Mohon tunggu...
Muhamad Iqbal Al Hilal
Muhamad Iqbal Al Hilal Mohon Tunggu... Mahasiswa - Freelance Writer dan Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam UIN Bandung

Penulis merupakan seorang mahasiswa di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam, yang berkonsentrasi menulis pada isu sejarah, politik, sosial ,ekonomi, hiburan dan lain sebagainya

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Usai Ditegur Menkopolhukam, Harry Tanoe Respon Migrasi Siaran Televisi Digital

4 November 2022   17:55 Diperbarui: 4 November 2022   18:04 444
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi televisi digital/Foto: Siaran Digital Indonesia.com

(04/11/2022)- Perpindahan televisi analog ke televisi digital sudah mulai dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informatika selaku rumah televisi digital yang mana sudah digaungkan oleh seluruh stakeholder dalam hal ini para penyedia layanan baik dari Lembaga Penyiaran Publik ( LPP) TVRI, maupun Lembaga Penyiaran Swasta ( LPS).

Upaya migrasi ke siaran digital ini penting karena selain memiliki beberapa macam keunggulan dari analog juga sangat bermanfaat bagi percepatan koneksi internet dan pemanfaatan frekuensi guna mitigasi bencana.  

Sebagai informasi dalam sambutan yang diberikan oleh Menkopolhukam, Mahfud MD dalam acara penghentian siaran televisi analog atau Analog Switch Off ( ASO) pada tanggal 02 November 2022 lalu tersebut menyebut dengan jelas bahwa Indonesia sudah tertinggal dibandingkan negara lainnya khususnya di Asean. Hanya tersisa Indonesia dan Timur Leste yang masih menggunakan siaran analog.

Dan rencana perpindahan ke siaran digital ini sebetulnya sudah dimulai sejak tahun 2009 namun terhambat pendanaan, infrastruktur sampai belum adanya payung hukum yang memadai untuk diberlakukannya migrasi siaran televisi analog ke televisi digital.

Selepas launching siaran digital pada tanggal 2 November, pada realitanya masih ada beberapa stasiun televisi yang membandel yang tetap mempertahankan siaran analog meskipun pemerintah sudah menginstruksikan agar seluruh stasiun televisi mematikan siaran analog nya.

Stasiun televisi yang dimaksud adalah empat stasiun televisi swasta dibawah naungan MNC Media, yakni RCTI, MNCTV, GTV, I NEWS, serta dua stasiun televisi dibawah naungan Viva Group yaitu ANTV, TVONE dan satu stasiun televisi baru Cahaya TV masih membandel dengan masih menghidupkan siaran secara analog pertanggal 2-3 November dan membuat geram Menkopolhukam sampai-sampai ia berencana mencabut izin ketujuh perusahaan televisi swasta tersebut.

"Ada beberapa televisi swasta yang sampai sekarang masih dalam tanda petik tidak mengikuti atau dalam tanda petik lagi, membandel atas keputusan pemerintah yaitu RCTI, Global TV, MNC TV, Inews TV, ANTV, dan terpantau TV One serta Cahaya TV," kata Mahfud dalam video yang di unggah dalam kanal YouTube Kemenkopolhukam, Kamis (3/11).

Setidaknya dalam acara launching migrasi televisi digital hanya perwakilan dari MNC Media yang tidak menghadiri acara yang digelar oleh Kemkominfo tersebut, terpantau pada tanggal 2 November MNC Media justru mengadakan acara tandingan bertajuk 'MNC Group Anniversary Celebration 33'.

Harapannya tentu semua stasiun televisi harus mau mematuhi aturan yang sudah dibuat dan disepakati bersama tersebut agar semua pihak patuh dan taat terhadap aturan penyiaran televisi digital karena sudah memiliki payung hukum yakni dalam Pasal 72 no 8 Undang-undang Cipta Kerja dalam sisipan Undang-undang Penyiaran.

Sementara itu, dibandingkan dengan lembaga penyiaran swasta lainnya secara tegas justru Harry Tanoe Soedibyo selaku pemilik MNC Media secara tegas menolak mematikan televisi analog karena beralasan karena siaran televisi analog di Jabodetabek semata lah yang dimatikan bukan seluruh Indonesia seperti yang digembar-gemborkan oleh pemerintah dalam hal ini Menkopolhukam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun