Mohon tunggu...
Felix Tani
Felix Tani Mohon Tunggu... Sosiolog, Batakolog, Petani

Menulis sebagai proses belajar Sosiologi, Batakologi dan Sains Pertanian.

Selanjutnya

Tutup

Humor Pilihan

Pak Tjiptadinata Rugi Menulis di Kompasiana

1 Agustus 2020   16:39 Diperbarui: 1 Agustus 2020   21:23 310 39 27 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pak Tjiptadinata Rugi Menulis di Kompasiana
Pak Tjip tidak jadi membeli mobil Rollroyce karena cita-citanya hanya ingin naik Rollroyce, bukab memiliknya (Foto: tjiptadinata/kompasiana.com)

Ambyar, saya sungguh ambyar hari ini. Tersebab membaca komentar Pak Tjiptadinata pada artikel saya, "Kompasiana, Wahana Kompetisi atau Komunikasi?" (K. 31.07.20). Jujur, isinya bikin hati ambyar.  Serasa kue tart keinjek kuda nil.  

Pak Tjip ternyata berkorban besar untuk bisa tetap hadir dengan kisah-kisah inspiratifnya di Kompasiana. Katanya, dia harus menggunakan anggaran belanja pribadi 100 dolar Australia per bulan. Ini senilai 25 persen UMR DKI Jakarta, atau setara harga  1,050 keping kerupuk aci di Bekasi Utara.  Jelas, jumlah ini sangat besar untuk seorang pengangguran tua seperti Pak Tjip.  

Kalau dihitung-hitung, secara finansil Pak Tjip itu rugi menulis di Kompasiana. Bulan Juni 2020 misalnya, Pak Tjip hanya diganjar K-Rewards sekecil Rp 349,875. Biaya yang dikeluarkan 100 dollar Australia atau sekitar Rp 1,050,000. Berarti rugi Rp 700,125 atau 66.68 persen dari modal kerja. Rasio penerimaan/biaya (R/C) hanya 0.33. Untungnya, Pak Tjip selalu mengartikan kerugian sebagai subsidi yang langsung dipotong Kompasiana.

Padahal, kalau mau, Pak Tjip bisa saja memilih menulis buku pengalaman hidupnya. Lalu mengirimkannya ke penerbit untuk dicetak menjadi best seller. Sudah terbukti buku-bukunya, terbitan Elex Media, menjadi best seller Indonesia. Royaltinya telah mengantar Pak Tjip dan istri keliling lima benua.  Lha, nulis di Kompasiana cuma dapat laba minus Rp 700,125.  Tapi, ya, lumayanlah, cukup untuk mengajak istri ikut pusing tujuh keliling.

Sudah jatuh ketimpa badak pula.  Sudah rugi 66.68 persen, artikel Pak Tjip di-lockdown pula di wilayah "Artikel Pilihan".  Tidak boleh menyeberang ke wilayah "Artikel Utama".  Ini pengakuan Pak Tjip sendiri dalam komentarnya. Memang Admin K itu keterlaluan, beraninya cuma me-lockdown manula. Mentang-mentang kami manula ini rentan Covid-19.  

Tapi bukan Pak Tjip kalau patah arang. Kesetiaannya kepada Kompasiana hanya kalah oleh kesetiaannya kepada Bu Roselina, mantan pacarnya semasa muda di Padang.  Pak Tjip tetap menulis untuk Kompasiana.  Bahkan belakangan ini rajin mengajak Kompasianer tertawa melalui sajian serial "Humor Kehidupan".  Walaupun itu menyebabkan Kompasianer Felix Tani harus kehilangan gelar "Professor Humoris Causa."

Pernah saya katakan, Pak Tjip itu ikon Kompasiana.  Dia adalah orang besar yang merendahkan diri menjadi pelayan umum di Kompasiana.  Semata-mata untuk membekali kaum belia dengan "ilmu hidup" yang dipetik dari sejarah hidupnya yang dahsyat, dramatis dan inspiratif.  Ups, satu lagi, romantis.

Jadi, kepada Admin K perlu dan harus diingatkan, "Jangan pernah memandang sebelah mata kepada Pak Tjip. Kecuali mata yang sebelah lagi kelilipan cilok." (Gile, loe. Gimane caranye, Abang dan None?)(*)

*Ditulis secara sangat serius sebagai penghargaan untuk Pak Tjip sekaligus kritik untuk Admin Kompasiana. 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x