Mohon tunggu...
Felix Tani
Felix Tani Mohon Tunggu... Sosiolog Pertanian dan Pedesaan

Sedang riset pertanian natural dan menulis novel anarkis "Poltak"

Selanjutnya

Tutup

Humor Pilihan

Tips Menulis Artikel Agar Bebas Karantina Kompasiana

22 Maret 2021   15:52 Diperbarui: 22 Maret 2021   17:16 230 31 18 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tips Menulis Artikel Agar Bebas Karantina Kompasiana
Ilustrasi dari pelayananpublik.id

Baru saja seorang rekan mengadu, artikelnya masuk karantina dan dicopot label "pilihan" otomatisnya.  Saya bilang otomatis, karena rekan itu Kompasianer verifikasi biru.  Karena itu, semestinya, artikelnya otomatis mendapat label  "pilihan".

"Apa salahnya artikel ini, coba."  Rekan itu menggugat.  Setelah membaca artikelnya, saya memang tak menemukan kata/frasa sensitif.  Memang artikel itu tergolong kritik keras terkait hoaks penyuapan jaksa.  Tapi saya sama sekali tak tersinggung, tuh.  Padahal tak sekali pun  namaku disebut dalam artikel itu.

Pengaduan soal karantina  seperti itu bukan yang pertama dan bukan pula hanya dari satu orang.  Saya menerima pengaduan dari beberapa Kompasianer.  Hal itu membuat saya sempat berpikir untuk mendirikan LBK3, Lembaga Bantuan Kompasianer Korban Karantina.  Tapi segera saya buang jauh pikiran itu. Sebab saya tahu, Imbalan K para Kompasianer itu terlalu reniklah untuk membayar jasaku.

Karena itu, saya putuskan untuk memberikan konsultasi publik gratisan saja di sini.  Saya akan membagikan tip moncer tokcer menulis artikel bebas karantina Kompasiana.  Saya bilang bebas, tak akan masuk karantina.  Bukan lolos, masuk karantina dulu, lalu dilepas dengan perlakuan atau malahan dimusnahkan.

Tolong catat baik-baik, hanya ada satu tip.  Teladanlah artikel-artikel yang ditulis oleh Admin K(ompasiana).  Coba periksa, adakah artikel tagihan Admin K yang pernah masuk karantina?  Tidak ada, kan?  

Itu sudah cukup menjadi dasar untuk mengatakan, jika ingin artikel tidak masuk karantina Kompasiana, maka silahkan meneladan artikel-artikel anggitan dan agihan Admin K. 

Perlu saya ingatkan, ada beberapa penciri artikel Admin K yang penting diteladan.  Pertama, usahakan menggunakan kosakata Inggris, seperti ghosting, resign, overthinking, dear, rating, LDR, self reward, bluffing, dan lain-lain.  Karantina Kompasiana sangat ramah pada kosakata semacam itu.

Kedua, usahakan menggunakan tatabahasa Indonesia yang kacau.  Misalnya "suka sama makanan Korea", "meneladani Artidjo Alkostar, "cuti bersama dipotong", dan lain-lain yang sepola itu.  Karantina Kompasiana juga sangat ramah pada kerusakan tatabahasa semacam itu.   

Ketiga, usahakan menulis artikel kurasi, misalnya meninjau sejumlah artikel terpopuler dalam sehari, atau artikel utama dengan pembaca terendah dalam seminggu.  Itu aman, sebab hanya tinjauan.

Begitulah.  Kata Daeng Khrisna, "Jangan ingat!"  Kata saya, "Jangan teladan Daeng Khrisna!"  Artikel-artikelnya tidak pernah menuruti tiga penciri artikel Admin K tersebut.  Akibatnya fatal:  artikel-artikel Daeng Khrisna kini sangat jarang jadi Artikel Utama.  Itulah upah yang pantas bagi Kompasianer mbalelo.(ft)

*)Adagium baru:  "Kebenaran yang diulang-ulang lama-lama dianggap kebohongan."

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x