Mohon tunggu...
Muhamad Mustaqim
Muhamad Mustaqim Mohon Tunggu... Peminat kajian sosial, politik, agama

Dosen

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Narasi Kebangkitan Nasional

20 Mei 2018   11:06 Diperbarui: 20 Mei 2018   11:14 0 0 0 Mohon Tunggu...
Narasi Kebangkitan Nasional
mybothsides.blogspot.com

Kuntowijoyo pernah mengatakan bahwa sejarah Indonesia selalu mengalami apa yang ia sebut sebagai patahan sejarah. Patahan sejarah ini merupakan peristiwa besar yang mengawali perubahan besar sejarah bangsa. Yang menarik, patahan ini terjadi secara siklis, artinya perubahan besar bangsa ini akan mengalami siklus pada periode waktu tertentu. Siklus sejarah bangsa Indonesia diawali pada awal abad 20, yang kemudian dikenal dengan kebangkitan nasional.

Kebangkitan nasional merubakan simbolisasi dari kesadaran nasionalisme bangsa Indonesia akan pentingnya semangat perjuangan melawan kolonialisme. Dalam hal ini, Boedi Oetomo (BO) adalah tonggak lahirnya kesadaran para kaum muda pribumi akan pentingnya organisasi sebagai basis pergerakan kemerdekaan bangsa. Nah, kesadaran nasionalisme ini, tentunya didasari oleh perkenalan bangsa ini dengan pendidikan. Dengan kata lain, BO lahir dari pencerahan akademik bangsa ini dalam dunia pendidikan.

Sebagaimana banyak ditulis dalam buku-buku sejarah bahwa perkenalan pribumi terhadap pendidikan adalah dampak dari politik etis yang ditawarkan oleh Van Deventer. Politik balas budi, nama lain dari politik etis ini merupakan kebijakan humanis Hindia Belanda terhadap bangsa pribumi, atas jasanya terhadap kepentingan ekonomi Hindia Belanda. Selama masa kolonialisasi, tenaga pribumi telah dieksploitasi demi pengembangan industrial Hindia belanda. 

Kebijakan tanam paksa dan kerja paksa (rodi) adalah manifestasi dari eksploitasi ini. Sehingga untuk membalas jasa masyarakat pribumi tersebut, diusulkanlah politik balas budi, melalui trias politika Van Deventer yang berisi transmigrasi, irigasi dan edukasi. Yang terakhir inilah yang kemudian berdampak besar bagi pengembangan karakterstik pribumi Indonesia.

Kenyataan kebangkitan nasional mungkin memang sudah berlalu lebih dari satu abad yang lalu. Dan saat ini boleh jadi tidak ada lagi kolonialisme-imperialisme Hindia Belanda, sebagaimana yang terjadi pada awal munculnya kebangkitan nasional tersebut. Namun kiranya kondisi bangsa saat ini mempunyai karakter yang sama dengan masa imperialisme seabad yang lalu. Memang kolonialisme saat ini tidak berupa penjajahan fisik melalui invasi dari negara lain.

Namun saat ini kita menghadapi kondisi dimana penjajahan dilakukan secara non-fisik, dan bisa jadi dilakukan oleh bangsa kita sendiri. Penjajahan gaya baru, dengan menancapkan hegemoni budaya ke mindset bangsa ini adalah penjajahan yang memiliki nilai penindasan lebih kejam dari penjajahan fisik. Munculnya budaya-budaya asing yang konta-produktif dengan budaya bangsa adalah pengejawantahan imperialisme kekuatan asing di Indonesia. Menjamurnya mental konsumerisme boleh jadi menandakan kemenangan imperialisme gaya baru tersebut. 

Kita, menurut data statistik adalah negara yang angka kemiskinannya relatif tinggi, namun dalam hal konsumsi produk, kita juga memiliki kecenderungan yang tinggi juga. Inilah keberhasilan imperilisme industri global, yang sukses menghegemoni benak masyarakat dengan mental konsumerisme.

Berikutnya, penjajahan juga dilakukan bangsa kita sendiri, yakni dengan adanya eksploitasi warga negara untuk konglomerasi kekayaan pribadi. Sebagian kecil dari para elit bangsa ini memperlakukan bangsa sendiri layaknya budak. Konglomerasi industri, yang meminggirkan hak-hak buruh adalah bagian dari penjajahan secara halus. Demi meraih keuntungan sebesar-besarnya mereka rela memperlakukan saudara sebangsa dengan tidak layak. Rendahnya upah dan pembatasan hak tenaga kerja adalah praktik penindasan dan penghisapan yang bertentangan dengan cita-cita kemerdekaan.

Kebangkitanatau Kebangkrutan?

Melihat kenyataan ini, maka sudah saatnya kita bangkit kembali untuk membangun bangsa ini. Kebangkitan ini harus diawali dengan dua hal. Pertama, membangun pendidikan yang produktif. Sebagaimana para pendahulu kita yang mampu memanfaatkan pendidikan untuk pencerahan, maka kini kita juga harus mampu memanfaatkan pendidikan untuk kebangkitan bangsa. Bangsa yang besar selalu ditandai dengan sisitem pendidikan yang produktif dan berkarakter. Perhatian pemerintah yang besar terhadap pendidikan, baik melalui kebijakan maupun anggaran sudah sepatutnya mampu mengangkat kualitas pendidikan kita.

Kedua, penanaman jiwa nasionalisme. Kebangkitan nasional 1908, merupakan manifestasi semangat sepenanggungan akan bangsa yang terjajah. Kesamaan nasib ini memantik kobaran semangat nasionalisme untuk berjuang bersama-sama dalam merubah nasib menjadi bangsa yang merdeka. Nasionalisme kita saat ini boleh jadi mengalami degradasi pada titik nadhir yang sangat rendah. Betapa kita lihat, sekolompok orang, hanya demi keuntungan, kepentingan bisnisnya atau kepentingan politiknya, rela mengeksploitasi saudara sebangsanya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2