Mohon tunggu...
Felix Tani
Felix Tani Mohon Tunggu... Lainnya - Sosiolog Pertanian dan Pedesaan

Sedang riset pertanian natural dan menulis novel anarkis "Poltak"

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

[Poltak #067] Dukun Cilik dari Panatapan

19 Juli 2021   06:20 Diperbarui: 19 Juli 2021   09:22 223 26 12 Mohon Tunggu...
Lihat foto
[Poltak #067] Dukun Cilik dari Panatapan
Ilustrasi kolase oleh FT (Foto: kompas.com/dok. istimewa)

"Poltak, betul kau jadi dukun sakti?" 

Pertanyaan Berta itu membuat Poltak pusing tujuh keliling. Hendak dijawab apa?  Dia tak paham apa yang telah terjadi sesungguhnya.

"Iyalah, Berta. Dia bisa menyuruh terbang seikat kayu bakar." Binsar meyakinkan Berta. 

"Menerbangkan kayu bakar?" Jonder dan Alogo bertanya berbarengan.

"Kalau dia mau, kalian berdua juga bisa diterbangkan ke jurang sana." Bistok menegaskan, sambil menunjuk ke arah lembah di sebelah tinur SD Hutabolon.

"Hei, kalian! Jangan markombur saja! Punguti  sampah! Cabuti salohot!" 

Guru Paruhum mengingatkan Poltak dan kawan-kawannya, agar tak sibuk markombur, mengobrol, saja. Pagi itu murid kelas empat sedang giliran kerja bakti membersihkan pekarangan sekolah.

"Ah, Binsar dan Bistok, kurang ajar kalian," umpat Poktak dalan hati.

Binsar dan Bistoklah yang menebar isu tentang kedukunan Poltak kepada murid-murid kelas empat. Tapi pangkal isu itu bukan mereka. Melainkan Ama Ringkot.

Sore itu, Ama Ringkot sedang bergegas pulang ke rumah dari sawah di selatan kampung. Tak sengaja, saat menyusuri jalan setapak ke arah kampung, di sebelah barat terlihat olehnya Poltak sedang berjalan sendirian di jalan raya. Hal yang membuatnya bergidik, tepat di depan Poltak, dia melihat seikat kayu bakar, ranting kering pinus,  terbang  melayang.

Mulut Ama Ringkot adalah mulut ember. Apa yang baru sja dilihatnya, langsung tumpah luber ke telinga warga kampung  Panatapan. Ditambah bumbu penyeram bahwa kaki Poltak tak menyentuh aspal saat berjalan di jalan raya. Bukan Ama Ringkot kalau kisahnya tak lebih banyak dari tahunya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN