Felix Tani
Felix Tani profesional

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

"Revolusi Celana" di Tanah Batak

11 Januari 2019   12:01 Diperbarui: 12 Januari 2019   04:27 825 19 12
"Revolusi Celana" di Tanah Batak
Perempuan bercelana panjang membawa barang dagangan ke pasar (Foto: medanbusnisdaily.com)

Revolusi tidak selalu menakutkan dan bicara revolusi tidak mesti berapi-api. Revolusi bisa sangat menarik dan dibicarakan dalam gempita. Misalnya, hiruk-pikuk Revolusi Teknologi 4.0 yang membuat para direktur dan manajer IT korporasi "demam".

Juga, revolusi tak mesti membakar seantero negeri. Bisa saja diam-diam, "revolusi bisu", seperti "seorang suami yang lagi nongkrong di WC mengirim pesan WA kepada isterinya agar sabar dikit nunggu di ranjang". Itu revolusi komunikasi pasutri

Saya hendak berbagi cerita revolusi yang lebih diam dan lebih ringan lagi. Sebuah revolusi yang tak banyak disadari, karena mungkin tidak dianggap revolusi. Sebab orang kadung berpikir revolusi itu sebuah penjungkiran, perubahan struktural secara radikal dan cepat. 

Baiklah, asal tahu saja, "radikal" itu relatif dan "cepat" itu juga relatif. Seradikal apakah kira-kira, misalnya, "Revolusi Putih" (revolusi susu) yang digagas Pak Prabowo? Secepat apakah kira-kira, misalnya, "Revolusi Mental" yang digagas Pak Jokowi?

Dengan relativisme seperti itu, maka saya ingin membagi suatu kisah "revolusi diam" di Tanah Batak. Saya sebut dia "Revolusi Celana". Dari namanya saja sudah jelas ini cerita revolusi yang ringan dan lucu saja. Jadi tak perlu pasang kerut di dahi membacanya.

***

"Revolusi Celana" yang dikisahkan di sini adalah perubahan jenis pakaian yang dikenakan kaum perempuan untuk menutup bagian bawah tubuhnya, dari pinggang ke pergelangan kaki, yaitu dari jenis sarung/rok ke jenis celana panjang (aneka model).

Lalu mengapa mengambil kasus "Tanah Batak"? Alasannya, sederhana saja, karena kisah ini berdasar pada pengalaman pribadi semasa kanak-kanak sampai remaja di Tanah Batak sana. Tahun 1960-an sampai 1970-an. 

Karena pengalaman pribadi, maka sudah pasti pendekatannya studi kasus. Tepatnya studi kasus di kampung saya sendiri, Kampung Pardolok (pseudonim), terletak di satu titik di tepi jalan raya trans-Sumatera pada ruas Parapat-Balige.

Dilihat dari posisi geografisnya, Kampung Pardolok tidaklah udik-udik amat. Sekurangnya anak-anak kampung ini pada masa itu tiap hari sudah menyaksikan aneka kendaraan bus, truk, jeep, sedan, sepeda motor, dan skuter melintas di jalan raya. Dibanding misalnya anak-anak Parsoburan di pegunungan sebelah timur Balige sana.

Sampai paruh pertama 1970-an, model pakaian untuk perempuan di kampung ini masih tradisional, khususnya penutup pinggang ke bawah. Sehari-hari mereka mengenakan sarung, umumnya sarung katun produksi industri tenun Balige. Atau mengenakan bawahan rok sebatas bawah lutut, atau rok terusan, juga sampai bawah lutut.

Untuk bekerja di sawah, karena mata pencaharian utama warga desa adalah bertani, kaum perempuan lazim mengenakan bawahan rok sampai bawah lutut. Sering juga dilapis dengan bebatan sarung, khususnya saat kerja panen padi.

Untuk ke pesta atau acara adat, kaum ibu mengenakan kebaya lengkap, dengan selempang ulos Batak yang jenisnya (motif) disesuaikan dengan status sosialnya dalam struktur "Dalihan Na Tolu" pesta. Apakah hula-hula (pemberi isteri), dongan tubu (saudara sedarah)atau boru (penerima isteri). Sedangkan anak gadis boleh mengenakan stelan rok-blus atau terusan, atau kebaya, dengan atau tanpa selendang ulos.

Kaum ibu mengenakan sarung itu sesuatu yang menakjubkan juga untuk saya waktu itu.

Pasalnya, kalau buang air kecil di pinggir jalan, mereka cukup berdiri melebarkan kuda-kuda sambil menarik bagian kepala sarung agak ke depan, lalu "currrr ...", air seni terjun ke bawah. (Waktu itu saya sungguh takjub, bagaimana cara melepas celana dalamnya?).

Kendati belum mengenakan celana panjang, setempat sering disebut "slek" (slack, celana panjang perempuan), kaum perempuan Kampung Pardolok pada awal 1960-an sebenarnya tidak terlalu asing dengan jenis bawahan itu. 

Warga kampung itu berkebun nenas dan sebagian hasilnya dijual di tepi jalan. Umumnya pembeli adalah warga Sumatera Timur (Siantar, Tebingtinggi, Medan) yang lewat berkendara dari situ. Ada saja konsumen perempuan yang terlihat mengenakan "slek". Biasanya kaum ibu berbisik-bisik, "Lihat, macam laki-laki saja ibu itu."

Selain itu, kaum ibu tiap hari Sabtu umumnya pergi ke pasar Tigaraja, Parapat. Karena kota ini tujuan wisata, banyak pula hotelnya, maka lazim terlihat wisatawan perempuan dari Sumatera Timur hilir-mudik di sana dengan stelan celana panjang.

Keadaan mulai berubah pada akhir 1960-an seiring mulai masuknya bisnis "burjer" (buruk-buruk ni Jerman, pakaian bekas Jerman), atau disebut juga "rombengan" di pasar lokal, khususnya Tigaraja. Itulah "burjer" itu muncul karena pakaian bekas itu diasosiasikan dengan sumbangan pakaian bekas yang dikirimkan warga Jerman lewat lembaga gereja di Tanah Batak.

Bisnis "rombengan" itu kemudian memberikan pilihan beragam pada kaum perempuan untuk pakaian bawahan: aneka jenis rok dan atau aneka jenis celana panjang (slack).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2