Felix Tani
Felix Tani profesional

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi highlight headline

Menyimak "Kuliah" Pak Jokowi tentang Tren Ekonomi Baru di Era Digital

22 September 2017   08:19 Diperbarui: 22 September 2017   21:20 2876 18 14
Menyimak "Kuliah" Pak Jokowi tentang Tren Ekonomi Baru di Era Digital
Sumber ilustrasi: setkab.go.id

Dua hari yang lalu, Rabu 20 September 2017, saya beruntung mendapat undangan mengikuti "kuliah umum" Presiden Jokowi. Topik kuliahnya: "Tren Ekonomi Baru di Era Digital". Topik yang sungguh seksi saat ini. Mengingat lagi mekar-mekarnya start-up bisnis berbasis digital yang menggerus pangsa bisnis konvensional.

Diadakan di Plenary Hall Jakarta Convention Center, kuliah Pak Jokowi menjadi keynote speech pada talkshow "Tren Ekonomi Baru di Era Digital", sebagai acara pembukaan Indonesia Business and Development Expo 2017 (20-23 September) yang diprakarsai Kementerian BUMN. Talkshow dipandu host Kompas TV yang lagi kondang cerdas, Rosiana Silalahi, dan disiarkan langsung.

Sebagai "mahasiswa" yang baik, saya sudah duduk manis pukul 08.00 WIB di Plenary Hall JCC, dua jam sebelum Jokowi hadir tepat waktu. Sayang, saya tidak bisa duduk di barisan depan. Hanya kebagian kursi di area tengah, tempat yang disediakan untuk petani. Cukup jauh dari panggung, tapi itu juga sudah syukur banget.

Begitu giliran Pak Jokowi tiba untuk bicara, saya segera siapkan aplikasi di henpon untuk mencatat. Dan inilah catatan kuliah yang saya buat dua hari yang lalu.

Pak Jokowi menyampaikan empat tren ekonomi baru era digital yang perlu dicermati, khususnya oleh para pelaku bisnis konvensional. Empat tren yang harus diantisipasi, kalau tidak ingin habis tergerus.

Presiden Jokowi Memaparkan 'Tren Ekonomi Baru di Era Digital' dalam Pembukaan IBD Expo, 20 September 2017 di Plenary Hall JCC (Foto: Dokpri)
Presiden Jokowi Memaparkan 'Tren Ekonomi Baru di Era Digital' dalam Pembukaan IBD Expo, 20 September 2017 di Plenary Hall JCC (Foto: Dokpri)

Pertama, tren pergeseran perniagaan dari pola offline ke pola online. "Saya di istana kalau mau makan pecel tinggal klik klik klik GoFood, tiga puluh menit pecel datang. Kalau mau makan nasi Padang tinggal klik klik klik, nasi Padang datang," cerita Pak Jokowi.

Intinya Pak Jokowi mengingatkan, lewat aplikasi e-commerce sekarang konsumen tidak perlu lagi mendatangi tempat jual barang, tapi barang yang mendatanginya. Kalau tren ini tidak diantisipasi, maka pertokoan konvensional akan habis tergerus start-up berbasis digital yang cepat dan ekspansif.

Tren kedua, kata Pak Jokowi, "Sekarang orang belanja pengalaman, bukan sekadar belanja barang. Beli makanan, langsung upload di facebook, instagram, atau youtube. Bukan barang bermerek yang dikejar generasi milenial, tapi pengalaman yang seru."

Pada dasarnya, Pak Jokowi mewanti-wanti pengusaha, bahwa konsumen kini lebih mengutamakan pengalaman dalam konsumsi barang dan jasa. Implikasinya, pelaku bisnis perlu memberi muatan "nilai pengalaman" yang eksklusif pada produknya.

Ketiga, Pak Jokowi mengingatkan adanya tren "sharing economic". "Sekarang mau naik mobil, tak perlu beli, bisa pakai mobil orang dengan memesan GoCar. Mau usaha, tak perlu bangun kantor, lewat aplikasi bisa sewa satu meja kerja di kantor rame-rame."

"Ada perubahan pola kerja," kata Pak Jokowi. Sekarang berkembang usaha-usaha sampingan yang menggerus pangsa pasar usaha besar. Caranya antara lain dengan menguangkan sarana yang menganggur. Misalnya mengontrakkan kamar kosong, menyewakan kendaraan, dan lain-lain. Itu semua dilakukan lewat aplikasi e-commerce. Ini harus diantisipasi perusahaan-perusahaan besar.

Lalu tren keempat, sedang terjadi perubahan struktur pengeluaran. "Hati-hati pengusaha. Pola konsumsi sedang berubah. Maka pola produksi juga harus berubah," tegas Pak Jokowi.

Pak Jokowi mencobtohkan, dulu orang keluar duit untuk beli buku, majalah, atau koran. Sekarang semua itu tersedia gratis di internet. Dulu nonton harus bayar, sekarang nonton gratis di internet. Ini semua akan berdampak pada sisi produksi.

"Sekarang gak ada lagi toko DVD, semua sudah streaming di internet. Tapi di segmen lain terjadi pertumbuhan produksi yang tinggi. Misalnya travel dan wisata," Pak Jokowi memberi contoh bagaimana teknologi digital telah menghela pertumbuhan di bidang tersebut.

Pak Jokowi sangat mendukung aplikasi teknologi digital untuk mendorong pertumbuhan dan meningkatkan daya saing bisnis anak negeri. Karena itu secara khusus dia sangat mengapresiasi dan mendukung maraknya start-up berbasis digital yang digerakkan anak-anak muda generasi milenial.

Kuliah Pak Jokowi kali ini memang dikuatkan dengan tampilnya para pelaku start-up berbasis digital yang sudah kondang. Antara lain para CEO dari GoJek, Warteg Bahari, Traveloka, Tokopedia, Kopi Tuku, dan Investree. Mereka semua berbicara untuk menginspirasi ribuan pendengar di JCC.

Secara khusus, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis digital, Pak Jokowi menegaskan perlunya memberi keleluasaan untuk berekperimen kepada masyarakat untuk mendorong inovasi.

"Caranya bagaimana? Caranya start up jangan dicekik, jangan terlalu banyak diatur. Peraturan sekarang terlalu banyak, jadi menghambat inovasi. Saya sendiri pusing dengan banyaknya peraturan. Harus dipangkas, deregulasi untuk menghilangkan hambatan inovasi," tegas Pak Jokowi yang disambut tepuk tangan hadirin.

Untuk mendukung pertumbuhan e-commerce, Pak Jokowi menegaskan pemerintah sedang menggenjot pembangunan infrastruktur komunikasi. Targetnya Indonesia dari barat, tengah, sampai timur terhubung oleh komunikasi digital dengan kualitas yang sama. "Tapi keamanan siber juga harus dijamin. Agar tidak terjadi pemcurian dan penyalah-gunaan data konsumen," tegas Pak Jokowi menutup kuliahnya yang sangat inspiratif.

Sebenarnya saya sangat ingin selfian dengan Pak Jokowi. Tapi, setelah pemukulan gong membuka resmi IBD Expo, protokoler langsung mengawal beliau bersama Menteri BUMN Ibu Rini, Menko Perekonomian Pak Darmin, dan Menkominfo Pak Rudiantara berkeliling eksklusif meninjau pameran. Ya sudah, mungkin masih ada kesempatan lain.***