Sosbud Pilihan

Sinetron Religi dan Tampilan Tuhan yang "Kejam"

12 Oktober 2018   07:46 Diperbarui: 12 Oktober 2018   13:11 670 4 2

Agama senantiasa menjadi 'komoditas' manis yang mampu menarik perhatian. Sesuatu yang dibungkus agama, selalu tampak santun, agamis, berpahala dan sebagainya.

Hal ini yang kiranya juga berlaku pada tayangan televisi. Tayangan atau program yang dibalut dengan nuansa religi akan menampakkan sisi-sisi esoterik, yang mampu membangun ghirah dan motivasi beragama seseorang. 

Namun tidak sedikit tayangan religi tersebut yang terkesan kamuflase, hanya sebatas tampilan sampul belaka. Beberapa aktris, presenter yang 'mendadak' religious, dengan tampilan balutan busana yang santri, kiranya hanya menuruti selera pasar penonton belaka. 

Lebih dari itu, tidak ada efek religi dalam perilaku dan keseharian sang model. Sehingga agama benar-benar telah menjadi komoditas bisnis para pelaku program televisi.

Belakangan ini, dunia hiburan trelevisi kembali diramaikan dengan tayangan sinetron religi bertema "adzab".

Kebanyakan dari tayangan tersebut berisikan tentang balasan dari amal dan perilaku kehidupan lakonnya, kadang baik dan tidak sedikit yang buruk.

Judul-judul seperti "Tukang Tahu Bulat Tergoreng Dadakan", "Jenazah Gosong Disambar Petir", "Jenazah Koruptor Masuk Molen" dan sebagainya adalah sederetan contoh tayangan tentang fenomena ini.

Menjamurnya tayangan seperti ini, atau yang penulis istilahkan dengan sinetron religi, memang berawal dari sebuah niatan yang baik.

Ironisnya, semua tayangan tersebut seringkali mempromosikan diri "berangkat dari kisah nyata". Padahal secara faktual, hal-hal yang seperti ini jarang kita temukan. 

Penulis sendiri secara pribadi tidak pernah menyaksikan langsung fenomena "pembalasan Tuhan" seperti ini. Dan di media pun, baik cetak maupun elektronik, "langka" memberitakan fenomena seperti ini, atau kalau ada, ya seribu satu macam.

Sangat tidak sebanding dengan tayangan TV yang banyak dan variatif, yang semuanya menyatakan sebagai kisah nyata.

Kalau begitu, apakah ini sebuah kebohongan publik? Atau hanya bahasa "iklan" sebagai pemanis untuk menarik orang?

Hidup di dunia, adalah cerminan realitas yang serba mungkin. Artinya, semua fenomena hampir selalu ada di dunia ini, dengan frekuensi intensitas yang berbeda tentunya. 

Dan dalam kacamata Islam, tampilan ke serba mungkinan (condition of possibility) ini, banyak digambarkan dari Alquran maupun sejarah Islam.

Alquran secara gamblang menceritakan tentang sosok manusia yang tidak punya ayah dan Ibu, yang kemudian bernama Nabi Adam. 

Alquran juga menggambarkan sosok manusia yang berayah tapi tidak beribu, namanya Siti Hawa'. Ada juga manusia yang beribu tapi tidak berayah, namanya nabi Isa.

Alquran juga menceritakan tentang manusia yang saleh tapi mempunyai anak yang durhaka, namanya nabi Nuh. Ada yang saleh tapi beristri durhaka, namnya nabi Luth. Ada juga, seorang saleh tapi ayahnya kafir, namanya nabi Ibrahim. 

Ada nabi dan rasul mulia, namun pamannya mati dalam keadaan kafir, mananya nabi Muhammad.

Terakhir, ada juga fenomena orang beriman yang "mengenaskan", Nabi Zakariya meninggal karena dibunuh, Nabi Ayyub mengalami sakit yang sangat menjijikkan. Sahabat Umar, Utsman dan Ali, semua meninggal karena dibunuh orang. Apakah semua ini karena amal perbuatan mereka? Wallahu a'lam.

Berbeda dengan umat-umat terdahulu, umat Muhammad adalah umat yang diberi dispensasi oleh Allah. Jika umat-umat sebelum Nabi Muhammad, ketika mereka melakukan kesalahan dan kedurhakaan mereka diadzab seketika itu juga di dunia, seperti umat Nabi Nuh diadzab banjir besar, ummat nabi Luth, diadzab badai batu, umat nabi Musa, diadzab jadi kera, serta banyak contoh lainnya. Namun umat Islam sekarang ini (umat Muhammad) di beri penangguhan adzab, yakni besok di akhirat. Dan inilah yang harus dipahami bersama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2