Mohon tunggu...
Felix Tani
Felix Tani Mohon Tunggu... Petani dan Peneliti Sosial

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Kita, Jokowi, Anies dan Politik "Baperisme"

22 Februari 2018   08:18 Diperbarui: 22 Februari 2018   08:44 0 7 2 Mohon Tunggu...
Kita, Jokowi, Anies dan Politik "Baperisme"
blog.carreirabeauty.com

Kita warga Indonesia, suka atau tidak,  agaknya kini sedang mengalami "politik baperisme" (bawa-perasaan-isme) Inilah politik emosional  dengan pijakan identitas sosial, tepatnya sentimen primordial yang subyektif.

Gejalanya simple. Ketika seseorang mendukung  misalnya calon kepala daerah karena sesuku, atau seagama, atau  se-ras, atau segolongan, itulah baperisme.  

Lawannya adalah  politik rasionalisme  yang berpijak pada obyektivitas. Denfan rasionalisme,  seseorang   mendukung calon kepala daerah  karena alasan kapabilitas sosial, semisal integritas, kompetensi, dan profesionalitas.

Maka berbeda dari politik rasionalisme yang adu visi dan program, isu-isu yang diangkat  dalam politik baperisme untuk mendongkrak elektabilitas politik seseorang, adalah isu-isu "baper". Isu-isu yang bisa memanaskan bahkan membakar perasaan atau emosi.

Fokusnya untuk  mempersepsikan seorang tokoh pilitik sebagai "sesama yang harus didukung", atau bahkan  "korban yang harus dibela".  Di situ seseorang dipersepsikan sebagai "kita", maka wajib didukung.

Jakarta hari ini adalah contoh kisah sukses politik baperisme. Di ibu kota negara ini,  politik identitas   telah berhasil mendudukkan Anies-Sandi di kursi Gubernur-Wagub Jakarta.

Baperisme itu kentara  dipertahankan sebagai bingkai eksistensi Pak Anies, agaknya dalam rangka proyeksi  capres atau sekurangnya cawapres tahun 2019 nanti. Karena itu, bukan kebetulan jika  pidato pertama Pak Anies selaku Gubernur Jakarta  menawarkan sebuah isu "primordial besar", yaitu  pribumi sebagai tuan di rumah sendiri.

Pribumi di situ agaknya dikonotasikan dengan "golongan lemah". Maka di Jakarta , isu "pribumi tuan rumah" itu tampil  berupa program-program "pembangunan yang berpihak pada golongan lemah". Sebut misalnya  penempatan PKL di tengah jalan, "pembiaran" okupasi PKL atas trotoar, pemberian ruang gerak untuk becak, dan  rusunami DP 0% Klapa Village.

Dalam   politik baperisme,  setiap isu baper yang potensil  mengungkit dukungan sentimental pasti langsung dikapitalisasi. Contoh terbaru adalah  "insiden" pencekalan Pak Anies untuk mendampingi Pak Jokowi saat penyerahan piala kepada Persija,  pemenang kompetisi sepak bola Piala Presiden 2018, hari Sabtu (17/2/18) lalu.

Para penganut baperisme tidak memerlukan penjelasan objektif atas "insiden" itu.  Mereka sudah punya penjelasan subyektif sentimental sendiri. Pokoknya, menurut mereka,  insiden itu disengaja "sebagai upaya merendahkan nilai Pak Anies selaku balcapres pesaing Jokowi tahun 2019".

Maka insiden itu segera digoreng menjadi "modal politik baperisme". Dibangunlah opini bahwa Pak Anies merupakan  "korban" dari "kezaliman" Jokowi (lewat ulah orang-orang di lingkarannya).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2