M Saekan Muchith
M Saekan Muchith Dosen IAIN Kudus Jawa Tengah

Pemerhati Masalah Pendidikan, Sosial Agama dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Pilihan

Mengkritisi Tayangan Sinetron Religi

13 Juni 2018   07:58 Diperbarui: 13 Juni 2018   08:38 721 1 2

Tayangan program sinetron religi menjadi trend para pebisnis pertelevisian di Indonesia. Apa lagi bulan ramadhan, diluar bulan ramadhanpun semua telivisi memiliki program yang bernuansa religi termasuk di dalamnya sinetron yang lebih banyak menyampaikan pesan  agama Islam seperti, peran seorang ustad atau mubaligh yang sedang mendakwahkan ajaran Islam kepada masyarakat, tentang adegan sholat berjama'ah, ibadah haji dan umrah serta peran kemampuan membaca ayat ayat suci alqur'an.

Program bernuansa agama memiliki nilai cukup tinggi. Berdasarkan release Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pada tahun 2015, program religi di televisi memiliki indek 4.6, diatas indek yang ditetaapkan KPI yaitu 4.0. Artinya program religi di televisi memiliki nilai di atas indek yang ditentukan oleh KPI. Masyarakat atau penonton sangat suka dengan sinetron religi karena selain untuk hiburan juga bisa menambah wawasan ilmu keagamaan. Hal ini sejalan dengan makna media televisi selain sebagai media hiburan juga sebagai media untuk menambah wawasan atau ilmu pengetahuan.

Richard West & Lynn H Turner dalam buku "Introducing Communication Theory " menjelaskan bahwa media masa memiliki fungsi yang disebut transmission of values (penyebaran nilai) yang berarti pesan atau isi yang di tampilkan melalui media massa dapat membentuk sikap dan perilaku (karakter)  masyarakat.

Sinetron religi yang banyak di tayangkan televisi memiliki pengaruh besar untuk membentuk cara fikir sikap dan perilaku beragama bangsa Indoensia. Dengan demikian, pesan dan peran para aktor dan aktris dalam sinetron religi memiliki andil sangat besar dalam membangun atau menumbuhkan cara beragama bangsa Indonesia khususnya umat Islam.

Sinetron religi dapat dikatakan bagian dari dakwah Islamiyah melalui media massa (televisi). Konsekeunsinya, semua materi dan para pelaku (aktor) harus benar benar mampu menjalankan tugas atau akting yang sesuai dengan ketentuan dalam agama Islam. Sehingga tayangan sinetron tersebut  benar benar sesuai dengan realitas yang sebenarnya.

Setidaknya ada dua hal yang perlu dikritisi terkait dengan tayangan sinetron religi di berbagai televisi. Pertama, dari aspek aktor atau pelaku utama. Masih banyak sinetron yang bercerita tentang amalan Islam tetapi dipraktikan atau diperankan oleh aktor yang memeluk agama nin muslim. Masih banyak adegan sholat berjama'ah, berdoa setelah sholat, pakaian baju muslim yang seharusnya di perankan oleh aktor yang beragama Islam tetapi diperankan oleh aktor yang beragaam non muslim.

Memamg tidak salah, tetapi adegan amalan Islam jika diperankan aktor non muslim akan mengurangi daya tarik yang melihat. Pesan dalam sinetron sulit diterima penonton, karena penonton tahu dana aham bahwa aktor yang memerankan jelas tidak pernah menjalankan adegan tersebit dalam realiats kehidupan. Alangkah indahnya, jika adegan yang dalam kehidupan itu dilakukan oleh umat Islam harus di perankan oleh aktor yang beragama Islam. Agar penonton atau masyarakat bisa menerima cerita sinetron sebagai dakwah Islam.

Kedua, dari aspek materi atau membaca  ayat ayat al qur'an. Sangat disayangkan adegan dalam sinetron religi masih banyak peran membaca al qur'an yang tidak sesuai dengan ketentuan ilmu bacan al qur'an (tajwid). Panjang dan pendeknya bacaan tidak diperhatikan, sehingga terkesan baca al qur'an asal asalan saja.

Akan lebih baik pada saat adegan  membaca dilakukan dengan  peran pengganti suara (dubbing). Carilah para ustadz yang fasih dalam membaca al qur'an, dan aktor sinetronya cukup memainkan peran mulut aja. Sehingga yang terdengar oleh penonton, aktor sinetron itu pandai membaca al qur'an.

Sinetron religi bisa dijadikan salah satu media dakwah Islam. Oleh sebab itu para produser sinetroin religi harus memperhatikan beberapa hal yang perlu diperbaiki agar sinetron benar benar bisa menyampaikan pesan dakwah Islam secara efektif dan efisien kepada penonton atau masyarakat Indonesia.