akhlak, akhlak berasal dari bahasa Arab jama' dari bentuk mufradatnya"khuluqun" yang berari budi pekerti, perangai, tingkah laku dan tabiat. (Habibah, 2015) Pada prinsip relativitas akhlak tidak mengakui adanya nilai-nilai yang mutlak (absolut), dan juga berkeyakinan bahwa moralitas (akhlak) dan nilai tidaklah memiliki dasar yang nyata dalam sebuah realitas (Kermani, dkk, 2014). 

Maka dari itu, persepsi dari akhlak bagi setiap orang akan berbeda-beda. Menurut Sauvage dalam Sukmana (2011) intuisi adalah istilah psikologi dan filsafat untuk suatu proses pemahaman dan persepsi terhadap suatu fakta aktual. Dalam menjabarkan suatu intuisi dan menguraikan masalah yang menyangkut akhlak. Pancasila sebagai ideologi bangsa yang dapat menerapkan nilai-nilai islam, maka sesungguhnya kedua unsur ini Pancasila dan Islam memiliki keterkaitan satu sama lain (Fuad, 2012). Untuk dapat merefleksikan relativitas akhlak yang optimal kita sebagai kader HMI dapat mempergunakan intuisi kita dan mengidentifikasi masalah yang ada. 

Sumber:

Fuad, F. (2012). Islam dan ideologi Pancasila, sebuah dialektika. Lex Jurnalica, 9(3), 18033.

Habibah, S. (2015). Akhlak dan etika dalam Islam. Jurnal Pesona Dasar, 1(4).

Kermani, T., & Nur, M. (2014). Diskursus Akhlak dalam Filsafat Mulla Sadra. Kanz Philosophia A Journal for Islamic Philosophy and Mysticism, 4(1), 78-93.

Siswanto, J. (1992). Teori Relativitas dalam Perspektif Filosofis. Jurnal Filsafat, 1(1), 50-62.

Sukmana, A. (2011). Profil berpikir intuitif matematik. 

#lk2korkomsa2021

VIDEO PILIHAN