Felix Tani
Felix Tani profesional

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Sosiologi Pekuburan, Memberi Makan Arwah

19 September 2017   19:11 Diperbarui: 19 September 2017   22:17 669 2 2

Hari Minggu (17/9/2019) yang lalu, di pekuburan Kampung Kandang Jakarta Selatan,  saya menyaksikan kegiatan ziarah yang melemparkan ingatan ke pengalaman masa lampau di Tanah Toba.

Ada satu keluarga Batak Toba dengan tiga generasi, nenek berikut anak-anak serta cucu-cucunya, menziarahi makam kakek para cucu. Saya tahu begitu karena melihat data nisan dan pembicaraan mereka.

Yang menarik, ketika berziarah itu, mereka makan bersama dan ada sepiring sajian diletakkan di atas makam. Inilah yang mengingatkan saya pada pengalaman masa lalu.

Memberi makan arwah tetua, atau leluhur, begitu istilahnya. Apakah arwah bisa makan dan minum?  Entahlah.

Tapi mungkin bisa menyimak pengalaman pribadi tahun 1970an di Toba sana. Keluarga besar saya, tentu dengan saya juga, berziarah ke makam kakek, sekaligus memberi arwahnta makan dan minum.

Maka disajikanlah makanan kesukaan kakek saya di depan kuburnya. Sepiring nasi putih pulen, "sira pege manuk" (ayam panggang bumbu cabe, jahe, bawang merah, dan garam mentah), dan "tombur ihan" (ikan batak bumbu sambal  kemiri, cabe, bawang, andaliman, garam). Lalu dilengkapi segelas kopi manis kental dan sebatang rokok kretek dinyalakan. (Untuk diketahui, kakek saya meninggal sakit paru-paru akibat merokok).

Sajian yang sungguh nikmat. Apakah arwah kakek saya datang makan? Kata nenek saya, dan kakek nomor 4, yang punya indera keenam, "kakek" saya memang datang dan menghabiskan seluruh hidangan sampai tandas. Plus menghisap rokok kesukaannya sambil menyeruput kopi hitam.

Kecuali rokok yang menjadi pendek karena terbakar, makanan dan kopi masih utuh secara kuantitas. Kata kakek nomor 4, tanda kopi sudah diminum arwah kakek, suhunya langsung dingin. Dan memang kopi itu sudah dingin. Tapi kuburan itu ada di punggung Bukit Barisan dengan suhu udara sekitar 20 derajat Celsius. Air panas cepat dingin pada suhu udara terbuka serendah itu.

Tapi saya dulu tak pernah mempertanyakan kesaksian nenek dan kakek nomor 4 tentang arwah kakek saya yang makan nasi dan lauk-pauknya. Sebab pada ujungnya, kami juga yang menghabiskan makanan itu. Dan memang begitulah kebiasaannya. Makan bersama di kuburan.

Makan bersama di kuburan adalah kegembiraan dan kenikmatan tersendiri. Tapi itu fungsi yang manifes, teralami dan teramati di permukaan. Yang lebih mendasar sesungguhnya adalah fungsi latennya, yang tak terungkap ke permukaan.  Tapi terasakan sebagai pengalaman nyata.

Fungsi laten memberi makan arwah sekaligus makan bersama di kuburan itu adalah penguatan kembali ikatan emosional dan solidaritas antar anggota keluarga atau kerabat yang ditinggalkan mendiang.

Dengan makan bersama di makam tetua, maka ikatan emosi dan solidaritas itu telah dinyatakan dan diperbaharui kembali di hadapan "semangat" (spirit) mendiang yang diyakini hadir di tengah keluarga yang berziarah. Itulah makna mendasar dari ziarah makan pada orang Batak Toba.***