Mohon tunggu...
Felix Tani
Felix Tani Mohon Tunggu... Petani dan Peneliti Sosial

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Artikel Utama

Pak Anies, JPO Itu Bukan "Jembatan Pemotretan Orang"

8 November 2019   19:25 Diperbarui: 9 November 2019   04:42 0 15 11 Mohon Tunggu...
Pak Anies, JPO Itu Bukan "Jembatan Pemotretan Orang"
Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa (5/11/2019)| Sumber: Kompas.com/Singgih Wiryono

Hal terpenting, JPO itu terbuat dari bahan baja yang tidak tahan pada air. JPO besi tanpa atap karena itu rentan terhadap risiko korosi akibat hujan.

Akibatnya JPO akan cepat rusak dan, lebih dari itu, berisiko bolong atau patah sehingga justru akan mencelakakan pengguna.

Itu bukan pikiran mengada-ada. Sudah ada kasus JPO di Pasar Minggu yang ambruk gara-gara besinya rusak dimakan karat. Kejadian itu bahkan memakan korban jiwa.

Jadi fungsi atap JPO itu sejatinya adalah untuk melindungi jembatan dari kerusakan akibat air hujan. Bukan untuk melindungi penggunanya dari hujan dan panas. 

Menyeberang cuma beberapa menit, sehingga orang tidak akan mati kepanasan atau kehujanan. Jadi warga itu jangan terlalu manjalah.

Lalu, alasan untuk selfie karena lanskap kota yang katanya instagramable itu genit banget. Aneh bahwa Pak Gubernur sampai peduli pada kegiatan selfie warganya yang sejatinya bukan hal yang produktif.

Aneh juga bahwa ada argumen bahwa JPO bisa menjadi spot untuk selfie, karena memberi pengalaman lain menyeberang jalan. JPO itu bukan "Jembatan Pemotretan Orang", Pak Gubernur, tapi "Jembatan Penyeberangan Orang".

Jelas, fungsi JPO adalah untuk "penyeberangan", bukan "pemotretan". Saya tidak tahu seberapa banyak penyeberang JPO gundul di Sudirman itu yang sedemikian genitnya sehingga setiap lewat akan berselfie-ria di situ. 

Orang menyeberang itu cuma mikir bagaimana caranya tiba dengan cepat dan aman di seberang jalan. Bukannya memikirkan "alangkah indahnya pemandangan kota".

Orang yang menyeberang di JPO umumnya adalah orang yang sama, yang bekerja di sekitar situ. Mereka sudah bosan dengan pemandangan kota yang sama setiap hari. Jadi mau selfie apaan lagi?

Lagi pula kalau semua JPO yang tak menghubungkan ruang tertutup di Jakarta akan digunduli, apakah alasan untuk selfie masih relevan? Pasti tidak. Karena di banyak JPO pemandangan sekitar bukanlah hal yang menarik hati.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
KONTEN MENARIK LAINNYA
x