Mohon tunggu...
Muhamad Saudi
Muhamad Saudi Mohon Tunggu... Saya Anak biasa yang dilahirkan di jantung ibukota, besar di kota pandeglang, menyambung hidup di negeri orang. Tapi saya akan kembali membangun desa tempat saya dibesarkan.

Saya Anak biasa yang dilahirkan di jantung ibukota, besar di kota pandeglang, menyambung hidup di negeri orang. Tapi saya akan kembali membangun desa tempat saya dibesarkan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Politik dan Luka Warga

4 Juni 2019   01:18 Diperbarui: 4 Juni 2019   01:20 0 0 0 Mohon Tunggu...
Politik dan Luka Warga
rri.co.id

Pemilu telah usai, hiruk pikuknya pun telah mulai sedikit mereda meski tak bisa dipungkiri masih ada saja acara dukung mendukung paslon capres cawapres di warung kopi, di sawah, di kebun dan lainya.

Calon presiden dan wakil presiden terpilih telah diumumkan (walau memang masih ada satu tahapan yang harus dilalui di MK) dan claim kemenangan di masing-masing kubu masih ramai di perdebatkan di berbagai tempat berkumpulnya warga, di Pasar, di pangkalan ojeg, dan di perkumpulan warga di malam hari disetiap kampung sambil menikmati kopi sebagai pengantar tidur.

Para caleg terpilih mulai dari caleg DPR RI, DPRD Provinsi, dan DPRD kabupaten tinggal menunggu hari dan tanggal pelantikan. Tidak terlihat lagi para team sukses berseliweran ke setiap pelosok kampung, ke rumah didalam hutan yang penghuninya cuma ada 3 orang(yang penting ada suaranya),tumben-tumbenan mampir  ke tempat yang belum pernah disinggahinya. padahal sebelumnya tidak pernah sekalipun.

Seperti yang sudah-sudah "menjajakan" daganganya. alat peraga politik yang kemarin-kemarin tersebar disegala pelosok dan sudut kampung kini telah beralih fungsi. Ada yang jadi tilam jemur padi, atap gubuk di sawah, dan ada yang jadi dinding jamban dll.

Para caleg yang yang 2 bulan sebelum pemilihan sibuk tebar pesona, turun langsung ke masyarakat dengan berjalan kaki menyalami warga satu persatu, umbar janji siap  menjadi wadah aspirasi, kini tak nampak lagi meski hanya mengucapkan kata terimakasih. Entah sibuk dengan kegiatan barunya menghitung berapa biaya politik yang sudah dihabiskan, dan bagaimana cara mengembalikanya, entah lupa akan janjinya setelah terpilih nanti akan keliling ke masyarakat, atau mungkin sudah masuk agenda nanti saja mengucapkan terimakasihnya sekaligus "mohon doa restu dan dukunganya" di periode pemilihan berikutnya.

Seperti halnya pilpres.. pileg pun menyisakan cerita, jadi bahan obrolan bahkan paling panjang dan seru bahasanya sampai-sampai bubarnya perkumpulan pun masih belum selesai diperdebatkan. Mulai dari cerita team sukses yang jagoanya kalah, curhatnya barisan sakit hati pendukung caleg yang menang, dan yang netral-netral saja. Bahkan ada yang hanya sekedar jadi pendengar, kesini iya kesana iya kemana-mana iya yang penting bisa menghisap rokok gratis dari bungkus mana saja dan kapan saja.hehe..

Tapi seribut-ributnya masyarakat kecil atas pesta demokrasi kemarin tidak seperti ributnya para elit politik nun jauh diatas sana. yang sampai hari ini masih meninggalkan ketegangan. Apalagi masyarakat langsung di pertemukan dengan bulan suci bulan penuh rahmat bulan ramadhan. Sejenak lupa karna yang dipikiranya sekarang hanyalah kemana mencari bekal untuk puasa sebulan penuh. Penting diatas segalanya mendapatkan  biaya untuk acara munggahan (menyambut awal ramadhan dengan riungan selamatan bersama di masjid). karna bagi masyarakat kampung, tidak terlihat membawa berkat riungan ke masjid itu seperti ada sesuatu yang kurang.

Lambat laun. Masyarakat kembali ke asalnya. petani sibuk dengan garapanya, pedagang sibuk dengan belanjaanya, dan pebisnis sibuk dengan orderanya.
Mereka sudah tidak begitu memikirkan lagi kekisruhan yang kemarin-kemarin sudah memecah belah persatuan warga. dipikirannya yang sudah-sudah. Namanya lomba ada juara ada juga yang kalah.

Jika ditanya jawaban mereka sederhana dan satu suara dari berbagai profesi.. lah.. siapapun yang terpilih yang penting amanah, pembangunan merata, harga harga murah, dan ke rumah sakit tidak dipersulit.

Pemilu baru saja usai, baru saja masyarakat sudah mulai akur, sudah mulai saling bertegur sapa, sudah mulai tidak ada lagi sekat barat dan timur, sudah kompak lagi dalam acara bersama, yang tadinya gontok-gontokan sudah mulai haha hihi bareng.. sebentar lagi akan ada pilkades

solo.tribunnews.com
solo.tribunnews.com
Meski masih sekitar satu tahunan lagi, aromanya sudah mulai tercium hari ini. Ada yang baru  mendeklarasikan diri, ada yang sudah mulai kampanye, ada yang mengajak kerjasama, ada juga yang sudah mengclaim didukung oleh tokoh-tokoh penting di desa. Bahkan ada yang sudah terang-terangan bagi2 kursi struktural di desa seperti ketua BPD, ketua karang taruna dsb jika menjadi pendukungnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2