Mohon tunggu...
Muhamad Luthfi
Muhamad Luthfi Mohon Tunggu... Mahasiswa

Departemen Teknik Kelautan FTK-ITS

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Teknologi Pilihan

Mengenal Teori Tektonik Lempeng dan Pengaruh dari Pergerakannya

26 Januari 2021   16:04 Diperbarui: 26 Januari 2021   16:37 1012 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengenal Teori Tektonik Lempeng dan Pengaruh dari Pergerakannya
Pergeseran Benua (Continental Drift)

Dalam pemahaman struktur bumi, dulu para ahli beranggapan bahwa daratan dan lautan yang ada di bumi ini bersifat statis hingga kemudian seiring berkembangnya zaman, berkembang pula ilmu pengetahuan serta pemahaman manusia yang membawa pada munculnya teori-teori yang mengatakan bahwa daratan dan lautan bersifat dinamis. Teori inilah yang sekarang kita kenal sebagai Teori Tektonik Lempeng.

 Sejarah Perkembangan Teori Tektonik Lempeng

Teori tektonik lempeng mulai berkembang sejak meteorolog German, Alfred Wegener, mengenalkan Teori Pergeseran Benua atau Continental Drift pada tahun 1912. Teori itu menyatakan bahwa pada mulanya, semua  benua bergabung menjadi satu dalam supercontinent yang bernama Pangea. 

Supercontinent ini terpisah menjadi beberapa bagian dan bergerak ke arah yang berbeda yang kemudian diberi nama Laurasia dan Gondwana karena adanya gaya yang mendorong pergeserannya. Kedua benua ini Kembali terpecah hingga terbentuklah benua-benua yang kita ketahui seperti saat ini.

Untuk mendukung teorinya, Wegener mengemukakan bukti-bukti yang mendukung teori Continental Drift miliknya, seperti:

  • Kesamaan garis pantai Afrika bagian barat dengan Amerika bagian timur.
  • Kesamaan ckarakteristik hewan di India dan Madagaskar.
  • Kesamaan fosil tanaman dan hewan di India, Afrika Selatan, Australia, Amerika Serikat, dan antartika.
  • Kesamaan jenis dan struktur batuan di Amerika Selatan dan Afrika Barat.
  • Adanya bukit/ridge di tengah Samudra Atlantik.
  • Adanya pergeseran medan magnet bumi.
  • Ditemukannya sisa deposit glasial era Perm-Karbon di benua-benua tadi.

Terlepas dari bukti-bukti yang dikemukakan Wegener, ia tidak mampu menjelaskan alasan apa yang mendasari pergerakan benua terebut hingga saling menjahi satu sama lain sehingga banyak dipertanyakan oleh parah ahli.

Meloncat ke tahun 1950-an, pasca Perang Dunia II, kapal-kapal dengan perlengkapan sonar melintasi lautan untuk mengumpulkan pemetaan profil dasar laut pemetaan bawah laut ini menghasilkan banyak pemenuan baru, salah satunya adalah ditemukannya pegunungan besar di bawah laut dengan Panjang lebih dari 16.000 km di Samudra Atlantik yang kemudian dikenal dengan nama Mid-Atlantic Ridge atau Punggungan Atlantik tengah.

Penemuan-penemuan ini mendorong munculnya teori baru yang dikenal dengan Teori Pemekaran Lantai Samudra atau Sea Floor Spreading yang diajukan oleh seorang ahli geofisika Amerika, Harry Hess, pada tahun 1960. Hess menyatakan bahwa bahan cair dari mantel bumi terus mengalir di sepanjang puncak pegunungan di tengah Samudra. Saat magma mendingin, magma didorong menjauhi sisi punggung bukit. Proses penyebaran ini menciptakan dasar laut baru. Dasar laut baru tersebut kemudian masuk secara perlahan ke bawah kerak  benua dan mengalami penggerusan.

Pemekaran Lantai Samudra (Seafloor Spreading)
Pemekaran Lantai Samudra (Seafloor Spreading)

Banyak bukti yang mendukung Teori Seafloor Spreading. Misalnya saja pada studi yang dilakukan dengan termal probe yang mengindikasikan adanya aliran panas melalui sedimen dasar laut yang pada umumnya sebanding dengan aliran yang melalui benua kecuali di atas pegunungan di tengah samudra, di mana aliran panas pada beberapa lokasi berukuran tiga hingga empat kali nilai normal. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x