Mohon tunggu...
MUHAMMAD IRSAL
MUHAMMAD IRSAL Mohon Tunggu... Yakin Usaha Sampai

FKIP/PGSD - UNISMUH BUTON

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Keharusan Zaman dan Masalah Keadilan Umat dan Bangsa (Critical Review)

3 Maret 2021   02:46 Diperbarui: 3 Maret 2021   02:50 47 0 0 Mohon Tunggu...

(Rabu, 3 Maret 2021), tulisan ini berisi sebuah critical review terhadap pemaparan materi yang di sampaikan dalam materi "Keharusan Zaman dan Masalah Keadilan Umat dan Bangsa" pada forum Intermediate Training/Latihan Kader II (LK II) HMI Korkom Sunan Ampel Cabang Surabaya.

Dalam pemaparannya, pemateri sempat menjeaskan tentang Pancasila sebagai dasar negara. Dan kemudian di korelasikan dalam Pendidikan Karakter, Pendidikan Formal, Pendidikan Informal, dan Kesetaraan Gender.

Dari apa yang telah dipaparkan pemateri, penulis disini ingin sedikit menambahkan atau lebih tepatkan memberikan perbandingan teori atas beberapa poin penting yang telah di sampaikan, yakni penulis ingin mengutip sebuah isi dari salah satu buku Marx : Pembatalan politik kepemilikan pribadi tidak hanya menghapuskan kepemilikan pribadi, melainkan benar-benar mengandaikan itu. Negara tidak bertindak lebih jauh dengan adanya perbedaan dalam kelahiran, kelas, pendidikan, dan profesi dalam caranya sendiri ketika menyatakan kelahiran, kelas, pendidikan, dan profesi sebagai perbedaan yang tidak politis, ketika menyeru setiap anggota masyarakat untuk berpartisipasi secara setara dalam kedaulatan rakyat.... Namun demikian negara masih mengijinkan adanya kepemilikan pribadi, pendidikan... untuk memiliki efek dengan cara mereka sendiri... dan membuat sifat khusus yang dapat dirasakan. Jauh dari menghapuskan perbedaan-perbedaan faktual ini, keberadaannya terletak pada mereka sebagai sebuah pengandaian. (Marx, 1994, 7.).

Kemudian penulis mengutip lagi salah satu pandangan dari sebuah buku dari Marx yang menjelaskan : Secara historis, tidak ada nama yang spesifik dari corak reproduksi, kecuali dalam persepsi umum, konsep yang ahistoris mengenai "keluarga", yang ditandai dalam bentuknya yang paling luas tersebar dan dapat diamati. Meskipun aneh, dalam terang kemudahan dengan yang mungkin untuk dipikirkan mengenai keluarga dan relasi-relasi domestik, konsep dari corak reproduksi dan agen-agen reproduksi adalah penting karena
mereka mengalihkan perhatian dari "keluarga" dan perbedaan atau "penyimpangan" (tergantung nilai-nilai yang dianut pengamat/observer) bentuk-bentuk keluarga menjadi sebuah objek teori dan penelitian yang
berbeda: transsejarah, proses yang dibutuhkan oleh reproduksi fisik dan sosial manusia dan dasar kapitalis dari bentuk-bentuknya yang dapat diamati dalam masyarakat dimana corak produksi kapitalis dominan; contohnya, keluarga-keluarga inti, rumah tangga dengan orang tua tunggal, panti asuhan, dan sebagainya. Ketika sebagian besar dari rumah tangga memulainya sebagai persatuan
heterosexual, apakah sebagai organisasi aktual atau bukan dari reproduksi yang mengambil bentuk dari sebuah keluarga inti (hanya orang
tua dan anak-anak) atau termasuk anggota lainnya yang terhubung secara biologis maupun tidak, bervariasi berdasarkan pada kelas sosial, status perkawinan, status sosial ekonomi, preferensi seksual, pekerjaan,
budaya, ras, etnisitas, dan kuasa relatif kelas-kelas yang tercermin di dalam negara kesejahteraan dan kebijakan-kebijakan mengenai keluarga, dan sebagainya. Lebih jauh, perubahan-perubahan di dalam "kekuatanreproduksi" (contohnya, perubahan-perubahan dalam teknologi re-
produktif) telah menjadi alat dalam menciptakan kondisi-kondisi bagi
bentuk-bentuk yang baru dari pemisahan antara hubungan-hubungan sosial reproduksi dan prokreasi, sehingga pada saat ini kita mengkonfrontasikan kemunculan agen-agen baru prokreasi (contohnya, agen-agen yang terlibat di dalam proses reproduksi fisik) hanya berhubungan melalui pasar pertukaran yang mensyaratkan pembelian dan penjualan
elemen-elemen biologis dari reproduksi fisik antar generasi.9 (8 Untuk analisis Marxis--feminis lainnya mengenai peran reproduksi di dalam penindasan terhadap perempuan lihat Lise Vogel, 1983; Johanna Brenner and Maria Ramas, 1984. Friedrich Engels (1972) berpendapat bahwa produksi selalu berjalan dua kali lipat, dimana hal tersebut membutuhkan produksi atas sesuatu dan, pada saat yang sama, produksi kehidupan manusia, teorinya menjadi dasar teori bagi feminisme Marxis.)

VIDEO PILIHAN