Mohon tunggu...
Muhammad Ihkam
Muhammad Ihkam Mohon Tunggu... Administrasi - Penulis Muda

Mahasiswa Sastra, Pejuang Peradaban Mulia, Baru aja suka nulis :)

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Bersahabat dengan Anggota Tubuh

5 Agustus 2019   14:56 Diperbarui: 5 Agustus 2019   17:45 60
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pernahkah anda berkelahi? Kalau iya, bagaimana reaksi lawan anda? Apakah dia melawan balik? Atau hanya diam pasrah dengan apa yang menimpanya? Tentu saja jawabannya adalah yang kedua. Tidak mungkin lawan hanya diam saja saat dirinya dipukuli. Sementara anda memukulinya dengan asik tanpa adanya perlawanan dari musuh anda. Inilah yang dinamakan dengan kausalitas atau sebab-akibat. Jika ada yang beraksi, pasti akan ada reaksi atas aksi tersebut. Dan ini adalah kebuah keniscayaan yang haqiqi, yakni merupakan sebuah Sunnatullah.

Bicara masalah reaksi, maka perlawanan musuh kepada anda tadi tidak jauh beda dengan reaksi yang dilakukan oleh anggota tubuh. Bisa jadi saya dan anda masih sehat karena tubuh 'menilai' perbuatan yang kita lakukan (dengan menggunakan tubuh tersebut) adalah perbuatan yang baik. Dan bisa jadi pula tubuh yang sedang sakit merupakan reaksi dari tubuh yang menilai perbuatan yang kita lakukan adalah perbuatan yang buruk.

Baik dalam kondisi sehat maupun sakit, keduanya adalah akibat atau reaksi dari tubuh yang menanggapi apa-apa yang kita perbuat. Contoh : setelah melakukan dosa seperti mencuri, tiba-tiba tangan menjadi gatal. Atau sebaliknya, setelah bersedekah beban pikiran langsung terasa ringan. Dan masih banyak lagi contoh lain yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari atau mendengar cerita dari teman dan sahabat yang kita punya. Yang baik itu disadari atau tidak merupakan reaksi dari anggota tubuh atas perbuatan yang dilakukan oleh si pemilik tubuh. Manusia.

Di samping itu, ketika manusia telah sampai pada ajalnya dan mati meninggalkan dunia, maka berakhirlah sudah apa yang dulu dimiliki dan diusahakannya. Hanya tersisa amalan-amalan yang akan dimintai pertanggung jawaban. Sementara kelak anggota tubuh seperti tangan, kaki, mata, kulit, dan seluruh anggota tubuh lainnya akan dimintai persaksian oleh Allah SWT. tentang apa saja yang telah dilakukan manusia selama hidupnya. 

Lalu bagaimana dengan mulut? Yang setia membela apa yang dilakukan manusia meskipun itu salah? Allah SWT. mengabarkan kepada kita bahwa ia akan dikunci, ditutup rapat dan tidak diijinkan untuk berbicara membela perbuatan kita dahulu. Sebagamana dijelaskan oleh Allah dalam Kitab-Nya, Al-Qur'an Surah Yaa Siin [36] ayat 65, yang artinya berbunyi : "Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberikan kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan."

Apabila hari itu telah tiba maka hanya amal sholeh dan amal jariyah yang telah dilakukan semasa hidup di dunia-lah satu-satunya penolong yang akan menyelamatkan kita dari adzab dan murka Allah SWT. Sungguh sebuah mimpi buruk bagi siapa saja yang melakukan dosa dan kemaksiatan semasa hidup. Dan akan berbahagia siapa saja yang 'memupuk' dan 'menanam' amal sholeh serta senantiasa mengikuti syari'at Allah SWT melalui Rasul-Nya, Muhammad SAW. selagi hayat masih dikandung badan.

Setelah mengetahui dan mengingat kembali Firman Allah tadi, masihkah kita akan membangkang dan berpaling terhadap apa-apa yang telah disyari'atkan oleh Allah? Masihkah kita berani melakukan dosa dan kemaksiatan, serta meremehkan adzab dan siksa yang akan diberikan Allah di dunia maupun di akhirat nanti? Mari berpikir dan merenung sejenak, apakah selama ini kita telah menggunakan anggota tubuh sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Allah atau malah sebaliknya? Afalaa tatafakkaruun (apakah kalian tidak memikirkan)?

Segera berilmu, beramal sholeh dan bersahabat dengan anggota tubuh

Hal yang mungkin dan penting untuk dilakukan selagi Allah masih mencurahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada kita adalah 'bersegera'. Tidak ada kata terlambat untuk memulai dan memperbaiki apa yang telah kita lakukan selama ini. Telah disinggung sebelumnya bahwa saat manusia mati, ia hanya akan membawa amal-amal sholeh untuk digunakan sebagai penolongnya nanti (di kehidupan akhirat). Namun, amal sholeh akan sulit bahkan mustahil untuk dilakukan apabila ilmu tidak menyertainya terlebih dahulu. 

Maka tidak boleh tidak, sebelum melakukan amal sholeh, yang pertama kali musti dilakukan adalah merekonstruksi iman kita; mengokohkannya dengan belajar dan berilmu. Seperti perkataan salah satu sahabat Rasulullah SAW. Umar bin al-Khaththab r.a., "Al-'ilmu qobla al-'amal" (ilmu dulu, amal kemudian). Karena amal tanpa disertai ilmu akan menuju kepada kesesatan. Sedangkan ilmu tanpa adanya amal, akan sia-sia berujung penyesalan.

Seorang manusia yang telah berilmu dan melakukan amal yang banyak, tentu tidak akan sudi dan enggan apabila mendlolimi anggota tubuhnya (dirinya) dengan perbuatan maksiat dan dosa. Karena ia telah mengetahui bahwa dosa akan menggerus sekaligus menggerogoti amal kebaikan yang disiapkannya untuk kehidupan akhirat. Maka orang yang berilmu akan senantiasa memperlakukan anggota tubuhnya layaknya seorang sahabat. Dimanapun ia berada, kapanpun itu, ia akan menjaga tubuhnya dari dasyatnya api neraka. Selalu taat kepada apa yang telah diperintahkan kepadanya (syari'at Islam) dan menjauhi segala apa yang dilarangnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun