Mohon tunggu...
AFIF WONOSOBO
AFIF WONOSOBO Mohon Tunggu... Guru

Guru yang berikhtiar untuk terus belajar

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Survival Camp: Pramuka Indonesia di Gurun Arabia

9 November 2019   10:11 Diperbarui: 9 November 2019   10:20 0 4 0 Mohon Tunggu...
Survival Camp: Pramuka Indonesia di Gurun Arabia
dokpri

Pramuka merupakan kegiatan ekstrakurikuler yang wajib diberikan kepada peserta didik pada kurikulum 2013. Pelaksanaan kegiatan pramuka ini sesuai dengan amanat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 39 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan. Oleh karena itu, setiap sekolah di Indonesia maupun di Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) mewajibkan peserta didiknya untuk mengikuti kegiatan pramuka yang pelaksanaannya disesuaikan dengan karakteristik dan memperhatikan kearifan lokal serta local genius sebagai implementasi dasa dharma pramuka.

Sekolah Indonesia Riyadh (SIR), Arab Saudi sebagai salah satu SILN juga menjadikan pramuka sebagai ekstrakurikuler wajib di sekolah. Meskipun memiliki banyak keterbatasan ruang, waktu maupun regulasi dari negara setempat, namun Sekolah Indonesia Riyadh senantiasa berupaya melaksanakan kegiatan pramuka baik in door maupun out door. Kegiatan ekstrakurikuler pramuka di Sekolah Indonesia Riyadh dilaksanakan satu minggu sekali yaitu setiap hari Rabu yang tentu saja dilaksanakan secara in door. Sedangkan kegiatan out door dilaksanakan satu semester sekali dan biasanya dengan cara menyewa istirohah (villa) yang lebih representatif sebagai ajang kreasi bagi anak-anak.

Pada hari Jum'at, 10 November 2019, Sekolah Indonesia Riyadh memilih untuk melaksanakan kegiatan pramuka di alam terbuka. Kegiatan pramuka yang diikuti oleh sekitar 100 penggalang dan penegak dari kelas 7 SMP sampai dengan kelas 12 SMA ini dilaksanakan di tengah gurun pasir Arab Saudi tepatnya di Red Sand Muzaimiyah sekitar 60 km dari sekolah. Kegiatan ini diberi nama "Survival Camp Sekolah Indonesia Riyadh Tahun 2019" dengan tema "Alam Takambang Jadi Guru, Jiwa Pramuka Sejati".

Kegiatan ini diberi nama survival camp karena sekolah berharap agar peserta didik tidak hanya mampu menguasai keterampilan dasar kepramukaan namun juga memiliki karakter "Jurdas Tangli" (Jujur, Cerdas, Tangguh dan Peduli) sebagai manifestasi dari dasa dharma kedua yaitu "cinta alam dan kasih sayang sesama manusia". Sebagai expatriat Indonesia yang tinggal di Arab Saudi dengan bentang alamnya yang tandus dan dikelilingi oleh gurun-gurun pasir, mau tidak mau kami harus mengajarkan cara bertahan hidup dan beradaptasi dengan kondisi geografis serta iklim di Saudi kepada peserta didik.

Melalui cara seperti ini diharapkan peserta didik memiliki keterampilan, kemandirian, tangguh serta adaptable menjalani hidup di masa depan baik di Indonesia, Arab Saudi maupun di belahan dunia yang lain. Makna "tangguh" bukan sekedar mampu menaklukkan alam yang tandus namun juga di masa sekarang ini tangguh memiliki makna yang luas yaitu kemampuan untuk bersaing di tengah pesatnya kemajuan teknologi.

Survival Camp Sekolah Indonesia Riyadh dilaksanakan dari pukul 08.00 sampai dengan 17.00 WAS (Waktu Arab Saudi). Kegiatan diawali dengan upacara pembukaan yang dipimpin oleh Kepala Sekolah Indonesia Riyadh, Abdulloh Syifa', M.Ed selaku Kamabigus. Secara garis besar, Kamabigus memberikan pesan agar penggalang dan penegak dapat mengambil makna dari pelaksanaan survival camp ini. Kamabigus menyampaikan agar kegiatan pramuka ini tidak hanya dijadikan agenda rutin dan seremonial saja namun harus mampu menumbuhkan karakter positif bagi peserta didik di Sekolah Indonesia Riyadh.

Pada acara pembukaan ini juga dikibarkan bendera merah putih di tengah padang pasir dengan diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya. Tentu saja hal ini menjadi bukti bahwa anak-anak Indonesia di Arab Saudi tetap memiliki jiwa nasionalisme dan semangat keindonesiaan yang tidak kalah dari anak-anak Indonesia lainnya. Pada acara ini juga dibacakan teks Pancasila, Tri Satya, dan Dasa Dharma Pramuka yang dihafal dengan baik oleh anak-anak Sekolah Indonesia Riyadh.

Kegiatan survival camp dilanjutkan dengan materi keterampilan pramuka (scouting skills) pada pukul 09.00-11.30 WAS yang meliputi enam keterampilan yaitu: sandi pramuka, penggunaan kompas, menaksir ketinggian bukit, menentukan titik kemiringan lereng, pionering membuat tandu, serta membuat dan menancapkan tiang bendera.

Metode pemberian materi dengan wide game yang dibagi menjadi enam pos yang masing-masing didampingi oleh dua orang kakak Pembina. Anak-anak terlihat sangat antusias mengikuti kegiatan ini dan penuh semangat. Misalnya pada pos satu, anak-anak diminta untuk memecahkan rumus dua sandi untuk berhasil menemukan harta karun yang sudah disiapkan. Anak-anak sambil bernyanyi dan menari menemukan titik-titik yang menjadi petunjuk keberadaan harta karun berada.

Zaidan Rizqulloh Pakpahan salah satu penegak dari kelas 12 saat diwawancarai mengatakan bahwa "kegiatan survival camp di tengah gurun ini sangat asyik sekali karena baru pertama kali dilaksanakan di SIR dan siswa mendapatkan pengalaman, keterampilan, sekaligus bermain serta belajar bersahabat dengan alam". Ada satu kejadian menarik dan cukup menghebohkan saat kegiatan keterampilan pramuka berlangsung, di mana salah satu regu yang telah menyelesaikan tugas membuat tandu menggotong salah satu temannya ke dalam tenda.

Kamabigus yang berada di dalam tenda sontak begitu kaget ketika mendapati satu peserta didiknya yang pingsan. Kamabigus yang begitu cemas meminta Ibu Kepala Sekolah untuk mengambil air minum dan perlengkapan P3K, namun ketika sedang diambilkan minum dan obat-obatan ternyata anak tersebut bangun dan tertawa karena sebenarnya hanya berpura-pura untuk menjalankan tugas kesigapan dalam pemberian pertolongan pertama. Hal ini tentu saja menimbulkan gelak tawa dan menambah kemeriahan kegiatan survival camp ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x