Mohon tunggu...
Felix Tani
Felix Tani Mohon Tunggu... Petani dan Peneliti Sosial

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Balige, Kota yang Menyarungi Orang Batak

25 Maret 2019   08:45 Diperbarui: 26 Maret 2019   12:57 0 17 16 Mohon Tunggu...
Balige, Kota yang Menyarungi Orang Batak
(KOMPAS.com / Wahyu Adityo Prodjo)

Memasyarakatkan sarung, menyarungi masyarakat Batak. Itulah, saya kira, salah satu jasa besar kota Balige, Toba-Samosir, bagi masyarakat Batak Toba.

Karena itu, kendati pasti ada kemarahan karena dijajah, tak dosa juga jika orang Batak berterimakasih pada Pemerintah Kolonial Belanda. Karena telah menumbuhkan Balige sebagai industri tenun tahun 1930-an.

Sarung, setempat disebut mandar, adalah ikon kota tua Tanah Batak ini. Kecuali yang lahir dan besar di Jawa, mestinya tidak ada orang Batak yang tak kenal dan tak pernah merasakan kehangatan sarung Balige.

Sarung katun yang hangat tapi cepat lusuh ini serba guna. Mulai dari kain bedong bayi, ayunan balita, bawahan harian dan tudung kepala untuk kaum perempuan, sampai selimut tidur di malam hari.

Balige sejatinya tak hanya punya sarung tenun sebagai penanda. Ada Rumah Sakit HKBP karya Zendeling RMG, Jerman yang didirikan tahun 1918. Lalu Onan (Pasar Tradisional) Balige dengan deretan enam balairung berarsitektur Rumah Batak yang dibangun Pemerintah Kolonial Belanda tahun 1936. Ada makam Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII di Soposurung. Serta patung Pahlawan Revolusi Jenderal D.I. Panjaitan tepat di bundaran jantung kota.

Tapi penceritaan sebuah kota perlu cara. Inilah caraku: mengisahkan perkembangan kegiatan ekonomi terpenting di sebuah kota. Untuk kasus Balige, itu berarti cerita tentang industri tenun Balige.

Industri yang signifikan membentuk struktur sosial-ekonomi Balige dan peran sentral kota ini dalam sejarah ekonomi pulau Sumatera, khususnya bagian utara.

Geografi Balige
Ibukota Kabupaten Toba-Samosir ini, 235 km di selatan Medan dan 25 km di utara Siborongborong, berada di kaki Gunung Doloktolong, tepi pantai selatan Danau Toba.

Segera setelah Perang Batak usai (1878-1907), ditandai dengan tewasnya Sisingamangaraja XII, Penjajah Belanda menjadikan Balige ibukota Onderafdeling Toba, di bawah Afdeling Bataklanden. Belanda segera melihat nilai strategis Balige secara politik dan ekonomi. 

Image caption
Image caption
Karena letak geografisnya di jantung Tanah Batak, mobilisasi militer dan barang ke seluruh penjuru Tanah Batak akan menjadi lebih efisien. Baik melalui jalur perairan danau ke barat, ke Pulau Samosir dan desa-desa pantai Danau Toba. Maupun lewat jalur darat ke timur, Habinsaran, ke selatan, Humbang dan Silindung, dan ke utara, Sumatera Timur.

Karena itu Pemerintah Kolonial Belanda berkepentingan mengembangkan kota pelabuhan ini sebagai pusat ekonomi Tanah Batak.

Langkah pertama, dan terpenting, membuka isolasi geografis dengan membangun jalan raya yang menghubungkan Balige dengan Parapat sampai Medan di utara dan Tarutung sampai Sibolga tahun 1917-1920.

Dengan begitu arus manusia dan barang dari dan ke Balige dan sekitarnya menjadi lebih lancar dan efisien. Termasuk arus iptek melalui jalur pendidikan dan penyuluhan yang membuka gerbang kemajuan bagi masyarakat Batak di Balige dan sekitarnya.

Langkah kedua, bertepatan dengan Depresi Besar awal 1930-an, pengembangan industri tenun di Balige. Ini strategi Pemerintah Kolonial mengantisipasi dampak Depresi Besar pada ekonomi rakyat setempat dan Sumatera Timur.

Produksi tekstil di Balige diproyeksikan mensubstitusi tekstil impor yang terkendala oleh Depresi Besar. Tekstil Balige dimaksudkan untuk memasok permintaan di Sumatera Timur, khususnya di wilayah perkebunan. Selain untuk memenuhi kebutuhan tekstil di Afdeling Bataklanden, tentu saja.

Seorang pekerja sedang menanganu proses penenunan sarung Balige menggunakan ATM (Foto: ayogitabisa.com)
Seorang pekerja sedang menanganu proses penenunan sarung Balige menggunakan ATM (Foto: ayogitabisa.com)
Tambahan, industri tenun diproyeksikan menyerap banyak tenaga kerja. Juga menciptakan eksternalitas peluang usaha dan kerja baru di bidang pemasaran tekstil. Ketersedian tekstil murah dan lapangan kerja dapat mencegah gejolak politik, semisal gerakan protes buruh kebun Sumatera Timur ataupun petani Batak.

Maka secara geo-politik dan geo-ekonomi, pembangunan kota Balige memang penting untuk mengamankan kekuasan Pemerintah Kolinial Belanda.

Dalam konteks itulah pembangunan industri tenun Balige, dan kiprahnya, mendapatkan peran pentingnya. Tidak saja untuk Balige dan Tanah Batak. Tapi untuk Sumatera bagian utara umumnya.

Balige Kota Tenun
Selain pertimbangan geo-politik dan geo-ekonomi, ada satu faktor kondisional pada Balige sehingga layak dipilih sebagai sentra industri tenun. Kota ini sejak lama sudah menjadi sentra industri tenun tradisional (gedogan), penghasil tenunan ulos Batak terbaik di Toba Holbung (Lembah Toba).

Pada paruh pertama 1930-an, Pemerintah Kolonial Belanda lalu memfasilitasi sejumlah kecil pengusaha lokal untuk merintis industri tenun "modern". Mereka diberi bantuan ATBM dan benang berikut pelatihan. Di antara mereka tersebutlah nama-nama Baginda Pipin Siahaan, H.O. Timbang Siahaan, dan Karl Sianipar. Mereka ini tergolong generasi perintis.

Dihitung dari generasi pertama, "perintis", itu industri tenun sarung Balige sejatinya telah dibangun lewat tiga "generasi" pengusaha.

Generasi kedua, "pengikut", muncul tahun 1960-an. Bersamaan dengan implementasi Politik Benteng, upaya penumbuhan golongan pengusaha pribumi oleh rezim Soekarno. 

Waktu itu pengusaha tenun Balige mendapat jatah benang dari pemerintah. Salah seorang tokoh utama adalah T.D. Pardede yang kemudian membangun Pardedetex di Medan.

Inilah awal masa keemasan Balige sebagai "kota tenun". Poros "Balige-Majalaya" dibangun untuk mendukung transfer iptek pertenunan ke Balige.  

Puncaknya terjadi tahun 1970-an sampai paruh pertama 1980-an. Waktu itu setiap hari udara Balige dipenuhi bunyi "suk sak suk sak" dari mesin tenun.

Bunyi yang menginspirasi penyebutan pengusaha tenun Balige sebagai "parhasuksak". Pada masa itu beroperasi 70-80 unit pabrik tenun di sana, sebagian skala besar. Balige tumbuh menjadi pusat industri tenun terkemuka di Pulau Sumatera. Alat tenunnya dimodernisir dari ATBM menjadi ATM.

Tenaga kerja pertenunan, umumnya perempuan, selain warga lojal, mengalir dari daerah Humbang dan Barus di selatan. Setiap perusahaan tenun membangun asrama untuk para pekerja tenun itu.

Sarung Balige warna-warni, siap dipasarkan (Foto: tobasamosirkab.go.id)
Sarung Balige warna-warni, siap dipasarkan (Foto: tobasamosirkab.go.id)
Sarung tenun Balige, produk utama, setiap hari ratusan bahkan ribuan kodi ke empat penjuru mata angin. Ke Simalungun, Deli, Medan, Tanah Karo, sampai Aceh di utara. Ke Asahan di timur. Ke Humbang, Silindung, Sibolga sampai Angkola di Selatan. Ke Samosir dan Dairi di barat.

Itulah masa kejayaan Balige sebagai kota industri tekstil. Masa ketika pertenunan kota itu sukses menyarungi semua orang Batak di Tapanuli dan sekitarnya, mulai dari bayi sampai lansia.  

Sampai-sampai Balige waktu itu dijuluki "Majalaya Kedua", merujuk nama kota sentra industri tenun terbesar se-Indonesia di Priangan Selatan waktu itu.

Atomisasi Industri
Tapi kejayaan rupanya selalu ada akhirnya. Demikian sejarah kerap bercerita. Begitupun kejayaan Balige dengan industri tenunnya.

Tahun 1980-an adalah awal kejatuhan industri tenun Balige. Sejak masa itu sampai kini industri tenun Balige sudah dikelola generasi ketiga, "penerus", anak-anak generasi perintis/pengikut.

Sebagian malahan tutup begitu saja. Karena tak ada penerusnya. Jika ada penerus, dan umumnya anak "makan sekolahan/kuliahan", "passion"nya tak sekuat orangtua mereka. Antara lain karena apresiasi yang lebih tinggi pada kerja kantoran, khususnya pegawai negeri.

Industri tenun Balige kini memasuki masa "senja kala". Tahun 2018 jika merujuk buku statistik Balige Dalam Angka, jumlahnya tinggal 12 unit. Skalanya juga semakin menciut menjadi usaha kecil/menengah dan bahkan mikro, skala rumahtangga. Tersebar di Kelurahan Pardede Onan, Napitupulu, Haumabange, dan Balige.

Apa yang terjadi di Balige kini adalah gejala atomisasi industri tenun. Dari skala besar yang kapitalistik menjadi skala rumahan yang sekadar komersil saja.

Tapi krisis suksesi pengusaha adalah satu masalah. Masalah lain adalah persaingan dengan industri sarung berbahan sintetis dan  celana panjang. Sarung  sintetis jelas menjadi pesaing dari segi mutu tenunan.

Yang tak terduga adalah dampak celana panjang, terutama "rombengan" ( bekas). Dulu kaum ibu selalu pakai sarung Balige dalam kesehariannya. Sejak 1980-an mereka lebih suka pakai celana panjang, dengan alasan praktis dan murah. Sarung Balige semakin ditinggalkan perempuan Batak, konsumen utamanya.  

Ada pula soal penurunan apresiasi  pada sarung Balige di kalangan orang Batak. Mungkin karena kerap diasosiasikan dengan produk murahan, sarung orang miskin, atau sarung "buruh kebon" (Sumatera Timur).

Ditambah produksi sarung Balige miskin inovasi juga. Sejak jaman penjajahan sampai sekarang bahannya katun yang sama dengan motif kotak-kotak dan garis-garis saja. (Tapi semua sarung memang begitu). Fungsinya juga hanya untuk sarung, kurang bagus untuk bahan kemeja/baju dan lain-lain.  

Sebenarnya ada juga produk tekstil khusus baju, taplak meja, sprei, atau gorden jendela. Namanya kain "sela", kain motif kotak-kotak kecil. Dulu kerap juga digunakan sebagai bahan celana kolor untuk anak-anak perempuan.

Perlu Revitalisasi
Sejatinya sarung tenun Balige itu layak direvitalisasi sebagai ikon wisata di Toba. Sarung Balige itu sampai sekarang masih menjadi penanda bagi kota pantai itu.

Peningkatan mutu tenunan, khususnya mutu benang dan pewarna, dan inovasi motif-motif baru jelas diperlukan jika sarung Balige hendak diangkat menjadi ikon Balige. Selain itu juga inovasi produk berbahan baku sarung/sela perlu dipikirkan serius, semisal tas, dompet, topi, dan lain-lain.

Urusan revitalisasi industri tenun sarung Balige tentu pertama-tama menjadi tanggungjawab pengusaha dan pemerintah setempat. 

Tapi orang Batak yang ada di Tanah Batak dan di perantauan jangan cuma berpangku-tangan pula. Sekurangnya kenangan dan kecintaan pada sarung Balige perlu dibangkitkan kembali. Jangan berharap orang lain menghargai sarung Balige, kalau orang Batak sendiri meremehkannya.

Sungguh, Balige tanpa industri tenun bukanlah Balige sejati. Sebab industri tenun adalah inti budaya atau karakter kota itu. Jangan sampai Balige kehilangan karakternya.

Begitulah, kali ini agak serius catatan saya, Felix Tani, petani mardijker, pernah meneliti industri tenun Balige, pengguna setia mandar Balige yang hangat itu. (*)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5