Mohon tunggu...
Muhammad Andi Firmansyah
Muhammad Andi Firmansyah Mohon Tunggu... Pelajar

Kekacauan dalam diri melahirkan bintang yang menari.

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Janjiku kepada Ibu

31 Maret 2021   06:46 Diperbarui: 31 Maret 2021   06:53 78 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Janjiku kepada Ibu
Bisakah sayapmu membawaku terbang lebih tinggi lagi? | Ilustrasi oleh Vania Raposo via Pixabay

Bu, pagi ini memang sedikit temaram, tapi segalanya tidaklah suram. Sang fajar terbit dari arah yang sama, bukan berarti hari ini adalah masalah lama.

Bangunlah bersama mentari meskipun raga itu sudah renta, karena Sang Khaliq senantiasa menunggumu untuk meminta.

Bernyanyilah bersama burung-burung yang mengangkasa dengan eloknya. Meskipun suaramu itu sudah ringkih, aku pastikan itu tak akan pedih.

Oh tidakkah Ibu iri pada gerombolan semut yang bekerja keras di awal hari meskipun tak ada yang menjamin mereka selamat?

Tentu saja, aku baru melihat Ibu menginjak salah satu dari gerombolan semut. Tapi, aku juga mengerti, mata Ibu sudah penuh kabut. Dan itu tidak apa, asal jangan cemberut.

Aku pamit untuk beberapa tahun, Bu. Anakmu ini sudah sangat rindu pada pengetahuan laksana seekor singa yang rindu pada makanannya.

Teringat pada malam itu, bisikan penuh resah menusuk telingaku tanpa aba-aba. Aku mengingat betul kalimat itu: hidup, apa yang engkau khawatirkan tentang hidup?

Mataku sedikit terpejam hingga aku sedikit ragu tentang siapa yang berbisik. Ibu dan malaikat, apa yang membedakan keduanya?

Tak kuasa mulutku untuk menjawab saat itu karena pikiranku bekerja sangat keras. Badan pun begitu gemetar seperti dihujani jarum-jarum yang kasat mata.

Barangkali sekarang adalah kesediaanku untuk menjawabnya. Sementara Ibu duduk di kursi kayu tua itu, aku di sini menuliskannya untuk Ibu.

Ibu tahu, aku tak tahu. Itulah jawabanku, Bu: aku tak tahu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN