Mohon tunggu...
Mudjilestari
Mudjilestari Mohon Tunggu... Freelancer

Nama lengkap Mudjilestari tapi lebih sering disapa dengan Tari Abdullah profesi sebagai penulis, conten creator, dan motivator. Ibu dari 4 anak berstatus sebagai single parent. Berdarah campuran sunda - jawa.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen: Peperangan Batin

6 Juni 2020   05:34 Diperbarui: 6 Juni 2020   05:44 28 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen: Peperangan Batin
Ilustrasi/peperangan/photo:doc.pri


"Aku ingin kamu menikah dengan Mas Anan." Gischa mengucap kalimatnya lirih, namun cukup membuat Lintang seperti mendengar petir di siang benderang.
"Kamu nggak lagi mengigau kan, Gis?" tanya Lintang mencari kebenaran di kedalaman mata Gischa.

Gischa menggeleng, tak ada aura main-main dalam tatapnya. Ia bahkan menatap Lintang dengan penuh harap.

"Aku serius, Tang." Gischa menekankan sekali lagi kalimatnya, membuat Lintang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Seumur hidup baru kali ini ada perempuan yang meminta perempuan lain untuk menikahi suaminya. Permainan gila macam apa ini.. Lintang menyugar kasar tak tahu harus berkata apa.

"Gischa.." Lintang menatap lekat sahabatnya.

"Selama kita bersahabat,  kamu memang selalu penuh kejutan dengan candaan kamu. Tapi kali ini candaan kamu nggak lucu."

"Aku nggak lagi becanda, sayang." Gischa mencolek hidung Lintang yang mancung.

"Stop! Don't kidding anymore! Kamu bukan cuma membuat aku terkejut, tapi hampir pingsan karena kegilaan kamu."

Gischa tersenyum,  memutar kursi rodanya hingga sekarang mereka berhadapan. Lalu diraihnya tangan Lintang.

"Aku minta tolong sangat.. Menikahlah dengan Mas Anan..! Bahagiakan dia..!"

"Tunggu..! Maksudmu apakah...."

"Mas Anan cukup bahagia menikah denganku" Gischa memotong kalimat Lintang.

"Tapi itu sebelum aku lumpuh. Setelah aku lumpuh, aku tidak lagi bisa menjadi istri yang sempurna."  

Lintang menatap sahabatnya, ia paham..melihat bagaimana kesabaran Anan merawat Gischa dalam mencintai perempuan itu memang luar biasa.

"Setelah peristiwa malam itu di Masjid Rumah Sakit, Mas Anan banyak berubah. Sikapnya makin sabar, hatinya makin lembut. Bahkan makin hari ibadahnya juga makin baik. Cintanya pada Allah juga makin total. Mas Anan tak pernah mengeluhkan sedikitpun tentang kondisiku." Kali ini ada nada sedih dalam ucapan Gischa.

"Aku terus menjalani Fisioterapi dengan support dari Mas Anan. Namun Allah kembali mengujiku. Sekitar dua tahun yang lalu di saat aku mulai bisa berjalan dengan alat bantu,  dokter menemukan benjolan semacam tumor pada tulang belakang. Tumor itu memang bisa diangkat, tapi aku kembali lumpuh bahkan makin parah dari sebelumnya."

"Ya Allah, Gischa." Lintang makin erat menggenggam tangan Gischa.

"Saat itu Mas Anan memang masih berkecimpung dalam dunia riba, bekerja sebagai sales dealer mobil, dan sesuai janji Allah, Dia sendiri yang akan memerangi mereka yang bermain riba. Rupanya Allah benar-benar ingin membersihkan keluarga kami dari noda, dengan ujian melalui sakitku."

Air mata Lintang mulai menggenang, dipeluknya Gischa hingga ia bisa merasakan betapa berat jalan yang harus di lewati untuk bertahan dalam ketaatan pada Rabb-Nya.

"Mas Anan bertekat untuk hijrah sebenar-benarnya hijrah. Ia tinggalkan pekerjaannya yang sedang berada di puncak karir, saat penghasilan sedang bagus-bagusnya, demi ketaatan pada Allah, demi meraih cinta-Nya."

"Kamu sudah melewati rintangan yang begitu berat, kamu harus yakin kamu bisa melewati rintangan selanjutnya. Bukankah doktermu bilang kamu akan sembuh?" Lintang melepas pelukannya, membiarkan Gischa menghirup segarnya udara pagi yang basah oleh embun.

"Tang, seorang laki-laki adalah makhluk yang sulit memendam hasrat kelaki-lakiannya. Mas Anan sudah bersabar delapan tahun."

"Mas Anan memang tak pernah mengeluhkan ketidak sempurnaanku sebagai istri. Selama itu pula kami tak pernah melakukan hubungan suami istri. Kamu bisa bayangkan kan, Tang? Tapi aku tahu... Mas Anan memendam semuanya demi ketaatan pada Rabb-Nya. Ia tak sedikitpun mengeluh karena takut menyakiti perasaanku. Sejauh ini tak ada yang tahu kapan aku bisa kembali menjadi wanita normal."

"Tolong, Tang! Menikahlah dengan Mas Anan, aku percaya kamu bisa bahagiakan dia."

Lintang menunduk, menghindari tatapan Gischa yang begitu jujur, dan tulus menginginkan kebahagiaan suami yang dicintainya.

Lintang menghela napas panjang, perempuan mana yang tak ingin menikah. Dulu saat ia menikah dengan Bayu suaminya, ibunya pernah mengatakan bahwa pernikahan adalah ladang pahala terbesar bagi seorang perempuan. Menikah adalah wasilah untuk menyempurnakan separuh agama, karena pernikahan adalah ibadah terlama yang diridhoi Allah. Tapi untuk menikah dengan laki-laki beristri tak pernah ada dalam pikirannya, apalagi laki-laki itu adalah suami sahabatnya sendiri. Apa kata orang nanti? Pasti akan banyak mulut-mulut yang menyinyiri sebagai pelakor, nggak laku,  perempuan nakal, janda gatal dan.... aaarrhhh Lintang tak sanggup melanjutnya senandikanya.

"Tapi apakah Mas Anan mau menikah denganku." Lintang berusaha mengelak.

"Insyaa Allah. Kalau aku yang minta, Mas Anan pasti mau," jawab Gischa yakin, wajahnya mendadak cerah.

"Hei, Nona.  Kamu lupa ya kalau dulu Mas Anan pernah suka sama kamu," imbuh Gischa, matanya mengerling menggoda Lintang.

"Dan kamu lebih memilih Mas Bayu yang lebih ganteng... Padahal kalau saja Mas Anan waktu itu tidak gondrong dan penampilannya rapi kayak Mas Bayu, pasti kamu bakalan lebih milih Mas Anan," seloroh Gischa terus menggoda Lintang.

"Ah... Kamu ini, jangan buka masa lalu, dong!" Lintang memerah malu, tapi dalam batinnya mengakui apa yang dikatakan Gischa benar. Waktu itu tak sedikitpun ia melirik Anan, laki-laki gondrong yang rambut ikalnya selalu diikat ekor kuda, dan pergi kuliah selalu mengenakan jins dengan lutut robek....

"Nah, berarti benar kan kalau sebenarnya kamu juga pernah suka sama Mas Anan." Gischa seperti belum puas menggoda Lintang.

"Aku yakin kamu juga pernah suka.." Kalau saja ada kaca pasti Lintang bisa melihat wajahnya yang seperti kepiting rebus menahan malu.

"Tolong pikirkan permintaanku. Aku akan bahagia kalau Mas Anan bahagia. Aku yakin Mas Anan bisa menjadi suami yang adil. Dan aku juga nggak akan cemburu jika nanti Mas Anan menghabiskan waktu lebih banyak bersamamu.."

Kepala Lintang mendadak pusing. 'Bagaimana bisa perempuan ini begitu entengnya menyerahkan orang yang dicintainya pada orang lain tanpa beban, kegilaan macam apa ini. Dan aku..., haruskah aku ikut dalam kegilaan ini..? Tidak.. Oh, jangan..! Ingat Lintang! Gischa itu sahabatmu, jangan sakiti dia!  Lalu apa kata orang jika kamu menikah dengan laki-laki beristri? Kamu punya Remund yang lebih layak dinikahi karena dia duda. Jangan khianati cintanya. Remund laki-laki baik yang meletakkan harapannya padamu.'

Aaarrrrhhh

Lintang menggelengkan kepalanya kuat-kuat menepis berbagai macam pikiran absurd di kepalanya. Baru kali ini Lintang harus berperang melawan akal sehatnya.

*

"Mas, bolehkah aku minta sesuatu?" Gischa bergayut manja pada leher suaminya.

"Apa?" tanya Anan tanpa mengalihkan perhatian dari buku yang sedang dibacanya.

"Tapi janji ya, Mas akan mengabulkan.."

"Iya... Memang kamu mau minta apa?"  Anan merasakan gelagat yang kurang enak. 'Pasti ada sesuatu' batinnya.

"Mas, aku akan melamarkan seorang perempuan untuk menjadi istrimu."
Kata-kata Gischa malam itu seperti kilat yang menyambar tiba-tiba. Anan menutup bukunya, menatap istrinya lekat.

"Kamu ini bicara apa?" Anan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Aku ingin Mas menikah lagi," ucap Gischa lirih.

"Aku ridho, Mas. Aku tahu aku tidak sempurna. Aku tidak bisa menjadi istri yang bisa memenuhi kebutuhan batinmu. Aku tahu, walau Mas tidak pernah mengatakan apapun, tapi Mas sangat tersiksa."

"Sayang, dengar..! Aku mencintaimu apa adanya. Setiap orang berhak untuk mendapatkan yang terbaik, dan yang terbaik dalam hidupku adalah memilikimu, mencintaimu tanpa melihat kekuranganmu."
Anan mengelus kepala Gischa, merebahkan dalam pelukannya.

"Kenapa sampai kamu berpikir kalau aku tidak bahagia dengan pernikahan kita."

Gischa melepas pelukan Anan, ia meraih tangan laki-laki kekar itu,  mencium punggung tangannya takjim. Lalu meletakkan tangannya di atas tangan suaminya. Gischa menatap sepasang netra laki-laki yang begitu dicintainya itu.

"Ini tanganku di atas tanganmu, Mas. Hidupku tidak akan bahagia tanpa ridhomu. Aku tak akan pernah bisa masuk surga tanpa ridhomu, karena ridho Allah ada padamu. Jadi tolong ridhoi aku untuk memberikan kebahagian untukmu."

"Tapi tidak dengan cara menyuruhku menikah lagi. Apapun yang kamu lakukan selama tidak menyalahi syariat agama kita, aku akan ridho." Anan menghela napas panjang, tak mengerti arah bicara istrinya.

"Dan menyuruhmu menikah lagi itu tidak menyalahi syariat, kan?"

"Iya sih." Anan menyugar kasar, kalimatnya seperti bumerang yang menghantam dirinya sendiri.

"Aku tahu benar, Mas. Sejak aku sakit aku tak bisa melayanimu sebagai seorang istri. Aku tak bisa memenuhi hasrat biologismu."

"Apakah selama ini pula aku menuntut pemenuhan hasrat biologisku?" Anan membalik ucapan Gischa.

"Tapi aku merasa bersalah, melihatmu selalu memendam hasrat biologismu, membuatku terbeban. Maka aku memohon, Mas.. Tolong angkat bebanku dengan mengijinkanmu menikah lagi."

Anan menggeleng-gelengkan kepalanya. Jujur selama ini ia memang selalu memendam hasrat kelaki-lakiannya semenjak Gischa sakit. Tapi tak sedikitpun terpikir untuk menikah lagi. Ia terlalu mencintai perempuan yang dinikahinya lima belas tahun silam. Melewati berbagai macam ujian, jalan lurus, dan berkelok, terjal dan mendaki telah dilalui bersama, Perempuan yang selalu memandangnya penuh cinta saat hatinya rapuh dan imannya mulai goyah. Selalu mengingatkan bagaimana proses hijrahnya yang jatuh bangun. Dan semakin ia melihat cinta di mata Gischa, semakin bertambah pula cinta kepada Rabb-Nya.

"Mas, aku sangat bersyukur dan berterima kasih Mas sudah banyak bersabar dan berkorban selama ini, sejak awal pernikahan, mendampingi saat aku sakit bertahun-tahun, serta membimbingku sampai pada hijrahku. Bagiku dipertemukan denganmu dan menjadi istrimu adalah anugerah yang tidak terhingga. Tapi aku menyadari ketidak sempurnaanku. Aku tak ingin berlaku dzalim padamu, Mas. Dan aku tak bisa melanjutkan pernikahan ini jika Mas tidak bahagia karena itu semakin menambah rasa bersalahku sebagai istri yang tidak bisa menjalankan kewajiban dengan layak." Lembut Gischa mengucapkan kalimatnya sambil tetap meletakkan tangannya di atas tangan Anan.

"Tapi aku tidak mau menceraikanmu. Aku nggak akan sanggup berpisah dengan anak-anak kita," ucap Anan gamang.

"Aku juga nggak mau bercerai darimu, Mas. Aku ridho dimadu. Aku ikhlas demi kamu bahagia."

Anan masih bergeming, Gischa menatap kedalaman mata suaminya mencoba menanam keyakinan.

"Apakah ada perempuan yang mau menjadi madu dan berbagi suami?"

"Insyaa Allah.."

"Entahlah... Aku nggak tahu apakah harus menerima permintaan gilamu ini atau tidak." Anan bangkit dengan pikiran gusar. Entah apa yang merasuki pikiran Gischa hingga punya pemikiran segila ini. Mana mungkin ada perempuan yang mau dimadu dan menjadi madu.

"Tolong pertimbangankan, Mas," pinta Gischa sebelum Anan melangkah keluar kamar.

Anan menatap hamparan karpet bergambar Masjid sambil menyelonjorkan kakinya. Kata-kata Gischa seperti tsunami yang memporak porandakan pikirannya. Entah setan apa yang merasukinya sampai bisa punya usulan gila seperti itu.

Memang selama ini  Gischa sering nampak kelelahan mengurus keperluannya dan anak-anak. Walau perempuan itu tak pernah mengeluh, tapi Anan bisa merasakan bahwa Gischa seperti tertekan dengan kondisi phisiknya yang lemah. Kadang Anan dengan suka rela sering membantu menyelesaikan pekerjaan rumah.

Masalah hubungan suami istri..? Anan juga tak pernah membahas karena ia tahu Gischa tak mampu melakukannya. Apakah justru karena Anan tak pernah membahasnya Gischa merasa tertekan? Padahal selama ini Anan tak mau membicarakan hal itu karena khawatir Gischa tersinggung.

"Astagfirullah," gumam Anan membuang napas beratnya.

"Assalamualaikum," sapa seseorang. Anan mengenali suara itu.

"Waalaikumussalam," jawab Anan bangkit menyalami laki-laki yang menyapanya.

Abah Hussain, orang biasa memanggilnya. Laki-laki setengah baya yang sering memberikan tausyiah dan menjadi rujukan bila ada yang ingin diskusi masalah agama.

"Saya tadi mampir ke warung, ternyata Antum ada di sini," ujar Abah Hussain.

"Ada apa nyari saya, Bah?" Anan sedikit kaget.

"Ah... nggak apa-apa, cuma kebetulan Umminya anak-anak pengen Bakso."

"Oh.. saya kira ada apa, Bah." Dalam hati Anan berpikir, mungkin tidak ada salah mendiskusikan masalah yang sedang dihadapi dengan Abah Hussain.

"Oh ya, Bah.. boleh saya nanya sesuatu."

"Silakan.. monggo mau tanya apa?"

Anan mengumpulkan keberanian, menguatkan hati lalu menghela napas panjang. 'Bismillah, semoga Abah Hussain bisa memberikan pencerahan' bisik hatinya.

"Ehmmm anu.. Saya mau tanya bagaimana hukumnya laki-laki yang berpoligami."

Abah Hussain menatap Anan penuh selidik, sedikit menggoda lalu tersenyum

"Siapa yang mau poligami? Antum mau menikah lagi?" Ditanya seperti itu Anan tersipu.

"Saya tidak tahu, Bah," jawab Anan lirih.

"Istri saya meminta saya menikah lagi karena ia kasihan sama saya. Sejak istri saya sakit, kami memang sudah tidak pernah melakukan hubungan suami istri lagi. Dia merasa bersalah, lalu menyuruh saya menikah lagi karena ingin melihat saya bahagia."

"Masya Allah..."

"Kalau istri Antum sudah mengijinkan, lalu kenapa nggak dijalankan? Menikah itu ibadah lho.. Ibadah yang enak, berpahala lagi.." Abah Hussain tertawa membuat Anan makin tersipu.

"Maksud saya.., bagaimana hukumnya jika saya menikah lagi," ujar Anan lirih.

"Begini, ilmu itu adabnya mendahului amal. Seseorang harus mempunyai ilmunya lebih dulu sebelum mengamalkannya. Dimulai dari meluruskan niatnya. Paham kan, Antum?" Abah Hussain menjelaskan, Anan mengangguk.
 
"Agama kita memang mengijinkan seorang laki-laki memiliki istri lebih dari seorang, hukumnya sunnah. Namun sebelum Antum memutuskan untuk berpologami, Antum juga harus pahami hak-hak istri. Karena seorang istri juga memiliki hak atas diri suaminya. Jika Antum meminta sesuatu kepada istri-istri Antum, ingatlah bahwa sesungguhnya Antum juga berkewajiban untuk memberikan kepada istri-istri Antum sesuatu yang  semisal dengan apa yang Antum minta."

"Pahami lagi hak-hak istri, sehingga Antum bisa bersikap adil atas mereka. Dan tidak berlaku dzalim pada salah satunya. Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf.  Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan dari pada istrinya. Satu lagi yang perlu Antum garis bawahi, bahwa sekalipun Antum berusaha untuk menjadi adil dalam pembagian materi, waktu dan perhatian. Antum tak akan pernah bisa adil dalam hal perasaan. Karena hati itu tidak pernah bisa netral, hati cenderung akan condong ke salah satu hal."

"Bahkan Antum tahu, sekelas Rasulullah saja lebih condong hatinya pada ibunda Khadijah dan Aisyah dibanding istri-istri Beliau yang lain. Hingga Beliau  menceraikannya sebagian karena takut tidak bisa berbuat adil. Dan katanya nanti laki-laki yang memiliki istri lebih dari seorang, dan tidak dapat bersikap adil pada salah satunya, kelak di hari kiamat akan dibangkitkan dengan bahu miring sebelah. Tsumma Naudzubillah."

Anan merenung. Seandainya ia menikah lagi, bisakah ia berlaku adil? Seberapa besar cinta yang bisa ia bagi untuk istri keduanya nanti.

Isshhh...

Kenapa tiba-tiba berpikir tentang istri kedua? Sebenarnya siapa perempuan yang diajukan Gischa untuk menjadi istri kedua. Darimana asalnya.. Dan kenapa Gischa bisa begitu yakin dan percaya pada perempuan yang akan menjadi madunya? Apa benar ada perempuan yang mau dijadikan madu..

"Banyak-banyaklah meminta petunjuk Allah. Karena istri itu amanah yang berat. Tahukah Antum siapa yang paling mudah menyeret suami ke neraka di akhirat nanti? Tidak lain dan tidak bukan adalah istri-istri dan anak-anaknya sendiri. Apa saja hak-hak istri dan anak yang tidak ditunaikan, itulah yang paling cepat menyeretnya. Jikalau seorang suami berlaku dzalim kepada istrinya di dunia, sama seperti ia telah berlaku dzalim pada dirinya sendiri di akhirat yang akan datang." Abah Hussain mengakhiri kalimatnya. Lalu pamit karena hendak mengantar bakso pesanan istrinya.

"Jangan lupa kalau Antum jadi menikah, saya diundang." Abah Hussain menggoda Anan yang masih menunduk, berusaha mencerna nasehat Abah Hissain yang terasa begitu dalam menghujam. 'Ya Allah, apakah aku tidak berlaku dzalim pada Gischa jika memutuskan menikah lagi? Tapi tidak mengabulkan keinginannua juga akan menyakitinya.' Anan mengentak-entakan kepalanya di dinding.

*

Dua bulan berlalu sejak pertemuan Lintang dengan Gischa pagi itu. Lintang mulai menyibukkan diri dengan  kegiatan barunya bersama Sitha membuka toko pakaian online.

Setiap hari Lintang mengecek emailnya dengan setia. Meneliti satu persatu email yang masuk, berharap ada kabar dari Remund. Tapi laki-laki itu seperti menguap, hilang tanpa bekas.

Berkali-kali Lintang menatap layar laptopnya, meneliti setiap huruf yang tertulis di sana, barangkali ada yang terlewat. Namun sesering itu pula ia kecewa tak menemukan apa yang dicari.

Rindunya memberontak, hatinya ingin teriak, tapi untuk apa? Sedang saat ini Lintang tak tahu apakah laki-laki di belahan bumi sana masih menyimpan rindu untuknya.

Lintang terus bersenandika, 'Apakah harus berhenti berharap.. rasanya masih terlalu dini untuk menyerah.. tapi hati juga butuh kepastian.. Jika harus bersabar, sampai kapan? Sementara rindu sudah tak sabar, tak mau diajak kompromi, apalagi harus lebih lama menanti.'

Lintang menghela napas panjang, seminggu yang lalu Gischa menanyakan jawaban kesediaannya menikah dengan Mas Anan. Lintang belum memutuskan apapun, hatinya masih berharap pada Remund, tapi kabar laki-laki Jerman itu  tak kunjung menyapa. 'Haruskan aku menerima menikah dengan Mas Anan? Tapi untuk alasan apa menikah dengan laki-laki beristri? Lintang tak menemukan alasan yang tepat. Apakah hatinya sudah tak lagi bisa merasio nalurinya.

Kalau saja Lintang bisa minta pendapat orang lain, mungkin ia tak segalau ini. Tapi tidakkah terlalu naif membicarakan hal yang tabu? Ah bukan, menikah bukan hal yang tabu.. tapi menikah dengan laki-laki beristri...

Aarrghh

Lintang menutup laptopnya, mencari udara segar di teras mungkin bisa mendinginkan hatinya yang mendidih.

"Selamat siang, Mbak Lintang." Dewi menyapa sambil mengembangkan senyum.

"Eh Mbak Dewi," sapa Lintang membalas.

"Udah mau pulang, Mbak?"

"Eh.. iya, Mbak," jawab Dewi.

"Udah habis buburnya?"

"Belum sih, Mbak. Tapi saya mau pulang, ini lho badan saya kok rasanya capek banget."

"Mbak Dewi sakit?" Lintang meraba tangan Dewi, demamnya lumayan tinggi. Lalu membuka panci bubur yang masih tersisa banyak.

"Boleh saya beli buburnya, Mbak?" tanya Lintang. Ia tak yakin untuk apa bubur sebanyak itu, tak mungkin juga ia menghabiskan. Lintang cuma ingin menolong Dewi, perempuan itu  butuh ke dokter.

"Oh.. monggo, Mbak. Mau dibungkus apa gimana?"

"Hmm.. saya ambil mangkok aja ya, Mbak." Lintang masuk mengambil tiga buah mangkok, menyerahkan pada Dewi.

"Gula sama kelapanya jangan dicampur! Biar nggak cepat basi." Perempuan itu mengangguk lalu menyiapkan bubur dengan cekatan, dalam sekejab bubur telah berpindah ke dalam mangkok.

"Ini Mbak, monggo."  

"Oya.. Terima kasih." Lintang mengeluarkan tiga lembaran berwarna merah.

"Mbak, ini buat buburnya," kata Lintang sambil menyerahkan satu lembaran merah.

"Dan ini buat ke dokter. Mbak Dewi harus ke dokter, kalau masih sakit besok jangan jualan dulu." Lintang memasukkan dua lembaran merah ke saku Dewi.

"Waduh..! Ini terlalu banyak, Mbak. Saya jadi nggak enak sama Mbak Lintang."

"Nggak apa-apa, kebetulan saya lagi ada rezeki." Lintang mengelus pundak Dewi yang sedikit bergetar.

"Jangan lupa ke dokter!"

"Nggih, Mbak.. Matur Nuwun sanget. Saya pamit dulu." Dewi mengangguk lalu menaiki sepeda tuanya.

"Hati-hati, Mbak,"

Lintang menyugar, bubur  sebanyak ini buat apa? Ia hanya ingin menolong Dewi, iba melihat perempuan baik itu masih harus berjualan keliling dalam keadaan sakit.  

Sedangkan Anggie sedang ada kegiatan di Kampus, Bobby latihan basket pasti sore baru pulang. Kalau tidak dimakan sayang.. Tiba-tiba Lintang ingat, bukankah Sitha suka bubur sumsum? 'Ya, buat Sitha aja.' Lintang mengambil rantang dan memindahkan bubur ke dalam rantang. 'Pasti Sitha suka,' gumamnya dalam hati.

"Assalamualaikum."

"Gischa," pekik Lintang terkejut, tiba-tiba Gischa muncul di hadapannya.

"Waalaikumussalam. Kamu...."

"Aku tadi diantar Mas Anan," ujar Lintang menjawab keheranan Lintang.

"Ohh.. lalu mana Mas Anan?" Lintang melongokkan kepalanya mencari sosok yang disebutkan Gischa.

"Ha ha... Nyari Mas Anan, ya? Pasti kamu kangen." Gischa terkekeh tanpa beban.

"Isshhh..., apaan sih? Cuma kaget aja kok tiba-tiba kamu nongol di sini."

"Mas Anan cuma mengantar aku, dia sudah pergi, katanya ada urusan sama temannya."

Lintang manggut-manggut, matanya tertuju pada bungkusan besar yang ada di pangkuan Lintang. Ia memandang penuh selidik. Gischa tertawa penuh arti, tangannya membuka bungkusan lalu menunjukkan pada Lintang.

"Apa ini....?" Lintang memandang Gischa tak mengerti.

"Untukmu, bukankah kamu bilang mau berhijab."  

"Kamu..." Lintang tergagap, benar-benar tak mengerti kemana arah pembicaraan Gischa. Lintang menerima bungkusan dari tangan Gischa.

"Ini kado dari aku, hadiah khusus untuk milad kamu. Semoga kamu suka dan mau memakainya."

"Milad...?"

"Iya.. Bukankah hari ini milad kamu?"

"Astagfirullah." Lintang menepuk dahinya. Bahkan ia lupa dengan hari lahirnya sendiri.

"Ya ampun, Gischa..Ini cantik banget," ujar Lintang memperhatikan satu stel gamis berwarna kuning gading dan jilbab bermotif bunga kecil-kecil dengan warna senada.

"Bukan gamisnya yang cantik, tapi kamu jika pakai gamis ini," kilah Gischa. Lintang tertawa.

"Selamat datang di jalan hijrah, jalan yang dicintai perindu surga. Kamu siap berhijrah, kan?" Lintang terpana, tak menyangka Gischa begitu perhatian sampai begitu detil. Waktu itu Lintang pernah mengutarakan keinginannya untuk berhijab, tapi Lintang belum benar-benar bisa melakukan. Jilbabnya sesekali dipakai, namun lebih sering ia tampil polos.

"Insyaa Allah, bantu aku ya..," bisik Lintang memeluk sahabatnya.

"Pelan-pelan saja, semua butuh proses dan waktu yang akan membantu perjalanan hijrahmu," ujar Gischa.

"Setiap orang pasti akan menemukan waktu yang tepat untuk mendapatkan hidayah. Semua butuh proses. Semoga kamu bisa istiqomah."

"Coba kamu pakai..!" pinta Gischa. Lintang masuk ke kamarnya, tak sampai sepuluh menit ia sudah muncul dengan penampilan baru.

"Masya Allah, kamu cantik banget," decak Gischa kagum. Lintang tersenyum, tampak begitu cantik dengan gamis kuning gading, serasi dengan warna kulitnya yang putih.

"Sini aku bantu pakai jilbabnya," Gischa membantu Lintang merapikan jilbabnya.

Lintang makin tersipu, ia merasa seperti ada debaran yang mengharu biru, ini pertama kali ia memakai gamis sempurna. Sebelumnya ia hanya memakai bawahan midi atau celana kain yang dipadu dengan blus lengan panjang. Jilbabnya pun belum menutup sampai ke dada sesuai syariat. Ada sejuk, ada takjub, ada haru dan bahagia bercampur jadi satu.

"Masya Allah, Lintang. Kamu cantik." Gischa menyentuh pipi Lintang, menelusuri setiap lekuk wajah Lintang dengan jarinya.

"Sempurna... Mas Anan pasti akan mencintai kamu," gumam Gischa, matanya berkaca-kaca.

"Kamu mau kan menikah dengan Mas Anan?"

Lintang menangkap kedua tangan Gischa, mendekap di dadanya. Perempuan mana yang tak cemburu membayangkan suaminya mencintai perempuan lain. Lintang tahu, Gischa meletakkan ketaatannya pada sang Rabb di atas segalanya, meski ia harus mengabaikan perasaannya. Gischa cuma ingin suaminya bahagia, apapun caranya.

Hati Lintang bergetar,  apa yang harus dilakukan? Mengabulkan permintaan Gischa artinya sama dengan menyakiti. Tapi tidak mengabulkan juga pasti Gischa akan kecewa karena Lintang tahu Gischa terlanjur mempercayainya dan meletakkan harapan  padanya. Sungguh perang batin yang tak mudah ditengahi. Lalu harus bagaimana..

"Lintang..," Gischa berbisik lembut.

"Berjanjilah untuk menerima Mas Anan sebagai suamimu. Mas Anan akan menjadi Imam yang akan membantu proses hijrahmu."

Lintang menatap mata sahabatnya lekat, ada harap yang tulus di sana. Lintang merasa matanya panas, tak sanggup ia membayangkan bagaimana perasaan Gischa ketika melihat dirinya bermesraan dengan suaminya. Pasti akan sakit.. Lintang tahu, sahabatnya itu mengorbankan perasaannya sendiri hanya untuk mendapatkan ridho Rabb-Nya. Batin Lintang terus berperang, ia menghela napas panjang.

"Maaf, aku masih butuh waktu."  Kata-kata itu meluncur dari bibir Lintang yang gemetar. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk mengulur waktu, entah sampai kapan. Mungkin sampai ia bisa memenangkan peperangan yang berkecamuk riuh di batinnya

*

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x