Mohon tunggu...
Mudawamatul K
Mudawamatul K Mohon Tunggu... Mahasiswi

Mahasiswi

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Masalah Kedelai, Apakah Masalah Kita?

19 Juni 2020   13:19 Diperbarui: 19 Juni 2020   13:15 45 1 0 Mohon Tunggu...

PENDAHULUAN

               Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang berarti sebagian besar penduduk Indonesia bermata pencaharian dalam sektor pertanian atau bercocok tanam. Pertanian memiliki artian luas yang mencakup pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, dan kehutanan. Pertanian merupakan sektor yang mendasari berbagai aspek kehidupan masyarakat salah satunya mata pencaharian. Mayoritas masyarakat Indonesia memiliki mata pencaharian sebagai petani karena pertanian merupakan komponen utama yang menopang kehidupan pedesaan dan perkotaan.

                Sektor pertanian menyumbang 9,5% dari total PDB Indonesia pada tahun 2019, meskipun menempati posisi keempat terbanyak dalam kontribusi PDB akan tetapi sektor pertanian belum mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Sub sektor tanaman pangan seharusnya mejadi prioritas karena termasuk dalam kategori kebutuhan primer, maka tidak heran apabila setiap negara termasuk Indonesia selalu berupaya untuk memaksimalkan produksinya setiap tahun. Salah satu komoditas dari sub sektor tanaman pangan yang paling utama setelah padi yaitu kedelai.

                Menurut Patil (2017), kedelai (Glychin max) merupakan salah satu tanaman jenis polong-polongan yang memiliki kandungan protein cukup tinggi, kandungan protein kedelai sekitar 36% dari 100 gr kedelai. Protein merupakan faktor kunci yang menentukan nilai gizi dan ekonomis dari kedelai. Kedelai memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan karena memiliki peranan penting dalam memenuhi kebutuhan konsumsi nasional. Kedelai banyak dimanfaatkan sebagai bahan dasar makanan dan minuman seperti tempe, tahu, kecap, tepung, serta susu kedelai.

PEMBAHASAN

                Konversi lahan merupakan masalah utama dalam kegiatan pertanian terutama pada komoditas kedelai. Masalah ini paling banyak terjadi di pulau Jawa, mengingat penduduknya yang padat dengan tingkat kebutuhan yang tinggi. Lahan-lahan pertanian diubah menjadi perumahan dan industri, produktivitas yang terbilang rendah ditambah dengan lahan yang semakin sempit menyebabkan perekonomian petani menjadi terhimpit.

               Selain konversi lahan terdapat permasalahan dalam budidaya yaitu teknik bertani yang benar dan tepat guna tidak digunakan melainkan berdasarkan naluri dan pengalaman. Teknik budidaya yang benar disini misalnya seperti pemberian pupuk dengan dosis yang sesuai, penanganan hama yang benar (PHT), proses pasca panen yang seharusnya dilakukan untuk mendapatkan nilai jual yang lebih tinggi, serta penggunaan benih yang telah bersertifikat. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan petani, mayoritas penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani tidak mengenyam Pendidikan hingga perguruan tinggi. Usia petani-petani di Indonesia juga semakin tua lantaran banyak generasi muda yang enggan untuk berkecimpung dalam dunia pertanian, berdasarkan data survey pertanian BPS di 2018 sebagian besar petani Indonesia berada pada umur 45-54 tahun, bahkan sepertiganya atau 37,5% berusia diatas 54 tahun.

               Permodalan juga termasuk merupakan masalah dalam hal kegiatan usaha tani kedelai. Petani sering kesulitan untuk mendapatkan bantuan modal. Modal digunakan petani dalam pembelian input (benih, pupuk, obat-obatan) serta membayar tenaga kerja. Usaha tani tidak memberikan kepastian karena bergantung pada alam yang menyebabkan pemberi kredit kesulitan mengeluarkan uang untuk para pelaku usaha di bidang pertanian.

               Rantai perniagaan yang tidak menguntungkan petani, pemasaran produk-produk pertanian masih terdapat kesenjangan dalam hal keuntungan antara distributor atau tengkulak dengan petani. Petani menjadi pihak yang paling lemah atau paling sedikit mendapat keuntungan. Harga jual kedelai yang rendah tidak sebanding dengan biaya input yang dikeluarkan oleh petani, itu menyebabkan petani mengalami kerugian dan enggan untuk berusaha tani kedelai kedepannya.

               Permasalahan-permasalahan diatas dapat menyebabkan produksi kedelai menurun dan tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan nasional padahal permintaan kedelai dari tahun ke tahun mengalami kenaikan. Kebutuhan kedelai pada tahun 2018 mencapai 3,05 juta ton, sedangkan produksi kedelai nasional kurang dari 1 juta ton. Permasalahan tersebut menjadikan negara mengimpor kedelai dalam jumlah yang besar sekitar 2 juta ton lebih. Pemerintah berupaya meningkatkan produksi kedelai untuk meminimalisir impor yang terjadi setiap tahunnya (Aldillah, 2015). Strategi agar permasalahn-permasalahan dalam usaha tani kedelai mengalami peningkatan produksi dan membantu men supply kebutuhan kedelai ialah:

  • Intensifikasi pertanian, yaitu memaksimalkan atau mengoptimalkan lahan pertanian sebagai usaha untuk meningkatkan hasil pertanian. Selain intensifikasi, dapat juga dengan menggunakan teknologi-teknologi pertanian seperti benih unggul, sistem tanam yang sesuai, transplanter, reaper, combine harvester, rotavator, cultivator, sprinkler, power thresher, dan lainnya. Penggunaan alat-alat pertanian modern dapat mempermudah petani dalam kegiatan usaha tani serta memberikan efisiensi waktu dan ekonomi.
  • Penyuluhan pertanian digunakan untuk memfasilitasi petani guna meningkatkan pengetahuan. Penyuluhan sangat penting bagi para petani agar mereka mengetahui inovasi-inovasi terbaru untuk membantu kegiatan usaha tani dan meningkatkan hasil.
  • Melakukan mitra dengan perusahaan lain, kemitraan dapat membantu para pelaku kemitraan dan pihak-pihak tertentu dalam mengadakan kerjasama kemitraan yang saling menguntungkan dan bertanggung jawab. Dengan kemitraan, petani dapat memperoleh tambahan input, kredit, dan penyuluhan oleh perusahaan inti. Perusahaan dapat mencapai efisiensi dengan menghemat tenaga dalam mencapai target tertentu dengan menggunakan tenaga kerja petani.
  • Pemberian insentif atau subsidi, dapat berupa subsidi bibit, pupuk, obat-obatan, maupun yang lainnya. Dengan pemberian subsidi tersebut, diharapkan para petani dapat meningkatkan produksinya guna memenuhi kebutuhan pangan nasional.

KESIMPULAN

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x