Mohon tunggu...
Felix Tani
Felix Tani Mohon Tunggu... Sosiolog Pedesaan

Sedang riset pertanian natural dan menulis novel anarkis "Poltak"

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

[Poltak #033] Tragedi Peragaan Mata Angin

4 Desember 2020   15:50 Diperbarui: 4 Desember 2020   17:23 207 13 3 Mohon Tunggu...

Petaka kakus menguik yang menimpa Jonder sudah berlalu beberapa waktu.  Sesuai perintah Guru Barita, setiap murid sudah membawa tongkat kayu pemukul babi.   Tapi sejauh ini belum seorang murid pun memukul seekor babi dengan tongkatnya.  Alhasil, tongkat-tongkat tergeletak menganggur di samping setiap murid.

Pelajaran berhitung sudah menamatkan pembilangan satu sampai seratus. Guru Barita sudah mulai mengajarkan penjumlahan dan pengurangan. Untuk keperluan itu setiap murid telah diwajibkan membawa seratus potong lidi ukuran sejengkal.

Pelajaran membaca sudah menamatkan pengenalan huruf "a" sampai "z".  Guru Barita sudah mulai mengajarkan penggabungan dua huruf, suku kata, dan kata. B-a ba, b-i bi, ba-bi.  L-a la, r-i ri, la-ri. Ba-bi la-ri.

"Pagi ini kita peragaan mata angin!"  Suara Guru Barita mengelegar dari depan kelas.

Semua murid kelas satu duduk tertib menahan tegangan tinggi.  Kemarin Guru Barita sudah mengajarkan delapan mata angin.  Hari ini setiap murid harus maju ke depan kelas memperagakannya sambil berputar tigaratus enampuluh derajad.

"Pengetahuan mata angin itu penting.  Apa pun pekerjaanmu kelak, kamu harus tahu mata angin. Supaya kamu tak tersesat."

Murid-murid mengangguk-angguk.  Sumpah! Mereka tak paham maksud Guru Barita.

"Begini. Polmer!  Cita-citamu mau jadi apa kelak?"

"Supir, Gurunami!"  Kelas langsung riuh oleh suara cemooh dan gelak tawa.

"Supir itu macam-macam, Polmer.  Supir motor disebut supir.  Supir sado disebut sais.  Supir kereta api disebut masinis. Supir kapal laut disebut nakhoda.  Supir kapal terbang disebut pilot. Kau mau jadi supir yang mana, Polmer!"

"Supir kapal terbang, Gurunami!"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x