Mohon tunggu...
Felix Tani
Felix Tani Mohon Tunggu... Sosiolog, Batakolog, Petani Gurem

Menulis sebagai proses belajar Sosiologi, Batakologi dan Sains Pertanian.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Menggalang Perkenalan Antar Etnis di Kompasiana

23 Oktober 2020   17:21 Diperbarui: 24 Oktober 2020   05:23 642 33 21 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menggalang Perkenalan Antar Etnis di Kompasiana
Ilustrasi etnis Dayak (Foto: kemendikbud.go.id)

Mengenal etnis lokal dari perspektif orang dalam. Itu satu fungsi manifes Kompasiana yang, mungkin, tidak dimiliki blog  atau media manapun. Sekaligus, menjadi pembeda untuk blog keroyokan ini.

Salah satu bentuk kemiskinan sosial yang disandang bangsa ini, saya pikir, adalah rendahnya pengenalan terhadap etnis-etnis di luar etnisnya sendiri. Mungkin pengenalannya hanya sedangkal stereotipe yang menyesatkan.  Semacam Jawa lemah, Batak kasar, Padang pelit, Menado boros, dan sebagainya.  

Selain menyesatkan, stereotipe semacam itu menimbulkan persepsi negatif tentang etnis lain. Secara tidak langsung berarti menilai etnis sendiri baik, sedangkan etnis lain buruk.  Itulah, etnosentrisme, salah satu akar disintegrasi bangsa. Penyebab rendahnya kadar solidaritas antar-etnis di negeri ini.  

Saya memerlukan waktu beberapa tahun ke belakang, terhitung dari 2014, untuk menyadari fungsi mulia Kompasiana ini.  Sampai saya kemudian terpikir, mengapa tidak memperkenalkan etnis Batak melalui blog ini, menurut perspektif orang dalam.  Orang dalam itu saya sendiri.

Itu motif saya menulis artikel-artikel seputar masyarakat Batak Toba, yang saya bungkus dalam kemasan Batakologi.  Sebagai orang dalam, saya mengambil sikap anti-sauvinis, pengagungan berlebih terhadap etnis Batak. Sebab sikap sauvinis itu menyesatkan.  Tidak membuahkan penjelasan dan pemahaman kritis tentang etnis sendiri.

Jika diperhatikan dengan sedikit seksama, maka segera akan terlihat artikel-artikel saya tentang etnis Batak mencoba memberikan analisis kritis. Saya menolak untuk memaparkan apa adanya, atau apa menurut pandangan umum. Saya selalu berusaha mengungkap makna di balik fakta, lalu menilai relevansinya ke masa kini.

Pendekatan anti-sauvinis itu menyebabkan analisis saya kerap berbeda, bahkan bertentangan, dengan pandangan umum tentang Batak Toba.  Itu bagus. Sebab perspektif orang dalam tidak wajib melihat etnisnya secara apa adanya, tetapi mestinya bisa bersikap kritis.  Adat dan budaya Batak bukan untuk dipreservasi, melainkan untuk dikembangkan guna menjawab tuntutan perubahan zaman.

Saya sangat bergembira karena ternyata tidak sendirian mengenalkan etnisitas dari perspektif orang dalam. Belakangan saya menemukan sejumlah rekan Kompasianer yang,  secara konsisten, juga memperkenalkan etnisnya lewat Kompasiana.   

Ijinkan saya menyebut sejumlah nama.  Guido yang rajin memperkenalkan etnis Manggarai, NTT.  Neno Salukh dan Maximus Malaof yang telaten memperkenalkan etnis Dawan, Timor. Gregorius Nyaming yang konsisten memperkenalkan etnis Dayak Desa, Kalimantan. I Ketut Suweca memperkenalkan etnis Bali. Suprihati memperkenalkan etnis Jawa, khysusnya Jawa Tengah. Mbah Ukik memperkenalkan sub-etnik Jawa di sekitaran lereng Bromo, Jawa Timur. 

Dari membaca artikel-artikel pengenalan etnis itu, saya terkesima menemukan adanya sejumlah kemiripan struktur dan kultur antar-etnis.  Sebut misalnya kemiripan antara etnis Batak, Dayak Desa, dan Manggarai dalam sejumlah ritus adat. Semisal ritus awal musim tanam dan panen padi. Juga fungsi babi dan tuak sebagai ternak dan minuman adat.  

Apa implikasi pengetahuan akan kemiripan etnisitas semacam itu?  Dulu saya memahami Batak Sumatra, Dayak Kalimantan, dan Manggarai NTT adalah etnis-enis yang sepenuhnya  berbeda. Mereka hanya diikat menjadi satu oleh semboyan Bhinneka Tunggal Ika dalam wadah NKRI. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x