Mohon tunggu...
Mufti Priyanka
Mufti Priyanka Mohon Tunggu... Seniman - Seniman dan Dosen

Seniman dan Dosen Luar Biasa di Telkom Creative Industries School, Bandung. Beberapa pameran tunggal yang pernah diselenggarakan antara lain SLEBORZ di Padi Art Ground, Bandung (2011), Neurotik Djiwo Lohjinawi di Kedai Kebun Forum, Yogyakarta (2012), dan Imajiku, pameran tunggal dokumentasi foto di Omnispace, Bandung (2015).

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Membaurkan Kembali Seni dengan Publik

17 Desember 2020   10:29 Diperbarui: 17 Desember 2020   10:55 191
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: https://indoartnow.com/artists/mufti-priyanka-a-k-a-amenk

Sebagai ekspresi atas pengalaman individu atau kelompok, sebuah karya seni sudah semestinya dekat dengan masyarakatnya. Alih-alih sebuah fenomena keindahan semata, karya seni, --lebih jauh lagi-- menggambarkan tindakan sosial yang bermakna dan memproyeksikan pemahaman tentang kehidupan manusia.

Hubungan antara masyarakat dan berbagai bentuk seni telah menjadi perhatian skolastik di masa lalu. Namun pendekatan sosiologis untuk memahami seni, baru terjadi pada awal abad kesembilan belas. Beberapa upaya paling awal untuk menggali dan memeriksa relasi seni dengan masyarakat terjadi di Zaman Renaissance ketika seni berkembang di Eropa dan semangat intelektual menciptakan kebutuhan untuk menjelaskan berbagai fenomena sosial.

Kendati demikian, relasi antara seni dan masyarakat kerap dipengaruhi juga oleh iklim sosial politik yang berubah dari zaman ke zaman. Pengalaman yang sama terjadi hampir di seluruh dunia tak terkecuali di Indonesia.

Ambil satu contoh di masa Orde Baru. Dengan indikasi rezim yang cenderung otoriter, membuat ruang gerak seniman dibatasi untuk menunjukkan karyanya. Beberapa seniman maupun pelaku kreatif bahkan kerap mengalami intimidasi, penangkapan, pemberedelan, hingga pembubaran paksa pertunjukan.

Dekade 1970 mungkin bisa disebut sebagai puncak campur tangan Orba pada kesenian di Indonesia. Secara tidak sadar karya yang dihasilkan menggambarkan realitas baru hasil “pesanan” Orba. Pergeseran nilai edukasi pada kesenian pun akhirnya hanya bertumpu pada aspek fenomena keindahan dan sajian fantasi-fantasi bersifat ilusi saja. 

Ini diperlukan untuk mengakomodir kebutuhan politik saat itu. Alhasil, kesenian seakan-akan hanya menjadi pelengkap dan berjarak dengan masyarakatnya sendiri. Nilai kritis pada ruh kesenian menjadi bias dan menghilang dikarenakan tekanan yang besar.

Pada perkembangannya, realitas ini berangsur berubah seiring goyahnya rezim Orba di tahun 1997-1998 dengan gelombang reformasi yang menyuarakan demokrasi. Perubahan tersebut memengaruhi keberlangsungan kesenian lokal yang perlahan kembali “hidup” beriringan dengan masyarakatnya. Beraneka kegiatan pergelaran kesenian dan pameran-pameran seni rupa yang beraneka ragam bergejolak kembali tanpa batas. Praktik kesenian pun kembali mewakili suara-suara kecil yang tidak hanya bertumpu pada sentralisasi sebuah kepentingan politik tertentu.

Di masa Pra-Reformasi, tentunya kesenian tidak hanya berbicara pada sebuah fenomena keindahan semata, namun di wilayah estetika dan pengaruh dinamika wacananya membangkitkan perhatianbaru dalam mengekspresikan sesuatu di dalam rangkaian pelbagai interaksi sosial. Kesenian tidak hanya bertumpu pada pemilihan “Hitam – Putih” saja, namun dipercaya mengemban misi kultural lebih luas sebagai bentuk ekspresi yang sangat dikotomis.

Perkembangan tersebut berpengaruh seiring waktu dan kondisi kekinian yang memicu para pegiat seni dan medan sosialnya untuk membahas kembali kepentingan posisi pendidikan kesenian di masyarakat yang serba plural. Menjadi bagian dari khazanah kebudayaan yang lebih universal.

Peran penting seniman salah satunya menjadi figur yang memikul varian pesan-pesan keseharian realitas sosial masyarakat dalam mengungkap banyak nilai kekritisan tertentu sebagai bentuk ekspresi. Melalui karya-karyanya, seniman mewakili perubahan-perubahan besar maupun kecil yang dipengaruhi oleh perkembangan pengetahuan dan kemajuan teknologi pada saat ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun