Mohon tunggu...
Mudjilestari
Mudjilestari Mohon Tunggu... Freelancer

Nama lengkap Mudjilestari tapi lebih sering disapa dengan Tari Abdullah profesi sebagai penulis, conten creator, dan motivator. Ibu dari 4 anak berstatus sebagai single parent. Berdarah campuran sunda - jawa.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen: Cinta Tak Bersyarat

4 Juni 2020   06:46 Diperbarui: 4 Juni 2020   06:52 30 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen: Cinta Tak Bersyarat
Ilustrasi/cinta/photo: doc.pri

Jadwal kontrol Gischa tiba,  pagi-pagi perempuan itu sudah menelepon Lintang memintanya menemani ke rumah sakit. Lintang menyanggupi,  setelah berhenti kerja, ia belum memiliki kegiatan selain menghabiskan waktu bersama Anggie dan Bobby.
Pukul delapan tepat Lintang sudah memarkir mobilnya di depan warung Bakso Barokah. Nampak Gischa menyambut di teras, mengenakan gamis merah maron dengan jilbab senada, senyumnya mengembang melihat kedatangan Lintang.

Anandito yang sibuk mengatur posisi mobil agar Gischa mudah mencapainya dengan kursi roda tersenyum menyapa Lintang.

Gischa memajukan kursi rodanya mendekati mobil,  perempuan itu sudah mandiri, terlihat biasa beraktifitas di atas kursi rodanya. Bahkan menolak ketika Lintang berniat membantunya.

Mobil yang dikemudikan Anan berhenti di rumah sakit ternama, Lintang menatap Gischa masih penasaran sebenarnya apa yang menimpa sahabatnya hingga kondisinya lumpuh.

Dengan cekatan Anan membopong Gischa keluar dari mobil, meletakkannya di kursi roda kemudian mendorongnya menuju bagian fisioterapi. Rupanya Anan sudah mendaftarkan nomer antrian karena tak ingin menunggu terlalu lama.

Dokter Fisioterapi nampaknya sudah akrab dengan Gischa. Menyapa ramah, kemudian membawa Gischa ke sebuah ruangan untuk memulai terapinya.

Lintang yang duduk di bangku panjang bergeser  memberi tempat pada Anan, sedikit menjauh. Bagaimanapun ia merasa risih jika harus berdekatan dengan Anan yang sangat agamis dan menempatkan norma syariat, selain Anan adalah suami sahabatnya.

*

Kehamilan Gischa sangat ditunggu, setelah sebelumnya Gischa sempat mengalami beberapa kali keguguran.

"Mas, aku hamil," ucap Gischa sore itu yang langsung disambut ciuman hangat Anan pada wanita yang dicintainya itu.

"Jaga kondisimu dan bayi kita, nggak boleh capek. Aku nggak mau kehilangan calon anak kita lagi."

Anan makin giat bekerja, ia sendiri yang begitu antusias menyiapkan segala keperluan Gischa, memperhatikan setiap asupan gizi dan vitamin yang masuk ke tubuh istri dan bayinya.

Awalnya kehamilan Gischa baik-baik saja, namun menginjak bulan ke tujuh, Gischa mulai sering merasakan nyeri di pangkal panggul. Dokter kandungan yang memeriksanya cuma mengatakan itu sebagai efek janin yang makin berat, dan Gischa harus banyak istirahat agar tidak terlalu capek.

Tapi satu bulan sebelum  melahirkan, Gischa mengalami pecah ketuban sehingga harus melalui operasi Caesar. Semua tampak normal, Operasi Caesar berjalan lancar dan Hamzah hadir menjadi pelengkap kebahagiaan keluarga kecil itu.

Namun, sekitar tiga minggu kemudian, Gischa mulai sering mengeluh mengalami kesemutan dan kebas di ujung jarinya, sehingga kakinya mengalami kelemahan.

Mengira hanya terkena flu, Gischa berkonsultasi dengan dokter umum, dan diberitahu bahwa ia mengalami saraf terjepit dan diperbolehkan rawat jalan.

Malam itu, Gischa terbangun oleh tangis Hamzah. Ketika ia berdiri untuk menyusui anaknya, tiba-tiba ambruk karena kakinya mendadak tak mampu menyangga tubuhnya.

"Gischa..!" teriak Anan panik. Saat itu juga Ia langsung membawa ke rumah sakit dan Gischa harus di rawat.

"Ibu Gischa harus menjalani serangkaian pemeriksaan berupa test darah lengkap, lumbar puncture dan EMG." Dokter umum yang memeriksa Gischa akhirnya merujuk pada Dokter Sonya, spesialis syaraf.

"Sakit apa istri saya, Dok?" tanya Anan cemas.

"Saya belum bisa memastikan, Pak. Besok seteah hasil test keluar, Dokter Sonya akan menjelaskan pada anda."

Menunggu hasil test  adalah hal yang sangat menyiksa bagi Anan. Kondisi Gischa makin menurun. Tiga hari bagai setahun. Sementara lambat laun Gischa mulai mengalami kesulitan bernafas, satu demi satu organ tubuhnya tak berfungsi, hingga puncaknya mengalami koma dan harus dirawat di pindahkan ke ruang ICU.

Hari yang ditunggu tiba, pagi-pagi sekali Anan sudah menunggu di depan ruang praktek Dokter Sonya. Ia segera menghambur masuk tanpa dipersilakan ketika seorang perawat keluar dari ruangan itu.

"Dari Hasil diagnosa ibu Gischa menderita Sindrom Guillain-Barre." Dokter Sonya menunjukkan berkas pemeriksaan berupa tulisan dalam bahasa kedokteran yang Anan sama sekali tak paham.
Laki-laki itu hanya menerka bahwa persalinan merupakan pemicu kondisi yang berpotensi fatal itu.

"Apa itu, Dok? Dan apakah berbahaya kondisi istri saya?" Anan mulai cemas melihat Dokter Sonya yang serius membaca sambil membolak-balik lembaran hasil test Gischa.

"Sindrom Guillain-Barre, adalah kondisi langka dan serius dari sistem Syaraf Perifer, di mana kekebalan tubuh menyerang sebagian sistem syaraf."

"Apa penyebabnya, Dok?"

"Penyebab pasti sindrom ini tidak diketahui namun diperkirakan disebabkan oleh infeksi yang memicu sistem kekebalan tubuh untuk menyerang akar syaraf."

"Apakah selama ini Ibu Gischa sering mengalami kesemutan, kebas dan mati rasa di ujung-ujung jari kakinya?" tanya Dokter Sonya menelisik.

"Benar, Dok." Anan menyesal, selama ini ia menganggap keluhan Gischa hanya karena capek mengurus bayi. Seandainya waktu itu ia lebih peka, mungkin tidak fatal seperti ini.

"Gejala awal biasanya berkembang dua sampai empat minggu setelah infeksi ringan, mulai dari kaki dan tangan sebelum menyebar ke lengan dan kemudian leher. Penderita biasanya  mengalami rasa sakit, kesemutan, dan mati rasa, untuk tingkat lebih lanjut mulai  mengalami masalah dengan kelemahan otot, masalah koordinasi, dan ketidak jelasan syaraf motorik, dan berakibat pada kelumpuhan. Untuk kondisi ibu Gischa ini nampaknya infeksi sudah menyerang paru-paru.  Bahkan bila tidak diberikan pengobatan serius bisa terus naik dan menyerang syaraf otak yang mengakibatkan kematian."

Anan tercekat mendengar kata kematian, ia tak sanggup harus kehilangan istrinya. 'Tidak.., jangan ya Allah..,' Anan merintih dalam hati.

"Lalu pengobatan apa yang bisa dilakukan, Dok?"  Matanya mulai panas, tapi ia berusaha menahan agar bendungannya tidak jebol.
 
"Kami akan melakukan dua jenis perawatan. Yang pertama dilakukan adalah Plasmapheresic atau pembersihan darah. Jadi darah akan dikeluarkan dari tubuh penderita untuk dibersihkan dari antibody yang membahayakan. Lalu darah dikembalikan lagi ke dalam tubuh penderita. Dengan kondisi Ibu Gischa yang masih lemah pasca operasi Caesar, bisa saja tindakan pembersihan darah ini akan  memperburuk keadaaannya. Namun jika pembersihan darah tidak dilakukan dikhawatirkan infeksi akan menjalar sampai ke otak dan membunuhnya."

"Apa tidak ada tindakan lain, Dok?"

Dokter Sonya menggeleng pelan, memahami benar keresahan seorang suami yang takut kehilangan istrinya.

"Tindakan kedua berupa Imonoglobulin Intravena, yaitu menyuntikkan Gamaras melalui infus. Dan hanya bisa dilakukan bila tindakan pertama telah berhasil."

Anan meninggalkan ruangan Dokter Sonya dengan langkah gemetar. Bahu laki-laki kekar itu terguncang hebat, bendungannya jebol, wajahnya basah oleh lelehan air mata,  begitu takut, tak tahu harus berbuat apa. Laki-laki itu  takut kehilangan Gischa, terbayang Hamzah yang baru berumur satu bulan masih membutuhkan ASI dan kasih sayang ibunya.

Dipandanginya tubuh lemah Gischa, yang terbaring tak berdaya dengan begitu banyak selang dan tabung menancap di tubuhnya, berfungsi sebagai dengan alat bantu.  Bahkan untuk bernapas pun harus dengan tabung yang dipasang di lehernya.

Selama Gischa dirawat sesekali Anan membawa Hamzah untuk menemuinya dan meletakkan di dadanya. Walau Gischa tak dapat memeluk Hamzah, tapi Anan yakin Gischa bisa merasakan dekat dengan bayinya. Anan berharap dengan cara itu, Gischa akan terbangun kembali.
Walau sejauh ini belum ada tanda-tanda Gischa sadar dari komanya, bahkan makin memburuk. Dokter Sonya hanya mengangkat tangan dengan mimik yang tak bisa diartiikan, harapan hidup Gisch makin tipis. Mungkin hanya mujizat Sang Kuasa yang bisa merubah keadaan.

Malam itu Anan berdiri di samping ranjang Gischa, menatap dengan perasaan lantak wajah perempuan yang begitu dicintainya itu. Tubuh Gischa makin nampak ringkih dengan selang dan tabung pernapasan yang terpasang di lehernya. Wajahnya makin tirus hingga menampakkan tulang pipinya menonjol. Kalau saja ia bisa menggantikan posisinya..

Anan menghela napas panjang, ia butuh udara segar untuk menenangkan ricuh pikirannya. Melangkah meninggalkan ruangan, membawa beban berat yang terasa makin menindihnya.  Ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Enam minggu Gischa mengalami koma, selama itu pula hidupnya seperti layang-layang yang diterbangkan angin tak tentu arah.

Ada tarikan yang menggerakkan kakinya menuju Masjid di area Rumah Sakit. Selama ini Anan hampir tak pernah sholat jamaah di Masjid, walau selalu tepat menjalankan sholat lima waktu, tapi hampir tak pernah berakhir khusuk karena harus berkejaran dengan janji bertemu klien dan urusan lain.

Anan mengambil wudhu dan menunaikan sholat Isya. Kali ini sujudnya lebih panjang, matanya menatap kosong hamparan sajadah di hadapannya.

"Apabila seorang hamba memiliki banyak dosa, sedangkan ia tidak memiliki suatu amalan di luar amalan wajib yang dapat menggugurkan dosanya tersebut, maka Allah pun akan memberikan ujian untuk menggugurkan dosanya  jika ia bersabar"

Seseorang menepuk pundaknya lembut, pelahan Anan mendongakkan kepala. Sepasang mata tua, tengah menatapnya dengan teduh. Laki-laki dengan gamis putih, wajahnya bersih dengan jenggot yang hampir seluruhnya dipenuhi uban, namun menampakkan kearifan luar biasa.

Anan tak berani menatap terlalu lama, segera ia menunduk kembali merasakan kalimat laki-laki tua itu begitu menohok hatinya. Benar selama ini ia tak pernah melakukan kebaikan. Mungkin inilah teguran atas maksiat yang sering ia lakukan. Matanya mendadak panas,.

"Mas, seringkali ketika kita mendapat musibah, kita merasakan beratnya beban yang menghimpit, seakan kita tak sanggup memikulnya. Kita sering mengeluh, protes, putus asa, padahal kalau kita mau sabar, ikhlas atas ketetapan-Nya sesungguhnya dalam setiap musibah itu ada kebaikan di dalamnya. Yakin setelah musibah akan ada rahmat dan ampunan."

Anan makin menunduk, kali ini air matanya tak terbendung, ia mulai terisak lirih

"Bencana itu senantiasa menimpa orang mukmin entah pada dirinya sendiri, anak, istri, suami dan hartanya. Dan musibah-musibah itu akan menjadi penghapus dosa-dosa yang pernah dilakukan. Allah menguji dengan sakit, kehilangan, kesempitan, bahkan ketika kaki tertusuk duri pun jika kita ikhlas, akan menjadi penggugur dosa."

 "Astagfirullah.." Anan mengucap istigfar lirih.

"Namun untuk bersikap sabar, ikhlas ketika mendapat musibah juga tidak mudah, Mas. Karena Iblis laknatullah sangat tidak suka jika kita dekat dengan Allah  dan mendapat kemurahan dari Allah, sehingga iblis akan  melakukan apa saja untuk menjauhkan kita dari Allah agar kita tidak mendapat rahmat ampunan."

Laki-laki tua itu menepuk-nepuk punggung Anan, yang tengah menangis sesegukan. Tiba-tiba Anan merasa begitu takut, satu persatu ingatan tentang dosa dan maksiat yang pernah dilakukan bersliweran dalam benaknya. 'Ya, Allah.., ternyata ujian yang Kau beri adalah teguran atas maksiat dan dosaku selama ini. Betapa bodoh aku yang tidak pernah instropeksi diri, tapi justru mengeluh dan menyalahkan keadaan.'

"Banyak-banyak istigfar, Mas. Karena ketika kita sudah nggak tahu lagi harus berdoa apa, istigfar akan mewakili semua doa," ujar laki-laki tua itu lagi.

"Apa yang harus saya lakukan, Pak? Saya ini banyak dosa, saya ini banyak maksiat di masa muda." Anan merintih dengan tatap mengiba.

"Lakukan sholat taubat, Mas. Bertaubatlah dengan taubatan nasuha, berjanji pada Allah untuk tidak mengulangi lagi. Selebihnya pasrahkan semua pada Allah. Dialah sebaik-baik yang menggenggam kehidupan. Ingat, Mas! Allah itu pencemburu, jika kita mencintai sesuatu atau seseorang melebihi cinta kita pada Allah, maka Dia akan mengambilnya dengan segala cara."

Anan makin menunduk hingga kepalanya nyaris menyentuh lututnya yang dalam posisi bersila,  bahunya terguncang oleh tangisnya yang tak terbendung.

"Satu lagi, jangan mendikte Allah untuk menyelesaikan masalahmu, tapi mintalah agar Allah menguatkan imanmu agar kuat menghadapi ujian-Nya."

Anan mengangguk, hatinya terasa lebih tenang. Benar, selama ini ia hanya menuntut, tapi tak pernah melakukan kebaikan kecuali mengeluh, bahkan atas rejeki yang selama ini ia dapatkan ia sering merasa kurang dan kurang...

Laki-laki itu memeluk Anan erat sambil mengusap-usap punggungnya, seakan dengan cara itu ia mengambil sebagian beban yang menyesak dalam dada Anan.

"Semoga Allah ridho dengan taubatmu, dan memberikan pertolongan-Nya," bisik laki-laki itu lalu melepas pelukannya dan melangkah meninggalkan Anan yang tenggelam dalam penyesalan yang  menghujam batinnya.

Sesaat kemudian Anan tersadar, ia menoleh mencari sosok laki-laki itu untuk mengucap terima kasih dan menanyakan namanya, sepertinya ia masih banyak membutuhkan pencerahan dari laki-laki tua itu. Tapi yang dicari  seperti lenyap ditelan bumi, tak nampak jejaknya. Anan mengejar dan mencari ke setiap sudut Masjid, tapi tak ada tanda-tanda keberadaan laki-laki itu.

Anan keheranan, menghela napas panjang. Lalu melangkah mengambil wudhu, menunaikan sholat taubat, menghabiskan malam dalam sujud penyesalan dan  tenggelam dalam audiensi yang panjang kepada sang pemiliknya.

Gischa membuka mata pelahan, pandangannya berkabut, ia mengerjab beberapa kali, melihat sekeliling ruangan, cahaya matahari pagi menerobos celah jendela kaca dan tirai yang semuanya berwarna putih.

"Gischa.." Anan yang pertama kali melihat Gischa membuka mata segera masuk ke dalam. Ia memeluk istrinya bahagia. Badannya bergetar dan tangisnya pecah dalam syukur. Allah telah mengabulkan doanya, ia merasakan keajaiban yang luar biasa. 'Apakah pertanda Allah menerima taubatku semalam' bisik hatinya. Anan segera meraih bel di sebelah tempat tidur, memanggil perawat.

"Mas.," ucap Gischa lemah.

"Ya sayang," ucapnya sambil tersenyum, jemarinya dengan cepat menghapus air matanya. Pelahan ujung jari Gischa mulai bisa bergerak.

Seorang perawat masuk, memeriksa kondisi Gischa lalu nampak tersenyum lega.

"Alhamdulillah Ibu sudah bangun. Selamat datang kembali ya, Bu." Perawat itu mencatat sesuatu,  memastikan sekali lagi kondisi Gischa lalu menelepon Dokter Sonya.

Tak lama Dokter Sonya tergopoh-gopoh masuk.

"Selamat datang kembali, Bu. Akhirnya Ibu bisa melewati masa kritis setelah koma lebih enam minggu."

"Koma? Enam minggu?" Gischa menatap suaminya mencari pembenaran, ia merasa baru tidur sebentar. Anan hanya mengangguk sambil mengelus kepala istrinya.

Anan mulai meningkatkan amalan-amalan ibadahnya. Mulai sering menghabiskan malamnya dengan bercengkerama dengan sang Penguasa Alam. Ia menemukan ketenangan dan untuk pertama kalinya ia merasakan betapa ikhlas dan berserah diri itu begitu nikmat.

Seiring kondisi Gischa yang pelahan terus membaik. Ia mulai bisa menggerakkan tubuhnya yang lain. Satu persatu alat bantu mulai dilepas, Ia juga mulai belajar bagaimana menghirup udara lagi.

Awalnya ventilator dilepas selama tiga puluh detik untuk mencoba bernapas sendiri. Lalu dipasang lagi tiga puluh detik, demikian seterusnya. Menurutnya itu merupakan hal tersulit yang pernah ia lakukan.
Lalu dokter berangsur-angsur menjauhkan dari ventilator hingga paru-parunya cukup kuat.

Seminggu kemudian Gischa dipindahkan ke ruang perawatan. Dan mulai berlatih menggerakkan anggota badannya. Ia harus bekerja keras untuk memperkuat otot lengan dan kemampuan motorik halusnya

Gischa mulai benar-benar bisa menggetakkan anggota tubuhnya dengan normal dalam waktu tiga bulan. Kecuali dari pinggul ke bawah. Dokter mengatakan syaraf bagian tulang belakang mengalami kerusakan yang lebih parah sehingga butuh waktu lebih lama untuk pulih.

Gischa lalu dipindahkan bagian Fisiotetapi untuk menjalani Fisioterapi intensif. Setelah dirawat hampir sepuluh bulan di rumah sakit, akhirnya Gischa  diperbolehkan pulang, namun tetap masih harus menggunakan kursi roda.

*

Anan mengakhiri cerita ketika pintu ruang Fisioterapi terbuka. Bergegas ia berdiri menyongsong Gischa yang tengah tersenyum.

"Bagaimana terapinya?" tanya Anan.

"Alhamdulillah. Kata Dokter Risti, tungkai dan telapak kakiku sudah cukup kuat. Hanya saja tulang-tulang panggul belum cukup kuat untuk menyangga tubuhku.  Masih terasa sakit digerakkan," ujar Gischa, ada nada sedih di sana.

"Kamu yang sabar, ya.. Insyaa Allah pasti akan sembuh." Anan mengelus  kepala Gischa  yang tertutup jilbab lebar. Lalu mengenggam tangan Gischa seolah menguatkan.

"Nggak ada yang nggak mungkin jika Allah berkehendak. Kamu nggak boleh putus asa, yakini bagi Allah mudah untuk menyembuhkan kakimu, namun Allah lebih tahu apa yang terbaik untukmu."

"Iya, Mas. Insyaa Allah aku sabar kok." Gischa tersenyum malu ketika Anan mendaratkan ciuman kecil di dahinya.

"Mas, malu tuh sama Lintang." bisik Gischa sambil melirik Lintang. Anan hanya tertawa renyah.

Lintang tak sanggup menyaksikan pemandangan di depan matanya. Berulang kali ia harus membuang muka untuk menyeka air matanya yang membanjir, ada iri yang menyelinap menyaksikan kebahagiaan sahabatnya. Namun ia juga bisa merasakan betapa berat ujian yang harus dilalui kedua sahabatnya itu. Ujian yang akhirnya mengantar seorang Anandito Prasetyo laki-laki anak orang kaya dengan label petualang wanita yang masa mudanya dilalui dengan foya-foya di arena balap, hingga bisa berubah seratus delapan puluh derajat.

Sakitnya Gischa telah membuat Anan mendapatkan hidayah untuk hijrah dan mencintai Allah. Delapan tahun Allah menguji kesabaran Anan, untuk bersabar merawat dan mencintai ibu dari anak-anaknya yang kini begitu lemah di atas kursi roda.

Lalu bagaimana dengan dirinya? Selama ini Lintang merasa tak pernah peduli dengan urusan agama, asal bisa sholat dan puasa di bulan Ramadhan. Sedang amalan yang lain.. Lintang bahkan tak pernah mengenalnya, ia hanya fokus pada karir dan  kesibukannya mengejar dunia. Apakah harus menunggu Allah berikan ujian untuk berubah? 'Allah... jangan, aku tak sanggup menghadapi ujian-Mu' gumam batin Lintang.

"Lintang." suara Gischa cukup pelan namun membuat Lintang terkejut.

"Eh.. iya," jawab Lintang tersipu.

"Kamu ngelamunin apa, Tang? Dari tadi dipanggil nggak denger.." sungut Gischa setengah menggoda.

"Mikir pacarnya." Anan menimpali yang membuat pipi Lintang bersemu merah.

"Jangan-jangan pengen nikah tuh, Mas.. Gimana kalau kita carikan jodoh."

Lintang tercekik mendengar ucapan terakhir Gischa. Ah.. sahabatnya itu ternyata tak berubah soal gurauan. Selalu saja penuh kejutan setiap kata yang keluar dari mulutnya.

"Apa sih kalian ini," ujar Lintang salah tingkah

"Udah-udah, ayo pulang! Aku lapar nih.." Gischa menepuk-nepuk perutnya  lucu. Dengan sigap Anan segera mendorong kursi roda Gischa. Lintang mengekor di belakang dengan perasaan yang masih mengharu biru

"Tang, kamu nggak keburu pulang, kan? Kita makan dulu, yuk!" Gischa memohon manja.

"Oh ya.. udah lama kita nggak makan makanan laut. Lintang pasti tahu tempat makanan laut yang enak," ujar Gischa merayu Anan.

"Kok kamu masih inget aja sih makanan kesukaanku?"

"Iya lah... Dulu kan kita sering mancing rame-rame, terus bikin pesta bakar-bakar ikan di rumahmu." Gischa tertawa geli mengingat kenangan masa kuliahnya.

"Ingat nggak, setiap malam tahun baru kita ngumpul bakar-bakar hasil mancing di laut?"

"Ha ha benar, dan hasilnya bakarannya lebih sering gosong daripada yang tidak." Lintang ikut tertawa. Binar ceria terlukis di wajah Gischa, Anan hanya tersenyum melihat istri dan sahabatnya bersenda gurau.

"Gimana nih, kita jadi ke mana?" tanya Anan di sela tawa keduanya. Lintang menyebut satu restoran makanan laut, dan dengan sigap Anan meluncurkan mobilnya menuju alamat yang di tunjuk Lintang.

"Tang, kamu aja yang pesan makanan," ujar Gischa

"Aku...?" Lintang menunjuk dirinya.

"Iya, kan kamu lebih tahu menu-menu apa yang istimewa di sini." Gischa menyodorkan buku menu kepada Lintang.

"Baiklah, tapi kalau ada yang nggak setuju dengan pesananku nanti bilang, ya." Lintang menyanggupi, lalu membuka buku menu memilih masakan yang menurutnya enak.

"Kakap Asam Manis, Kepiting Soka Saus Lada Hitam, Udang Windu Bakar Madu dan Cah Baby Kaylan." Lintang membaca menu yang dipesannya, lalu berhenti sejenak menatap Gischa dan Anan bergantian seolah minta pendapat.

"Tambah Sup Sea Food," pinta Gischa.

"Oke. Ada yang mau Lemon Tea hangat?" Lintang menawarkan. Gischa dan Anan mengangguk serempak.

"Ok Lemon Tea hangat tiga." Lintang menutup pesanannya dan menyerahkan pada pramusaji yang menunggu di sisi meja.

Sambil menunggu pesanannya mereka ngobrol macam-macam mulai kenangan masa kuliah, proses hijrah Anan setelah Gischa sembuh dan perjalanannya merintis usaha Warung Baksonya. Sesekali terdengar tawa Gischa, ia nampak bahagia berada di antara orang-orang yang menyayanginya.

"Oh ya, apa rencanamu setelah ini? Apa kamu mau ikutan buka warung juga?" Gischa memandang Lintang serius.

Lintang terdiam seketika, ia mengangkat bahu, lalu menggeleng pelan. Percakapan terhenti ketika pesanan datang. Gischa memandang takjub pada hidangan yang ada di hadapannya. Anan dengan cekatan mengambil sepotong Kepiting Soka dan meletakkan di piring Gischa.

Lintang memandang kemesraan kedua sahabatnya, ada desir halus yang hadir. Semacam rasa iri, betapa ia sudah lama tidak merasakan kemesraan seperti itu. 'Tapi ahh... kenapa aku ini' Lintang menepis pikirannya sendiri, lalu menghela napas panjang.

"Entahlah."

"Aku bahkan masih belum memikirkan apa yang mau aku lakukan setelah ini," ujar Lintang, matanya sedikit berkabut.

"Bahkan aku nggak yakin apakah aku bisa bertahan hidup tanpa penghasilan. Tapi aku juga nggak tahu apa yang bisa aku lakukan setelah ini. Aku nggak punya keahlian lain selain managemen marketing"

"Kamu bisa mencoba jualan kecil-kecilan. Kamu punya gadget bagus yang bisa kamu manfaatkan untuk memulai usaha. Bukannya banyak tuh, bisnis online mulai dari reseller dengan sistem dropship. Kalau memang jalan nanti kan bisa bertahap meningkat lagi." Gischa memberikan masukan.

"Benar juga. Tapi aku nggak tahu apakah aku bisa, terutama apakah hasilnya nanti cukup untuk kebutuhan hidup." Ada nada pesimis dalam ucapan Lintang, ia menunduk.

"Yang pertama kamu harus merdekakan dirimu." Anan mengupas cangkang kepiting dan meletakkan dagingnya di piring Gischa.

"Merdeka artinya  menghapus Tuhan-tuhan lain dalam hatimu." Anan sedikit menekan kalimatnya.

"Tuhan-tuhan.. Selain Allah. Tuhan-tuhan yang membuatmu merasa karena dialah kamu ada.. Karena dialah rejekimu datang.. Karena dialah kamu bertahan..Dan jika tuhan-mu itu tak ada, seolah kamu merasa, hancurlah duniamu."

Lintang menunduk, kalimat Anan begitu mengena, lirih tapi menusuk.

Tiba-tiba tangis Lintang pecah, apa yang dia alami dalam beberapa hari terakhir ini, pasti bukanlah suatu kebetulan. Pasti Allah juga yang mengirimkan dan mempertemukan dengan kejadian demi kejadian hingga sampai pada keputusannya untuk mundur dari perusahaan yang sudah dia abdikan tenaga dan pikiran selama lima belas tahun.

Ternyata keputusannya berhenti bekerja membuatnya merasa kehilangan tuhan.. Tuhan lain.. sayangnya tuhan itu bukan Allah.
Karena saat kehilangan semua pekerjaan, seolah hilang juga kebahagiaan, seolah tertutup semua pintu rejeki.. Seolah selama ini eksistensinya pada perusahaan itulah sumber segala kebahagiaannya.

Tanpa sadar jabatan, karir, gaji dan semua fasilitas yang ia terima  menjadi tuhan barunya.

"Kesalahan kita adalah menganggap bahwa pekerjaan kita adalah satu-satunya sumber rejeki. Padahal Allah sang Maha Rahman, Dialah Ar Razaq, maha memberikan rejeki, Allah sudah menjamin rejeki setiap hamba-Nya sejak empat bulan dalam kandungan." Lintang merasa kalimat Anan seperti pisau ditusukkan berkali-kali ke hatinya.

"Mengapa harus takut tak mendapatkan rejeki sedang kita adalah hamba Sang Maha Kaya.  Allah mencukupkan rezeki kita dengan cara-Nya tanpa pernah kita tahu dengan cara apa atau siapa yang akan menjadi perantara sampainya rezeki pada kita." Lintang menunduk, pikirannya belum bisa sepenuhnya meyakini apa yang dikatakan Anan, tapi hatinya mengatakan kebenaran kalimat sahabatnya.

Lintang menghela napas, pikiran dan hatinya mulai tak sinkron,  makanan di hadapannya tak lagi menggugah selera. Hatinya terlalu sakit oleh kenyataan pemikirannya yang salah selama ini. Karirnya memang melejit menggapai langit, tapi pemikiran dan pemahamannya tentang hidup kalah jauh, bahkan dibanding Dewi, penjual bubur yang hanya tamatan SMP.

"Letakkan keyakinanmu pada Allah. Seyakin-yakinnya bahwa Dia yang menggenggam semua ketetapan atas makhluk ciptaan-Nya. Serah hidup dan mati hanya pada-Nya. Cintai Dia dengan yang cinta tak bersyarat, agar Diapun mencintaimu tanpa batas."

"Tang, kalau kamu ragu.. kamu boleh belajar pada Mas Anan bagaimana cara membuka usaha," Gischa menimpali. Lintang menatap sahabatnya, menemukan ketulusan pada sepasang mata sayunya.

"Bisnis itu gampang, kok. Aku yakin Lintang lebih pengalaman," ujar Anan.

"Prinsipnya sama, hanya saja selama ini kamu mengendalikan bisnis orang lain dengan metoda kapitalis. Berniaga dengan manusia dalam menghitung untung dan rugi, sekarang saatnya kamu berniaga dengan Allah, dan percayalah... berbisnis dengan Allah tak akan pernah rugi justru akan terus bertambah keberkahan."

"Maksudnya? Gimana caranya berniaga dengan Allah?" Lintang penasaran.

"Berserah total pada Allah, cintai Allah tanpa syarat, jangan pernah menghitung untung dan rugi dalam berbisnis dengan Allah, karena Dia lebih tahu bagaimana mencukupkan rezekimu."

Lintang manggut-manggut, sesungguhnya ia belum terlalu paham apa yang dimaksud Anan. Tapi Lintang membulatkan tekadnya, ia harus lebih baik.

"Ingat juga, dalam setiap rezeki kita ada hak orang lain, maka jangan lupa sedekah sebagai tanda syukur kita atas rezeki yang telah sampai pada kita."

"Insyaa Allah, Mas. Doakan aku bisa menjalankan apa yang Mas Anan perintahkan."

"Eittss... " Anan menggelengkan kepalanya sambil menyilangkan telunjuk di depan bibirnya. Membuat Lintang menahan tawa geli.

"Kalau kamu ingin belajar menjadi lebih baik, bukan atas perintahku. Tapi sekali lagi lakukan semuanya sebagai tanda cinta tak bersyarat pada-Nya. Cinta yang tak berharap pujian makhluk, melainkan hanya berserah pada-Nya. Berharap cinta-Nya dengan berserah diri total, sabar dan ikhlas pada setiap ketetapannya.  Karena move on berhijrah menjadi lebih baik saja itu tidak cukup, tapi  juga harus move up mendekatkan diri pada Allah."

Matahari telah lengser ke barat, Lintang pamit, ia merasa hatinya tercerahkan. Gischa memeluknya erat, membisikkan sesuatu yang membuat Lintang tersenyum dan mengangguk.  Lintang bergegas masuk mobil, dilihatnya Anan memeluk Gischa dengan tatapan teduh, kembali hati Lintang berdesir halus. 'Apakah aku harus mencintai Rabb-ku terlebih dulu untuk bisa mendapatkan cinta laki-laki yang  mau mencintaiku tanpa syarat.' Lintang bersenandika. Kata-kata Anan terngiang di telinganya, "Mencintai itu syaratnya harus tanpa syarat. Jika tak bisa menyertai dalam saat-saat terburuk, maka tak layak untuk bersama pada saat-saat terbaik."

*

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x