Mohon tunggu...
Muchlis
Muchlis Mohon Tunggu... Guru - Mahasiswa/ pelajar

Muchlis adalah mahasiswa di kampus PTIQ yang fokus pada pengkajian al-Quran, sebelumnya penulis diberikan kesempatan untuk mengambil program sarjana di kampus STFI Sadra Jakarta Selatan.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Perjalanan 'Tuhan' Menjadi Hamba

17 Februari 2019   00:19 Diperbarui: 17 Februari 2019   00:25 58
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Hidup Di dunia ini ibarat seorang musafir yang tengah melaksanakan perjalanannya untuk mencapai tujuan yang hendak di tempuh, ada yang lupa akan tempat tujuannya ada pula yang senantiasa bergerak fokus hanya untuk mencapai titik keniscayaan tujuan yang akan ditempuh. Gambaran ini sifatnya fisikal, namun terkadang penting untuk menyampaikan maksud akan keberadaan kita yang tengah menempuh perjalanan non-fisik ini. 

Inti daripada analogi tersebut adalah perjalanan dan tujuan sebuah perjalanan. Perjalanan ini bukan perjalanan biasa, sehingga tidak sekedar menuntut kekuatan fisik untuk berjalan, siapa yang kuat fisiknya akan sampai pada tujuannya. Bukan itu! Jika hanya sebatas perjalan fisik, maka akan terjadi ketimpangan pada fisik manusia yang sebagiannya kuat dan sebagian pula lemah. Perjalanan manusia bersifat universal, tidak terbatas dan tidak dibatasi pada unsur jism (badan) manusia, melainkan perjalanan yang menembus batas ruang dan waktu. Perjalanan apakah itu?

Mengenai perjalanan manusia, Allah menyebutkan dalam surah al-Isra' ayat pertama, bahwa Allah telah memperjalankan hambanya di malam hari. Ayat tersebut dimulai dengan penyucian (tasbih) kepada Allah. Menurut Jawadi Amuli, bahwa tasbih dalam perjalanan tersebut memiliki peranan penting, bahwa untuk melepaskan diri dari jeratan-jeratan alam tabiat, maka harus melalui jalan tersebut, yakni jalan membebaskan diri dari ikatan-ikatan materi duniawi dengan tasbih (penyucian). 

Menurutnya, seorang salik (pejalan) harus menyucikan diri dari alam materi karena penjelajahannya bersifat nonmateri. Terjawab apa yang dipertanyakan pada paragraph pertama di atas, bahwasanya perjalanan tersebut adalah perjalanan ruhani yang tidak hanya kita katakan "bukan sebuah perjalanan materi", melainkan sebuah kemutlakan untuk melepaskan diri dari ikatan-ikatan materi duniawi. 

Meskipun Jawadi Amuli katakan bahwa 'abdun adalah gabungan antara jasmani dan ruhani, akan tetapi pendapat tersebut sedikit berseberangan dengan surah al-Anbiya ayat 26, bahwasanya malaikat yang tidak memiliki unsur materi juga disebutkan dengan kata 'ibadun' yang memiliki deretan huruf 'ain, ba dan dal pada kalimat 'ibadun mukramun'.

 Hal yang hendak penulis sampaikan disini, bahwasanya ada tujuan perjalanan manusia yang tidak bisa terukur dengan ukuran materi duniawi, melainkan dari sisi maknawi. Sebagaimana disebutkan dalam al-Quran surah adz-Zariyat ayat 56:

Artinya: Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menghamba/ mengabdi (menyembah) kepadaKu." (adz-Zariyat: 56)

Menurut Thabathaba'i, huruf lam yang mengiringi kata 'abada di surah tersebut bermakna agar supaya, yakni tujuan penciptaan manusia adalah untuk menjadi hamba, mengabdi, taat ataupun patuh. Menyembah atau mengabdi adalah pekerjaan seorang hamba, itulah tujuan penciptaan manusia, yakni menjadi hamba. 

Menghamba kepada Tuhan yang menciptakan adalah sebuah kemutlakan, karena menghamba kepada Yang lebih kuat, Yang memiliki segalanya adalah sebuah kewajaran. pertanyaannya, kenapa kita harus menjadi hamba?

Di dalam al-Quran, Allah seringkali menyebutkan seorang yang memiliki kedudukan mulia dengan istilah abdun (hamba), seperti di surah al-Isra' ayat 1, Nabi Muhammad saww sebagai manusia paling mulia karena kedekatannya denga Allah diistilahkan dengan kata bdun (hamba). 

Tidak hanya ayat tersebut, dalam surah al-Kahfi, Allah juga menyebutkan kata 'abdun (hamba) untuk manusia mulia yang sering kita namai dengan Khidr. Ayat tersebut menunjukan sebuah petunjuk, bahwa menjadi hamba bukanlah sebuah kehinaan, melainkan kedudukan manusia sebagai hamba adalah kedudukan yang sangat mulia dihadapan Tuhan. Ibn Qayyim mengatakan, "tidak ada jalan menuju keridhaan Allah yang lebih dekat dari (jalan) al-'ubudiyyah (penghambaan diri kepada Allah), dan tidak ada hijab (penghalang menuju keridhaanNya) yang lebih tebal dari peng-aku-an." 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun