Mohon tunggu...
Felix Tani
Felix Tani Mohon Tunggu... Petani dan Peneliti Sosial

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Porsea, Saksi Modernisasi tanpa Pembangunan di Tanah Batak

11 Juni 2019   11:00 Diperbarui: 13 Juni 2019   00:56 0 20 21 Mohon Tunggu...
Porsea, Saksi Modernisasi tanpa Pembangunan di Tanah Batak
Sudut selatan kota Porsea (Foto: mapio.net)

Rupanya ada sejumlah kota yang "ditakdirkan" untuk hanya menjadi saksi "modernisasi tanpa pembangunan". Frasa "tanpa pembangunan" di sini berarti "tidak ada peningkatan kesejahteraan rakyat secara signifikan". Padahal hasil-hasil proyek modernisasi monumental bermunculan di sekitarnya.

Konsep "modernisasi tanpa pembangunan" itu bukan karangan saya. Itu meminjam abstraksi Prof. Sajogyo ketika menyimpulkan dampak sosionomi "Revolusi Hijau" awal 1970-an di pedesaan Jawa. Modernisasi pertanian sawah waktu itu ternyata tak signifikan menaikkan pendapatan buruhtani dan petani gurem (Lihat: "Modernization Without Development in Rural Java", FAO: Rome, 1973).

Kondisi Porsea, kota kecil di Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) cocok dengan gejala "modernisasi tanpa pembangunan" itu. Kota tua yang berada tepat di pangkal Sungai Asahan ini telah menyaksikan sejumlah proyek modernisasi monumental di wilayah Toba dan sekitarnya sejak jaman kolonial. Tapi proyek-proyek itu tak banyak membawa peningkatan kemakmuran untuk masyarakat Porsea.

"Porsea na balau," kata warga tentang kotanya yang seolah enggan beranjak dari kondisi masa lalu itu. "Porsea nan biru", ibarat warna langit, biru dari dulu, kini dan nanti juga tetap seperti itu.

Begitulah, secara fisik, Porsea di penghujung dekade 2010 ini tidak banyak beda dibanding awal dekade 1980. Nyaris tidak ada yang berubah, sebagaimana tampilan stagnan bangunan-bangunan ruko di pusat kota Porsea.

Geografi Porsea 
Porsea secara keseluruhan adalah sebuah kecamatan dengan 14 desa dan 3 kelurahan di Tobasa. Letaknya 41 km di selatan Parapat atau 26 km di utara Balige, ibukota Tobasa. Berada tepat di pangkal hulu Sungai Asahan, Porsea adalah titik nol sungai sepanjang 147 km yang bermuara di pantai timur Sumatera itu, tepatnya di kota Tanjungbalai.

Jembatan Porsea, 2018 (Foto: infopublik.id)
Jembatan Porsea, 2018 (Foto: infopublik.id)
Tetenger Porsea adalah jembatan jalan raya Trans-Sumatera yang membentang di atas Sungai Asahan, menghubungkan Kelurahan Pasar Porsea di utara dan Kelurahan Parparean III di selatan.

Pada tahun 1910-an jembatan ini dilaporkan murni terbuat dari kayu. Ketika Pemerintah Kolonial membuka jalan lintas Sumatera ruas Parapat-Tarutung akhir 1910-an, jembatan itu diganti dengan konstruksi beton dan besi. Jembatan Belanda ini bertahan sampai akhir 1970-an, sebelum diganti dengan jembatan yang sekarang.

Kegiatan ekonomi utama penduduk Porsea adalah pertanian pangan. Mayoritas penduduknya (total 14,000 jiwa, 2017) petani sawah. Mereka mengusahakan total 1,629 ha sawah (2017). Terdiri dari 779 ha sawah irigasi setengah teknis, 278 ha sawah irigasi sederhana (tradisional), dan 572 ha sawah tadah hujan. Tidak ada areal sawah irigasi teknis di sana.

Kegiatan ekonomi penting lain, yaitu dagang dan jasa, terpusat di Kelurahan Pasar Porsea atau kota Porsea. Kelurahan ini merupakan pusat sosionomi Porsea. Kota kecil bentuk persegi panjang yang dilintasi jalan Trans-Sumatera di sisi baratnya. Di kiri kanan jalan berdiri barisan bangunan pertokoan, rumah makan, kedai minum, dan ragam usaha jasa seperti bengkel dan tukang jahit.

Onan (Pekan) Porsea adalah bagian terpenting kota kecil ini. Berada di tengah kota, Onan Porsea dikelilingi barisan rumah/ruko sebagai tembok pembatasnya. Onan ramai tiap hari Rabu, hari pasaran di sana. Para pedagang dan pembeli datang dari desa dan kota di wilayah Tobasa, juga dari Samosir dan Sumatera Timur. Orang desa menjual hasil bumi, orang kota menjual hasil pabrik.

Ada yang unik dari Onan Porsea yaitu jasanya menjodohkan muda-mudi. Onan ini sohor sebagai "onan tombis" (pasar senggol). Pada hari pasar yang padat, muda-mudi secara sengaja saling-senggol. Lalu saling senyum, kenalan, janji ketemuan, selanjutnya pacaran dan ujungnya, kalau jodoh, ya nikah. Di Onan Porsea cinta naik dari siku ke hati.

Tiga Proyek Modernisasi
Sejak masa kolonial, sekurangnya ada tiga proyek modernisasi besar di Porsea dan sekitarnya. Tapi ketiganya tak membawa peningkatan signifikan pada kemakmuran penduduk setempat.

Proyek modernisasi pertama adalah pembangunan jalan raya Trans-Sumatera, termasuk jembatan lintas Sungai Asahan, pada masa kolonial di akhir tahun 1910-an. Proyek ini praktis membuka isolasi Porsea ke "dunia maju" (modern) yaitu Sumatera Timur di utara.

Jembatan Porsea tahun 1929 hasil konstruksi Pemerintah Hindia Belanda (Foto: Koleksi Tropenmuseum Belanda)
Jembatan Porsea tahun 1929 hasil konstruksi Pemerintah Hindia Belanda (Foto: Koleksi Tropenmuseum Belanda)
Jalan Trans-Sumatera itu di satu sisi melancarkan masuknya produk modern dari Sumatera Timur le Porsea. Pertama barang-barang hasil pabrik, semisal tekstil, peralatan rumahtangga, kebutuhan pokok, dan peralatan pendidikan.

Kemudian, tentu saja, kendaraan bermotor yang mendorong minoritas elit ekonomi Porsea menjadi pengusaha angkutan. Selain itu juga mesin penggilingan padi yang melahirkan elit tokke boras (tauke beras).

Di sisi lain keterbukaan dari isolasi meningkatkan arus ekspor hasil pertanian, khususnya padi dan beras, ke Sumatera Timur. Porsea dari dulu sampai kini tergolong salah satu lumbung padi di wilayah Tobasa.

Tak hanya ekspor hasil pertanian, kelancaran transportasi juga meningkatkan arus migrasi ke Sumatera Timur, dan kemudian ke Jawa lewat Belawan. Tujuannya jika bukan untuk cari nafkah di kota, ya, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Mereka yang bermigrasi adalah yang punya keunggulan bersaing di rantau. Dengan kata lain, brain drain untuk Porsea. Migran ini tidak kembali lagi ke Porsea untuk membangun tanah kelahirannya. Paling hanya mengirim uang sekadarnya ke kampung, sebagai bukti keberhasilan di rantau.

Begitulah, modernisasi transportasi darat di Porsea telah meningkatkan pasokan produk manufaktur ke wilayah itu. Tapi juga meningkatkan ekspor hasil bumi khususnya padi dan brain drain dari Porsea ke wilayah Sumatera Utara, kemudian Jawa. Belakangan juga ke Riau dan Sumatera bagian selatan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3