Pemerintahan Artikel Utama

Trilogi Pembangunan Orba, Relevankah?

12 Oktober 2018   10:19 Diperbarui: 12 Oktober 2018   13:15 1958 6 2
Trilogi Pembangunan Orba, Relevankah?
http://www.frindosonfinance.com

Saya termasuk generasi yang sangat akrab dengan jargon-jargon Orde baru (Orba). Betapa tidak, waktu masih di bangku sekolah dasar, setiap liburan sekolah harus hafal butir-butir pancasila (eka prasetya panca karsa). Liburan catur wulan selanjutnya harus menghafalkan nama-nama Menteri kabinet pembangunan. 

Belum lagi menghafalkan nama-nama badan tinggi negara beserta pejabatnya. Salah satu mantra yang juga tidak boleh ketinggalan adalah trilogi pembangunan: stabilitas nasional, pertumbuhan ekonomi, dan pemerataan.

Trilogi pembangunan ala Orba, sempat ramai dibicarakan. Pemantiknya adalah pernyataan sekjen Partai Berkarya, Prio Budi Santoso, yang mengatakan bahwa kepemimpinan nasional sebaiknya mempertimbangan konsep trilogi pembangunan Pak Harto.

"Agar negeri ini tidak masuk dalam situasi yang membahayakan", ujarnya. 

Sebagaimana diketahui, Partai Berkarya merupakan Partai yang didirikan oleh kerabat pak Harto, yang memang berupaya untuk  membangkitkan kembali "kejayaan" Orba. Sehingga tawaran Trilogi pembangunan menjadi "jimat" yang diharapkan mampu menjadi pendobrak kekuatan ekonomi, sekaligus menjadi jualan kampanye partai baru ini.

Munculnya tawaran trilogi pembangunan seakan memunculkan nostalgia lama. Beberapa kalangan bergayung sambut, baik yang mengapresiasi maupun yang menolak.

Partai Nasdem misalnya, sangat pesimis dengan implementasi konsep trilogi pembangunan pada konteks kekinian. 

Melalui Sekjennya, menyatakan bahwa tidak mungkin memakai konsep trilogi pembangunan Orde Baru, karena situasinya berbeda.

Konsep dan jargon yang berbau Orba selalu menimbulkan kontroversi, mengingat banyak pihak yang merasa khawatir dengan kebangkitan Orba, meskipun banyak kalangan juga yang "kangen" dengan stabilitas dan "ketegasan" rezim Orba.

Sebenarnya jika kita kaji lebih jauh tentang konsep trilogi pembangunan tersebut, maka ada beberapa hal yang kiranya perlu kita cermati bersama.

Pertama, secara ideal, konsep trilogi pembangunan ini merupakan konsepsi yang baik dan positif. Stabilitas nasional memang menjadi prasyarat sebuah pembangunan. Tidak ada pembangunan dalam bayang kondisi negara yang tidak stabil. Dan stabilitas nasional saat ini juga diperlukan dalam rangka melakukan langkah strategis pembangunan dan meningkatkan kepercayaan dunia internasional.

Demikian juga dengan pertumbuhan ekonomi. Saat ini, untuk mengukur kemajuan sebuah negara (khusunya secara ekonomi) salah satu indikator yang relevan adalah menggunakan angka pertumbuhan ekonomi. Negara maju di dunia, selalu ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. 

Persoalan pemerataan hasil pembangunan kiranya juga merupakan konsep mulia yang harus diperjuangkan, dan ini senantiasa menjadi problem bagi negara dunia ketiga. Pemerataan hasil pembangunan saat ini menjadi tantangan terbesar bagi negara kepulauan seperti Indoneasia ini.

Kedua, dari segi implementasi, trilogi pembangunan ala Orba telah menimbulkan berbagai persoalan baru. Dan hal ini yang kiranya harus diberikan garus tebal, ketika mantra ini hendak diadipsi dalam pembangunan nasional.  

Stabilitas nasional misalnya, telah melahirkan kecenderungan otoritarianisme rezim. Kata kunci "stabilitas" seakan menjadi jurus untuk melumpuhkan berbagai anasir yang dianggap mengancam stabilitas. Mudahnya, demi stabilitas rezim Orba telah merampas kemerdekaan berkumpul dan berserikat. 

Dalih stabilitas, Orba memberi stempel terhadap berbagai pelanggaran HAM dan kemanusiaan. Dan atas nama stabilitas, masyarakat dihadapkan pada negara, kritik dibungkam, kebenaran tunggal, serta hilangnya alternatif. Dan kecenderungan ini sangat kental pada era Orde baru, yang melahirkan kuasa negara sebagai alat represif dan intimidatif terhadap rakyat.