Mohon tunggu...
Muhammad Andi Firmansyah
Muhammad Andi Firmansyah Mohon Tunggu... Pelajar Ilmu Pengetahuan Sosial SMAN 19 Garut

Seorang pria membosankan yang tak menyedihkan.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Bagaimana Seharusnya Kita Menderita?

1 November 2020   08:36 Diperbarui: 1 November 2020   08:43 49 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bagaimana Seharusnya Kita Menderita?
Bagaimana Seharusnya Kita Menderita? (Pexels)

Penderitaan adalah fakta universal. Penderitaan juga melampaui batas horizon waktu, ia ada sejak zaman dahulu kala sampai sekarang dan juga di masa mendatang. 

Penderitaan adalah fakta yang tidak hanya universal, tetapi juga "seolah-olah" abadi. Justru karena itulah, berbicara mengenai penderitaan merupakan hal yang menarik, paling tidak bagi orang yang punya keprihatinan dan mau berkontemplasi tentang kehidupan.

Sekarang, saya akan membawakan berita buruk untuk Anda: Penderitaan manusia itu seperti permainan Whac-A-Mole (permainan di mana tikus-tikus bermunculan, dan pemain harus menggebuk satu demi satu untuk mendapatkan poin, Anda pasti pernah memainkannya sewaktu kecil atau remaja di Timezone). 

Setiap kali Anda menggebuk satu jenis penderitaan, penderitaan lainnya akan muncul. Dan semakin cepat Anda menggebuknya, semakin cepat pula penderitaan lainnya datang kembali.

Penderitaan itu mungkin menjadi semakin mendingan, barang kali berubah jenisnya, barangkali semakin bisa dihadapi hari demi hari. Namun, dia selalu ada. Penderitaan adalah bagian dari kita.

Pada kenyataannya, tidak ada akhir dari penderitaan. Semakin cepat Anda menumpasnya, semakin cepat pula mereka datang lagi. Seperti cecunguk yang ada dalam lemari baju Anda.

Saya teringat dengan apa yang pernah dikatakan oleh Dr. Viktor E. Frankl

"Apa pun bisa dirampas dari manusia, kecuali satu: kebebasan terakhir seorang manusia---kebebasan untuk menentukan sikap dalam setiap keadaan, kebebasan untuk memilih jalannya sendiri." 

Ya, pembaca! Dalam situasi paling menyakitkan dan tidak manusiawi sekali pun, penderitaan pasti lah memiliki makna. Dan karenanya, hidup pun masih bisa memiliki makna. Kita tidak bisa memilih situasi yang menimpa kita, tetapi kita selalu bisa menentukan sikap atas situasi yang sedang dialami.

Andai kata saya harus mati dihukum gantung. Haruskah saya mati sambil menjerit-jerit dan menangis? Atau tangan dan kaki saya harus dirantai agar diam tidak bergerak? Haruskah saya menggerutu dan mengeluh setiap detik? Adakah yang bisa menghentikan saya untuk menjalaninya dengan senyuman dan tetap tenang?

Tidak ada kemerdekaan yang benar-benar hilang, bahkan dalam situasi yang tampak sudah sangat gelap sekali pun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN