Mohon tunggu...
Gayahidup

About Holidays

7 Mei 2019   15:12 Diperbarui: 7 Mei 2019   15:32 0 1 0 Mohon Tunggu...

Liburan merupakan momen yang sangat menarik bagi para pelajar, apalagi yang namanya santri. Liburan merupakan hari kebebasan layaknya kesenangan masyarakat Indonesia yang terbebas dari penjajahan. Tidak ada yang mau ketinggalan akan keseruan liburan, hal  yang sangat dinanti-nanti sejak awal masukkan. Bahkan ketika satu bulan sebelum liburan tiba banyak dikamar-kamar santri terdapat hitungan mundur mulai 30-1, hal itu menujukan ketidak sabaran akan hadirnya hari libur. Termasuk juga kamar saya sendiri. Agar liburan tidak garing dan krik-krik, banyak dari mereka yang sudah mem-planning matang-matang jauh sebelum hari libur tiba. Pokok liburan harus kesini, kesana, kesono, dan ke ke yang lain. Dan ada juga yang lebih memilih berdiam dipondok, itung-itung mensufikan diri, jare arek-arek "jogo awak teko maksiat" (subhanallah), dan pastinya itu bukan tipe saya. 

Tak sedikit dari mereka yang taruhan dengan sesama temannya, "ayo sesok liburan akeh-akehan follower", sampai nekat ke tempat-tempat yang dianggap dapat menarik perhatian para netizan, byuh byuh byuh, menarik. Up load sana, up load sini, kasih caption yang semenarik mugkin. Banyak caption yang manjadi pasaran santri. Seperti "santri tidak hanya bisa ngaji, tapi juga jago ndaki". "mendaki gunung prau aja aku sanggup, apalagi mendaki hatimu", "jare sopo santri isone gur ngaji, moco kitab, dakwah. Aku lo gak iso kabeh ", dan masih banyak lagi yang bisa kita lihat dibranda facebook, istagram, story WA dan segenap keluarganya. Tapi akhir-akhir ini banyak yang hijrah ke instagram yaa. Ooo.. mencari tempat pencitraan yang lebih milenial. Okelahh

Kembali ke pembahasan liburan. Bagi kalangan santri pasti merasakan pahit pedihnya masa mumet, mangkel (urusan keamanan), kesel dsb, sebelum masa manis dan sensasi indahnya liburan datang menyapa. Mulai dari urusan pembayaran SPP, iuran kelas, tanggungan diniyyah, tanggungan asrama, tanggungan ORDA belom lagi ditambah urusan dengan keamanan (bagi yang berkasus). Memang sebanyak itu ferguso. Tapi hal ini dilakukan dengan ikhlas (masio mekso) demi liburan yang ditunggu-tunggu sejak jauh-jauh hari.

Kehidupan liburan bukan lagi kehidupan pesantren yang penuh dengan kedisiplinan. Santri tak lagi terikat dengan aturan-aturan pesantren. Salah satunya santri bebas pegang HP. Tak ada ceritanya keamanan berani yak mayak nyidang santri yang bawa HP di saat liburan. Justru sebaliknya, santri lah yang yak mayak bawa HP di depan mata telanjangnya keamanan. Mungkin ini moment yang sangat berkesan bagi kalangan santri (wkwkwk..peace pak-pak keamanan), karena bisa pegang HP atas sepengetahuan keamanan dengan tanpa diselimuti rasa takut dan kekhawatiran.

Dari situ, tak terelakkan sudah santri asyik dengan kehidupan mayanya. Mulai dari pencitraan di Instagram, memburu follower, ber adu canda tawa dengan sosok yang selalu ditunggu balasan chatnya, dengerin curhatan anaknya calon mertua, dsb. Hidupnya dihabiskan dihadapan layar hape sambil pijat-pijat gadget dengan kelincahan jari jempol yang sudah terlatih disetiap harinya. Tujuan liburan tak sedangkal itu mas broo, mbak brii. Bolehlah seperti itu, tapi jangan anggap itu tujuan utama, anggap saja sebagai bonus dari liburan.

Santri pulang ke kampung halaman membawa nama sebuah pesantren. Disinilah tanggung jawab besar seorang santri, bagaimana bisa membawa citra baik nama pesantren dikalangan masyarakat. Sehingga memunculkan kata-kata kagum dari masyarakat. "Oalah, santri blokagung to", "oo..mondok neng DARUSSALAM", "Masya Allah santrine Mbah Pangat (panggilan akrab mbah yai syafa'at). Dan ini merupakan salah satu tolak ukur kesuksesan seorang santri selama nyantri di pondok pesantren. Ini bukan soal mengunggulkan nama pesantren, tapi perihal bentuk keta'dziman santri terhadap kiai, bentuk terima kasih terhadap pondok pesantren.

Hal ini tidak berhenti sampai disini saja. Jika santri dapat memberikan citra nama baik pondok pesantren, banyak dari warga masyarakat yang punya rasa ingin memondokkan anaknya ke pesantren dimana santri tersebut mondok. Kalau dalam ilmu ekonomi hal ini bisa kita sebut dengan konsep manajemen marketing. Wkwkw. Jadi usahakan ketika santri pulang ke kampung halaman pada saat liburan untuk tetap menjaga nama baik pondok.

Banyak cerita mengharukan perihal santri saat dirumah. Ibunya sudah berteriak nyuruh sholat, "leee, ndang sholat, wes adzan kae lo", tapi apa jawaban santri?? "nggh buk, taseh waktu muwassa' (waktunya masih panjang)". Itu masih kategori lemah lembut. Ada lagi yang lebih menarik, orang tua berkata "iki muleh mondok malah tura-turu ae lek ora dolanan HP, lak yo jama'ah, ngaji, adzan ngono". Simak jawabannya "la saiki wayah libur kok, neng pondok wes mbendino ngaji, jama'ah, terus yo gak iso hapean. Saiki wayahe nyantai, refresh awak, dolanan HP sak puase". Ada satu cerita lagi, yang ini agak ekstrim, bukan orang  tuanya lagi yang menyuruh, tapi calon pasangan hidup (lek ora ketikung) alias doinya. Cewek; yang, udah sholat?, Cowok; ntar ah, masih jam segini. Cewek; cepetan sholat!. Cowok ; iyah nanti bentaran lagi, masih kangen. Cewek; iya jg, tapi cepetan sholat dulu gih, nanti lagi. (ceritanya ceweknya agak sholehah). Cowok; iya-iya, kamu udah sholat?, Cewek; belom jg. (sholehah abal-abal). Cowok; healah, yaudah nanti kita sholatnya jama'ah aja, aku imamnya. Cewek; oh iya, aku makmumnya (cerita selesai). Haduuuhhhh.. parah-parah.

Sudahlah. Biarlah yang lalu berlalu (nyanyio), besok adalah kesempatan kita (santri DARUSSALAM) untuk berbenah bersama. Dari tulisan ini, penulis tidak bermaksud ngomongi, tapi mengajak untuk menjadi lebih baik. Siapa tahu dari tulisan ini penulis dapat tergugah hatinya untuk berubah lebih baik dan berbenah ke arah yang lebih positif. Darussalamku, Darussalammu, Darusalam Kita.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x