Mohon tunggu...
Felix Tani
Felix Tani Mohon Tunggu... Lainnya - Sosiolog Pertanian dan Pedesaan

Sedang riset pertanian natural dan menulis novel anarkis "Poltak"

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Marcel Mauss dan Makna Pemberian kepada Guru Kita

2 Juli 2022   13:48 Diperbarui: 4 Juli 2022   21:30 376 41 25
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi hadiah untuk guru. Sumber; TongRo Images Inc via Kompas.com

Pemberian materil, barang atau uang, dari orangtua kepada guru anaknya di sekolah bukanlah hal baru.  Di sekolah-sekolah perkotaan di Sumatera Timur, menurut tuturan anggota kerabat yang menjadi guru, hal semacam itu sudah menjadi kewajaran. 

Pemberian itu lazim terjadi pada momen-momen kenaikan kelas atau kelulusan. Tentu dengan syarat anak naik kelas atau lulus.  Kalau tidak begitu, sudah bagus guru tak diomeli orangtua murid.

Saya sendiri tidak bersekolah di sekolah-sekolah dengan  kultur "pemberian materi" kepada guru. Selama 12 tahun bersekolah, dari SD sampai SMA, saya hanya sekali memberi uang kepada guru.  

Itu terjadi saat lulus SD di awal 1970-an.  Saat mengambil ijazah ke rumah Kepala Sekolah, nenek menyisipkan uang Rp 500 ke tanganku untuk diteruskan kepada Kepala Sekolah.

Pro-kontra terkait "pemberian materi" kepada guru juga sudah ada sejak dulu.  Mungkin usia "pro-kon" tersebut setua usia kebiasaan "pemberian materi" itu sendiri.

Di satu pihak kelompok "pro" berpendapat pemberian hadiah, atau tanda terimakasih atau taliasih, kepada guru itu sesuatu yang positif. Itu adalah bentuk penghargaan sekaligus tanda terimakasih secara langsung dari murid dan orangtuanya atas jasa baiknya mendidik anak-anak. 

Guru memang mendapat gaji dari pemerintah atau lembaga swasta untuk pekerjaannya. Tapi, menurut kelompok ini,  anak didik dan orangtuanya juga punya hak untuk mengapresiasi guru.

Di lain pihak kelompok "kontra" beranggapan pemberian materi kepada guru itu sesuatu yang negatif. Pemberian hadiah semacam itu dinilai bisa merusak mentalitas guru.  Guru akan bersikap pilih kasih, lebih memperhatikan dan memberi kemudahan kepada murid-murid yang berasal dari keluarga kaya. Itu dinilai tidak adil untuk murid-murid dari keluarga miskin.

Kedua pandangan itu, "pro" dan "kontra", memiliki kebenaran dan kesalahannya sendiri, secara logika maupun etika. Pada akhirnya, penyelesaian "pro-kontra" atas pemberian untuk guru itu terpulang pada opsi pertimbangan moral dan etika oleh institusi sekolah. 

Sekolah X mungkin membiarkan tindakan "pemberian" itu sebagai suatu kelaziman sosial. Karena melihatnya sebagai tindakan yang baik (etis), dalam arti tidak menabrak norma-norma sosial (moral). Intinya, pemberian dinilai sebagai tanda "penghargaan" atas apa yang telah dilakukan guru.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan