Muara Alatas Marbun
Muara Alatas Marbun Ahli Gizi

Seorang mahasiswa yang ingin mendapatkan pekerjaan dengan cara yang layak, bukan dengan "orang dalem", apalagi dengan "daleman orang"

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Tugas Valverde Mendewasakan Pemain Barcelona

15 Mei 2019   08:43 Diperbarui: 15 Mei 2019   09:05 45 1 1
Tugas Valverde Mendewasakan Pemain Barcelona
Photo by Alex Caparros/Getty Images

Kekalahan yang dialami oleh Barcelona kala berhadapan dengan Liverpool F.C pada leg ke-2 UEFA Champions League membuat mereka jadi bahan perundungan dan lelucon pada media sosial. Empat gol yang terbagi pada pemain bernama Divock Origi dan Giorgino Wijnaldum sukses membenamkan impian Barcelona untuk juara se-antero Eropa. 

Apalagi musim ini adalah momentum penting untuk menjaga hegemoni Spanyol sebagai "Penguasa Eropa" yang ditambah dengan tersingkirnya sang rival sebelum melangkah ke fase semi final.

Lebih mengenaskan lagi, Roberto Firmino dan Mo Salah tidak dimainkan selama pertandingan di Anfield tersebut. Rekor keduanya cukup menakutkan dalam mengoyak jala para lawannya terutama pada saat paruh musim 2018/2019. Roberto Firmino sukses menceploskan enam gol pada paruh musim ini sementara Mohammed Salah begitu kokoh sebagai pencetak gol terbanyak di Premier League musim ini dengan 22 gol (bersama dengan Sadio Mane).

Entah karena comeback effect yang terjadi pada tim-tim dari Inggris atau apapun itu, hal ini menjadi momentum bagi kedua tim. Liverpool mendapat kesempatan musim ini untuk menebus kegagalan pada musim lalu dimana mereka dipermalukan oleh Real Madrid, sementara Barcelona membuktikan "kekanak-kanakan" mereka yang sering dituduhkan oleh haters mereka. 

Jangankan pada tim sepakbola Barcelona sendiri, pendukungnya bahkan dicap sebagai "decul" atau "dedek cules" untuk menggambarkan betapa bocahnya sikap mereka.

Dua pembicaraan turu melengkapi 'keabsahan' tuduhan tersebut dimana dua pahlawan mereka di leg ke-1 menghadapi Liverpool, yaitu Luis Suarez dan Lionel Messi menjadi aktor dari wacana "kekanak-kanakan" yang menjadi headline media massa kala membicarakan kegagalan Barcelona menuju final UEFA Champions League yang akan berlangsung di Madrid pada Juni nanti. 

Luis Suarez berbicara bahwa pertandingan tersebut memang memperlihatkan kelakuan kekanak-kanakan para pemain --mungkin hal ini berlaku pada dirinya- sehingga mental juara mereka menjadi tidak terlihat. 

Lionel Messi justru tidak berkomentar apa-apa tetapi menjadi korban akibat aksi main pergi para pemain Barcelona lainnya sehingga dia pun tertinggal di tanah Ratu Elizabeth tersebut.

Kini sang pelatih Barcelona, yaitu E. Valverde harus lebih keras dan bersabar pada musim 2019/2020. Memang pada musim ini kesebelasan yang bermarkas di Camp Nou ini begitu perkasa di kompetisi domestik. 

Semangat bertanding di Camp Nou yang notabene sebagai kandang dari El Barca benar-benar kuat, namun beberapa klub membuktikan bahwa stadion berkapasitas 99.000 penonton ini tidak begitu ngeri, contohnya AS Roma dan Girona .

Namun menjadi urusan yang berbeda bila menangani mental tim yang berlaga pada kompetisi yang lebih bergengsi dan berbeda. Mereka terlalu lama perkasa di kandang dan menikmati hegemoni kuat akan kejayaan Barcelona di Catalonia. Mereka tidak seperti tahun 2011 dimana begitu leluasa dalam bermain sehingga tidak terlalu terkunci dengan gaya main lawan. 

Gaya main Barcelona pada saat itu masih mengandalkan "tiki-taka" yang tentunya turut melibatkan kesadaran antar pemain dan daya tahan dalam mengolah bola selama pertandingan berlangsung. Sangat berbeda dengan sekarang yang justru tidak terjadi setiap saat.

Tugas Ernesto Valverde kini cuma dua yaitu menjaga mental pemain sebagai tim penuh kebanggaan di dunia dan memberikan kesempatan para pemain muda untuk tampil di kondisi genting. 

Hal ini penting untuk mengingatkan para pemain tersebut --terutama Suarez dan Messi- bahwa meskipun mereka adalah pemain terpenting di skuad Blaugrana, namun penting untuk menjaga komitmen serta merelakan kesempatan mereka agar kondisi tim tetap terjaga meski ditekan beban seperti lolos ke final Liga Champions. 

Kebanggaan perlu ditinggikan, bukan kesombongan, sementara kebanggaan yang perlu dijuruskan adalah kebanggaan bahwa setiap anggota tim itu penting dan bukan sebagai junior-senior semata.

Dalam bertahun-tahun kedepan, Barcelona pun mau tidak mau harus mengikuti arus klub lain yang harus merendah untuk meroket. Untuk itu Barcelona perlu membumi untuk sekedar mengingat akan makna bangkit dari kegagalan. Langkah yang bagus bagi Valverde, Suarez, Messi dan seluruh punggawa Barcelona untuk tidak bersantai saja sebagai penguasa domestik saja.

Referensi :

Suarez anggap tim Barca seperti 'kanak-kanak'

Messi tertinggal di Inggris

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2