Mohon tunggu...
Felix Tani
Felix Tani Mohon Tunggu... Petani dan Peneliti Sosial

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Pak Jokowi, Ada Calon Menteri di Kompasiana

8 Juli 2019   13:06 Diperbarui: 8 Juli 2019   13:45 0 12 10 Mohon Tunggu...
Pak Jokowi, Ada Calon Menteri di Kompasiana
Memilih kodok unggul saja susah, apalagi memilih menteri unggul (Foto: Agus Supartono/tribunnews.com)

Mumpung Pak Jokowi sedang berburu calon menteri untuk kabinet barunya, ada baiknya menawarkan satu ladang perburuan alternatif. Saya mengusulkan Kompasiana sebagai salah satu ladang perburuan yang potensil.
 
Mencari di Kompasiana? Apakah itu bukan usul gila yang mengada-ada?  Sebab bukankah di dunia nyata, di lingkungan birokrasi pemerintah, partai politik, organisasi bisnis, organisasi kemasyarakatan, BUMN, dan Perguruan Tinggi, banyak persona hebat yang layak menjadi menteri kabinet Jokowi? Mengapa pula harus menyusahkan diri mencari menteri di dunia maya Kompasiana?
 
Tidak. Usul itu tidak gila gila amat. Juga tidak susah susah amat.  Saya akan tunjukkan caranya.
 
Usulan Kompasianer
 
Cara pertama, yang paling mudah, adalah memeriksa nama-nama calon menteri yang diusulkan Kompasianer lewat artikel-artikel mereka.  Asumsinya, Kompasianer pengusul itu punya cukup kompetensi untuk menilai sosok-sosok yang memiliki kapabilitas dan integritas tinggi menjadi menteri.
 
Dalam sejumlah artikel Kompasianer, sejumlah nama sudah diusulkan atau diperkirakan layak pilih menjadi menteri Jokowi.  Sebut misalnya nama-nama politisi senior seperti Mahfud MD, Yusril Ihza Mahendra, Ganjar Pranowo, Gita Wiryawan, TGB Muh. Zainul Majdi, Ridwan Kamil, dan Basuki T. Purnama.  
 
Lalu ada nama-nama politisi muda, generasi milenial, seperti  Erick Thohir, Agus H. Yudhoyono, Budiman Sudjatmiko, Grace Natalie, Angela Tanusoedibjo, Rahayu S. Djojohadikusumo, dan bahkan Sandiaga Uno.
 
Nama-nama usulan para Kompasianer itu untuk sebagian mewakili aspirasi yang muncul dalam masyarakat. Untuk sebagian lagi merupakan hasil penilaian pribadi atas kiprah politik dan kapabilitas nama-nama tersebut.  
 
Tak ada salahnya jika Pak Jokowi sudi mempertimbangkan nama-nama tersebut sebagai alternatif untuk nama-nama yang disodorkan partai politik dan organisasi pendukung Jokowi. Sebagian tokoh usulan Kompasianer itu bahkan mungkin juga sama dengan usulan dari elemen pendukung Jokowi sendiri.
 
Kompasianer Potensil
 
Cara kedua, yang perlu sedikit usaha, mencari calon menteri langsung dari kalangan Kompasianer. Sebab jika asumsinya seorang  menteri harus punya kompetensi mumpuni, maka   Kompasiana adalah tempat orang semacam itu.  Di sini ada birokrat, pengusaha, aktivis, politisi, agamawan, maupun cendikiawan atau akademisi.  
 
Untuk itu Kompasianer terlebih dahulu dikategorikan berdasar status verifikasinya.  Hanya Kompasianer dengan verifikasi biru yang diperhitungkan. Dengan asumsi Admin Kompasiana sudah memverifikasi kompetensinya, berdasar mutu artikel yang diterbitkan.
 
Kompasianer terverifikasi biru kemudian dikategorikan menurut budang kompetensi dan atau profesinya.  Misalnya perdagangan, pertanian, industri, kehutanan, perkebunan, lingkungan, pariwisata, informatika, koperasi dan UKM, gender, hukum, birokrasi, kemiskinan, agama, dan lain-lain.  
 
Pada tiap kelompok kompetensi atau profesi itu kemudian dipilih sejumlah Kompasianer yang paling tinggi kompetensi dan profesionalitasnya. Dengan cara menilai konsistensi dan mutu artikelnya.  Ukurannya adalah jumlah artikel HL dan Pilihan dibanding total artikelnya.    
 
Nah, hasil seleksi inilah "talent pool" untuk memilih calon menteri. Pak Jokowi tinggal menelisik satu per satu untuk memilih calon yang mumpuni. Lalu periksa jejak-rekam sosial dan politiknya.  Untuk melihat integritas,  prestasi, reputasi,  representasi sosial dan politik, serta nasionalismenya.  
 
Saya belum punya gambaran utuh tentang siapa saja Kompasianer yang layak dipertimbangkan menjadi calon menteri. Tapi ada satu nama yang menurut saya punya kualitas menjadi menteri dalam kabinet mendatang. Siapa lagi kalau bukan Faisal Basri, ekonom dengan reputasi internasional yang sempat rajin menuliskan artikel ekonomi yang kritis di Kompasiana.
 
Faisal Basri dikenal sebagai pebgritik keras Hokowi terkait utang luar negeri yang membengkak, impor pangan, pembangunan infrastruktur yang jor-joran, dan kenerosotan sektor pertanian dan industri. Tapi dia juga dikenal sebagai pendukung Jokowi-Maruf.  Sehingga jika dia dipilih sebagai menteri bidang perekonomian, misalnya perdagangan, maka dia berpotensi menjadi menteri anti-ABS.
 
Selain Faisal Basri saya belum punya nama definitif Kompasianer yang layak dipertimbangkan menjadi menteri. Tapi saya tertarik dengan pemikiran dan sepak terjang seorang Kompasianer yang sebenarnya masih tergolong baru. Kerap menulis isu gender dan lingkungan dengan analisis yang tajam dan berempati.  Yang saya maksud adalah Kompasianer Leya Cattleya, yang punya potensi untuk dipertimbangkan menjadi Menteri Negara Urusan Ketahanan Gender, atau apapunlah istilahnya. Intinya kementerian ini harus bisa menghilangkan kerugian negara akibat ketidakadilan gender.
 
Lalu ada satu nama lagi yang bisa dipertimbangkan sebagai calon menteri bidang informatika.  Siapa lagi kalau bukan Kompasianer Giri Lumakto.  Rekan Giri adalah salah seorang Kompasianer yang menguasai isu IT 3.0 dan 4.0 dan bahkan mungkin  Society 5.0.  Maka tak ada salahnya pula memeriksa kelayakannya menjadi Menteri Kominfo dalam Kabinet Jokowi mendatang. Hitung-hitung aebagai representasi orang Solo juga (Ini guyon, lho).
 
Kabinet Bayangan ala Kompasiana
 
Saya sebenarnya berpikir juga tentang suatu Kabinet Bayangan ala Kompasiana. Mungkin baik juga jika Admin Kompasiana menebar angket lewat Kompasiana untuk menjaring nama-nama yang layak menjadi menteri. Kompasianer bisa mengusulkan nama baik itu Kompasianer maupun Non-Kompasianer untuk jabatan menteri bidang tertentu.  
 
Pengolahan data angket ini nantinya akan menghasilkan susunan Kabinet Bayangan untuk periode 2019-2024. Jika hasilnya dinilai cukup valid, maka tak ada salahnya juga disampaikan kepada Pak Jokowi. Sebab Kompasianer adalah representasi "Bhinneka Tunggal Ika". Jadi masukan dari mereka layak dipertimbangkan karena nemiliki bobot "unity in diversity".
 
Begitulah masukan dari saya, Felix Tani, petani mardijker, siap dipilih sebagai Mantri Tani Gurem.***